Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Setelah 35 Tahun: Meremajakan Pastoral Keluarga - Hidup Katolik

Setelah 35 Tahun:
Meremajakan Pastoral Keluarga

Minggu, 10 April 2011 19:58 WIB
Setelah 35 Tahun: <br>Meremajakan Pastoral Keluarga
HIDUP/Johannes Sutanto de Britto
Bincang-bincang buku Pedoman Pastoral Keluarga di Keuskupan Agung Jakarta

“Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara yang tiada tara adalah keluarga.”


Syair lagu dari film “Keluarga Cemara” ini mengumandang syahdu pada acara bincang-bincang situasi pastoral keluarga di Jakarta dengan tema “Panggilan dan Perutusan Keluarga Katolik” di Aula Penerbit OBOR Jakarta, Minggu, 13/3.

Hadir sebagai narasumber, yaitu Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ Pastor Ignasius Tari MSF dan psikolog Catherina D.M.L. Martosudarmo MSc.

Acara bincang-bincang dihadiri perwakilan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) dari berbagai paroki di KAJ. Sayangnya, peserta bincang-bincang didominasi oleh mereka yang usianya sudah tidak muda lagi. Ini fakta sekaligus tantangan bahwa situasi pastoral keluarga dewasa ini, dalam arti tertentu dan tak usah ditutup-tutupi, memang perlu diremajakan. Mendesaknya peremajaan pastoral keluarga ini tentu saja berdasarkan pada perkembangan dan tuntutan zaman.

Pelaksanaan pastoral keluarga di segala tingkat harus mulai berani merangkul para pasutri dan profesional muda. Soal mau tidaknya, itu bergantung pada model pendekatan yang dilakukan.

Pada bincang-bincang tersebut, terkuak bahwa panggilan Gereja sebagai Mater et Magistra (ibu dan guru), mengemban tugas dan tanggung jawab untuk mendampingi, menyertai, dan membimbing keluarga-keluarga kristiani dalam perjalanan perkawinan mereka.

Sebagai ibu, Gereja dipanggil untuk memberikan bantuan dan asuhan bagi keluarga dalam perjuangan hidupnya, terutama dalam menghadapi berbagai problematika hidup. Sebagai guru, Gereja dipanggil untuk memberikan pengarahan dan pedoman bagi keluarga Katolik dalam menghayati panggilan dan perutusannya, terutama dalam keadaan zaman ini.

Buku Pedoman Pastoral Keluarga yang diterbitkan oleh Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) pada 1975, sudah tidak lagi menjawab beberapa persoalan hidup perkawinan dan berkeluarga zaman ini.

Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia 2008 yang mendesak diterbitkannya Pedoman Pastoral Keluarga yang baru, serasa angin segar bagi geliat pastoral keluarga di Indonesia. Setelah 35 tahun lebih, Gereja baru tersadar akan rapuh dan keringnya buku pedoman yang lama.

Pastoral Keluarga KAJ

Pastor Ignatius Tari MSF mendapati empat tantangan khas dalam pastoral keluarga di Keuskupan Agung Jakarta. Pertama, tuntutan ekonomi. “Banyak orang berkata, banyak uang beredar di Jakarta, tetapi sebetulnya pada saat yang sama, bisa dikatakan salah satu masalah di Jakarta adalah kemiskinan. Tuntutan ekonomi mengharuskan orang untuk bekerja dari pagi sampai malam untuk memenuhi tuntutan dasar ekonomi. Kehidupan keluarga kurang mendapat perhatian,” tegasnya.

Kedua, irama pekerjaan yang sangat padat. Hal ini bisa disaksikan di jalan. Banyak orang menghabiskan waktu di jalan. Akibatnya, banyak orang tidak sungguh menikmati hidup.

Ketiga, kemacetan lalu lintas yang menyebabkan orang tertekan secara psikologis. Bentuk konkretnya, orang tidak hanya marah di jalan, tetapi kemarahan di jalan itu bisa dibawa ke rumah.

