Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1873-1897): Hidup Sederhana - Hidup Katolik

St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1873-1897): Hidup Sederhana

Rabu, 25 Mei 2011 14:03 WIB
St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1873-1897): Hidup Sederhana
St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus di Paroki Menteng, Jakarta Pusat. [kanan]

Kesederhanaan dan keindahan hidup Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus jelas terlihat pada fisik bangunan dan pelayanan Paroki Santa Theresia, Menteng, Jakarta Pusat.


Gereja ini mengaplikasikan teknologi pada zamannya berupa bangunan gereja tanpa tiang-tiang di dalamnya. Walaupun dibangun secara sederhana, namun tiga roseta, lukisan patri seperti mawar yang terdapat pada sisi gereja memunculkan keindahan tersendiri.

Di bagian depan pintu utama gereja ada roseta St Theresia, di sebelah kanan ada roseta St Maria, dan di sebelah kiri ada roseta St Yosef.

Pastor Paroki St Theresia, Albertus Hani Rudi Hartoko SJ, menyadari bahwa Gereja St Theresia diberkati dengan tempat yang terjangkau bagi banyak orang, parkir bisa di banyak tempat, dan setelah Misa ada banyak lokasi yang bisa dikunjungi entah itu untuk rekreasi, belanja, jalan-jalan, dan sebagainya. Harapannya, sebagaimana banyak orang mendapat penghiburan rohani dari St Theresia, Gereja St Theresia pun bisa memberikan hiburan rohani bagi setiap orang yang datang.

Jalan sederhana

Ketika Theresia dilahirkan pada 2 Januari 1873 di Kota Norman, Alençon, Perancis, ayahnya Louis Martin memasuki usia kelima puluh tahun. Theresia adalah bungsu dari sembilan bersaudara. Namun, ia telah kehilangan empat kakaknya. Keempat kakaknya yang masih hidup semuanya perempuan. Pada 1877, ibunya Zélie Guerin meninggal pada umur 46 tahun akibat kanker payudara.

Kehidupan rohaninya semasa kecil dibentuk oleh kakaknya, Paulina. Kakaknya menyusun sebuah buku kecil dengan warna tinta berbeda, berisi persembahan dan doa-doa harian. Itulah cara sederhana yang ditawarkan kakaknya sebelum Theresia sampai pada salah satu hari terpenting dalam hidupnya, yaitu komuni pertama pada 8 Mei 1884.

Kehidupan rohani Theresia juga terbangun lewat surat-menyurat dengan Pastor Almire Pichon SJ. Surat pertama Pastor Pichon merupakan surat balasan karena Theresia meminta doanya saat akan menerima komuni pertama. Kini, lebih dari seribu surat yang ditulis Theresia kepadanya telah hilang. Kelak, saat mendekati kematiannya, Theresia mengatakan bahwa ia menulis surat kepada Pastor Pichon selama di Karmel paling sedikit dalam sebulan 110 surat.

Akhir Mei 1887, Theresia meminta izin ayahnya untuk masuk biara. Masalahnya, ia terlalu muda. Ia pergi ke Roma bersama ayahnya, dan menemui Paus Leo XII untuk mendapat izin khusus masuk biara. Hingga akhirnya, ketika umurnya 15 tahun, 9 April 1888, ia masuk Biara Karmel di Liseux. Setelah ditunda beberapa bulan, Theresia masuk masa novisiat pada Januari 1889. Selama dua tahun (1889-1891), ia bekerja di kamar makan bersama Suster Paulina. Pada Februari 1891- Februari 1893 ia melayani di sakristi.

Ia memilih “jalan kecil” untuk mencapai kesempurnaan hidup berdasarkan ajaran Kitab Suci, yaitu hidup layaknya seorang anak kecil, penuh cinta, dan iman pada Allah, serta penyerahan diri yang total dengan gembira hati. Demi cita-cita itu, ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban sehari-hari di biara dengan penuh tanggung jawab.