Keempat, menyangkut pergeseran tata nilai yang dianut masyarakat. Secara konkret, hal ini bisa terekam dari perbincangan sederhana ketika pasangan ditanya soal tujuan, hakikat, maksud, dan inti dasar perkawinan. Kebanyakan dari mereka tidak tahu.

Keempat tantangan khas tersebut akhirnya mengerucut pada persoalan yang paling mendasar, yaitu terkait relasi. Relasi suami-istri yang rusak biasanya berpengaruh pada relasi orangtua dan anak, dan relasi orangtua dengan masyarakat. Oleh sebab itu, Pastor Tari setuju dengan pendapat bahwa segala sesuatu itu bermula dari keluarga. Keluarga itu pertama dan segalanya. “Kalau mau menciptakan masyarakat yang sehat, pertama-tama jadikan keluarga itu sehat,” tutur pastor kelahiran 9 Mei 1975.

Menurut Pastor Tari, tidak ada perkawinan yang tanpa masalah. Bagaimanapun, laki-laki dan perempuan itu dua orang yang secara mendasar berbeda dari latar belakang pribadi, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya.

Perbedaan ini disatukan dalam perkawinan, dan karena itu, Pastor Tari selalu punya pengandaian, tidak ada perkawinan yang kebal terhadap masalah. Hampir semua perkawinan, dalam arti tertentu, ada masalah entah besar atau kecil. “Masalah menjadi makin rumit dan meruncing karena ketidakdewasaan pasangan untuk memberikan sikap yang tepat terhadap masalah yang muncul,” tegas dosen FKIP Unika Atma Jaya Jakarta ini.

Perlu kreatif

Senada dengan Pastor Tari, Maria Magdalena Marlina Sjafudin (61), konselor keluarga dari Paroki Kristoforus, mensinyalir bahwa ranking pertama dari berbagai persoalan keluarga bersumber pada persoalan ekonomi.

Sekitar 60% dari 70 pasutri yang selama ini datang, menurut istri A. David Kesumah ini, secara jelas memperlihatkan bahwa sumber utama di balik kerenggangan dan persoalan keluarga yang sering berbuntut pada perceraian, terletak pada soal tuntutan ekonomi yang meningkat, tanpa diimbangi pendapatan yang mencukupi.

Di peringkat kedua, konselor kelahiran Pangkal Pinang, 5 Desember 1950 ini menempatkan soal keterbukaan dan saling menghargai. Menurut tim doa dan konselor Shekinah ini, tiap pasangan terbiasa mempertahankan egonya, tanpa mau terbuka dan saling menghargai.

Pendapat serupa diungkapkan oleh Maria Retnayu Syahesti (46), Sekretaris Komisi Kerasulan Keluarga KAJ. Semangat keterbukaan dan saling menghargai dirumuskannya dalam kata komunikasi. Kadang orang dengan gampang mengatakan, yang penting dalam hidup berkeluarga itu komunikasi, tetapi itu tidak mudah.

Relasi dan komunikasi personal serupa perlu juga dikembangkan dalam pendampingan keluarga di paroki-paroki agar kegiatan-kegiatannya mengena dan menyapa. “Pada periode 2004-2007, saya mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Cilandak, Jakarta Selatan. Sejak terjun di kegiatan pastoral keluarga, saya harus kreatif dengan program yang menyapa. SKK tidak hanya mengurus Kursus Persiapan Perkawinan,” tegas ibu kelahiran Jakarta, 12 Januari 1965.

Ia bersama suaminya Paulus Ari Birowo (47) dan tim di SKK Paroki Cilandak, merancang kegiatan kreatif, seperti Misa hari ulang tahun perkawinan, konseling keluarga, dan dialog pasutri. Bercermin dari pengalamannya, ia berharap agar para ketua SKK di paroki tidak pasif. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di paroki untuk menggairahkan pastoral keluarga.


Johannes Sutanto de Britto




Kunjungan: 1392
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com