Ketika membaca Kitab Suci, Theresia sangat perhatian dan peka akan Sabda Allah. Ia selalu mencatat ayat-ayat yang mengesan. Tak menjadi soal baginya, walaupun ia sudah berulangkali mencatatnya. Salah satu ayat kesukaannya adalah Matius 12:48-50, “Yesus bertanya: Siapakah ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Theresia adalah salah satu santa pelindung misi, bukan karena ia pernah pergi ke banyak tempat untuk mewartakan Injil, melainkan karena cintanya yang besar pada misi dan doa-doa serta surat-surat yang ia berikan untuk mendukung para misionaris.

Terlibat dalam masyarakat

Keterbukaan, keramahtamahan, dan kemurahan pelayanan merupakan semangat St Theresia yang bisa dirasakan di paroki ini. Hal itu tampak dari jadwal Misa yang cukup banyak. Misa harian tiga kali: pukul 06.00, 07.00, dan 17.30. Karena semakin banyak umat yang luber di luar gereja saat Misa, Misa Minggu diadakan lima kali: pukul 06.00, 07.30, dan 09.30, serta sore pukul 17.00 dan 19.00. Misa pukul 11.30 adalah Misa untuk komunitas expatriate yang dilangsungkan dalam bahasa Inggris.

Bagi Pastor Hani, dinamika hidup rohani akhirnya tidak hanya untuk kesucian diri sendiri, melainkan haruslah bersifat misioner dan sosial layaknya St Theresia, yakni terlibat dalam hidup bermasyarakat. Tidak cukup hanya rajin ke gereja.

“Tentu saja baik bahwa kita mengangkat tangan memuji Tuhan, namun lebih baik lagi setelah itu, kita mengulurkan tangan bagi sesama,” ujarnya.

Di balik nama Theresia, umat Paroki St Theresia Menteng menemukan nilai-nilai yang bisa memberi inspirasi bagi hidup sehari-hari: terbuka, hening, elegan, rapi, empati, simpatik-ramah, inspiratifinovatif, dan aman.


Penulis: Benny Wetty SJ



Perawan dan Pelindung Karya Misi


Di Lisieux, Perancis pada 30 September 1897, seorang suster Karmelit berusia 24 tahun terbaring dalam kondisi amat lemah. Akhirnya, ia wafat karena serangan TBC. Nama lengkapnya adalah Marie-Françoise-Thérèse Martin. Banyak orang mengenalnya sebagai Theresia. Ia mengerjakan sangat sedikit hal dalam hidupnya. Bahkan, salah seorang suster mengatakan, “Apa yang akan ibu superior tulis tentang dirinya saat kematiannya dalam laporan yang akan ia buat kepada komunitas?”

Satu tahun setelah kematiannya, autobiografinya dipublikasikan, The Story of a Soul. Penerbitan buku hariannya itu membuka mata banyak orang. Dikisahkan bagaimana pergulatan hidupnya menghadapi cobaan sehari-hari dan bagaimana Allah dialaminya sebagai yang selalu berbelas kasih dan bermurah hati, serta maharahim.

Sejak itu, orang berdevosi kepadanya. Semakin hari semakin banyak, karena mukjizat yang terjadi melalui perantaraannya. Selama Perang Dunia I, pilot-pilot Perancis membawa fotonya di dalam pesawat untuk meminta perlindungan darinya.

Kurang dari 30 tahun, pada April 1923, Paus Benediktus XV menyatakannya sebagai Beata, dan pada 1925, Paus Pius XI mengangkatnya sebagai Santa. Tanggal 1 Oktober dipilih sebagai hari perayaan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, perawan dan pelindung misi. St Pius X menyebutnya sebagai salah satu santa terbesar pada zaman modern.

Pesannya kepada kita, apa pun yang terjadi percayakanlah dirimu kepada Tuhan seperti seorang kanak-kanak kepada ibunya.


Penulis: Benny Wetty SJ




Kunjungan: 3271
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com