Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Semara Duran Antonius:Dirjen Bimas Katolik - Hidup Katolik

Semara Duran Antonius:
Dirjen Bimas Katolik

Senin, 20 Juni 2011 18:33 WIB
Semara Duran Antonius:<br>Dirjen Bimas Katolik
[HIDUP/Anton Sumarjana]
Semara Duran Antonius

Dirjen Bimas Katolik yang baru, Semara Duran Antonius, bertekad terus mengembangkan program kemitraan yang terbukti kian mendekatkan pemerintah dengan Gereja Katolik di Indonesia.


Kedekatan pemerintah dan Gereja itu penting. Demikian, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, Semara Duran Antonius, menegaskan kembali keyakinannya. Kedekatan itu mewujud dalam berbagai program kemitraan antara Ditjen Bimas Katolik dengan kalangan hirarki dan awam yang merupakan unsur dalam Gereja Katolik Indonesia.

Ditemui di Sekolah St Theresia Depok, Senin 16 Mei 2011, pria kelahiran Flores Timur ini kembali menegaskan tekadnya itu. “Kami bertugas melayani masyarakat. Kami tidak bisa bekerja sendiri, tapi harus bekerjasama dengan Gereja. Itu hukumnya!”

Sejak pendahulu

Ia berkisah, Ditjen Bimas Katolik merintis jalinan kemitraan ini sejak kepemimpinan Sukotjo Atmojo, lalu ke Stef Agus. Anton Semara yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Ditjen Bimas Katolik ikut membidani program kemitraan ini. Setelah dilantik secara resmi sebagai Direktur Jenderal Bimas Katolik pada 5 Mei 2011 lalu, ia menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk terus melanjutkan program kemitraan, karena terbukti mampu menciptakan keharmonisan antara pemerintah dan Gereja.

Ia tidak menampik kenyataan bahwa pada masa lalu hubungan antara pemerintah dan Gereja Katolik tidak semanis saat ini. Ia mengakui, ada kesan kurang baik yang melekat dalam diri aparat pemerintah, yang mengusik keharmonisan itu. “Kami mencari orang untuk diberi bantuan saja susah. Padahal, duit ada,” ungkapnya sambil tertawa.

Kini, kondisinya sudah jauh berbeda. Program kemitraan yang dirintis para pendahulunya membuahkan kepercayaan dan harapan dari masyarakat. Bimas Katolik mewujudkan kemitraan itu dalam berbagai proyek bantuan dana. “Saya bilang ke karyawan kalau kemitraan itu sampai lepas, berarti kecelakaan, itu kesalahan pertama bagi kami.”

Konsepnya jelas. Menurut Anton Semara, dalam berbagai proyek bersama antara pemerintah dan Gereja, pemerintah tidak akan masuk ke wilayah ajaran iman. “Iman dan taqwa adalah wewenang Gereja dan itu tidak bisa diganggu oleh siapa pun,” tegas pria dengan gaya bicara lancar dan terbuka ini.

Ditjen Bimas Katolik menjalankan tiga program, dengan dana yang bersumber pada APBN. Yaitu, program yang bersifat dukungan berupa manajemen internal, program urusan agama, dan program pendidikan agama dan keagamaan.

Dua program terakhir, yaitu program urusan agama maupun pendidikan agama dan keagamaan langsung bersentuhan dengan masyarakat, meliputi urusan-urusan pembangunan tempat ibadat, pengadaan, pembinaan guru agama, katekis, pengadaan buku pelajaran agama, bantuan untuk sekolah tinggi pastoral, dan kegiatan keagamaan.

Biasanya bantuan dana itu langsung diberikan kepada yang memerlukan. Syaratnya, demikian Anton Semara, pihak yang membutuhkan bantuan dana harus mengirimkan proposal kepada Bimas Katolik. “Kami ada tim penelaah yang bertugas mempelajari permohonan-permohonan dari masyarakat,” terangnya.

Struktur Ditjen Bimas Katolik sampai ke tingkat kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Dengan demikian, pengajuan proposal tidak harus disampaikan ke pusat di Jl M.H. Thamrin No 6, tetapi bisa diajukan ke pembimas daerah. “Kami menerima banyak permohonan, sehingga tim harus bijak memutuskan. Ada permohonan yang dikabulkan sesuai permintaan, ada juga yang kurang,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, permohonan harus mendapat pengesahan atau sepengetahuan pejabat Gereja setempat, misalnya uskup atau pastor paroki. “Ini soal pengamanan saja,” tegasnya.

Dalam soal permohonan dana, ia berpesan, janganlah Gereja merasa meminta-minta kepada Bimas. “Itu uang rakyat yang berasal dari pajak yang kita bayar. Kami itu penyalurnya.”

Justru dalam urusan penyaluran dana ini, pihak Bimas Katolik merasa perlu berhati-hati, supaya tidak mengesankan pemerintah mau ikut campur terlalu jauh dalam urusan Gereja. “Kalau ada kegiatan-kegiatan Gereja dalam tataran kemitraan, kami bertanya apa yang bisa kami lakukan,” imbuhnya.

Jiwa guru

Anton Semara, lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil dengan pangkat II/b pada 1 Maret 1979 di Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia. ”Saya lebih senang mengajar di depan kelas. Sewaktu jadi pegawai, belum ada jabatan apa-apa, saya mengajar. Pulang kerja pukul empat sore, saya mengajar sampai pukul tujuh malam. Pulang ke rumah tinggal sisa-sisa tenaga,” tuturnya mengenang.

Meski berjiwa guru, selama 31 tahun berkarir, Semara justru lebih banyak mengurus keuangan. Ia mengaku, 75-80 persen ruang lingkup pekerjaannya bersentuhan dengan uang. Di antaranya, sebagai Pjs Kasubbag Anggaran dan Pjs Kabag Keuangan. Hingga diangkat sebagai Sekretaris Ditjen Bimas Katolik (25 Januari 2006), urusannya tak lepas dari uang.

Sebagai Dirjen baru, meskipun sempat menjadi Pjs selama setahun, suami Maria Ema Duli ini mengaku tidak mempunyai mimpi muluk-muluk. “Sederhana saja. Saya ingin menjadi teladan yang baik di tengah masyarakat. Kehadiran kami memang untuk itu, dan semua pegawai Bimas Katolik harus menyadari hal itu,” tegas Semara.

Ia sendiri, selain berkarya di pemerintahan, juga sempat berkiprah di parokinya, St Herkulanus Depok. Ia dikenal sebagai dirigen handal. “Dirigen yang dirjen,” demikian umat mengenalnya sekarang.

Selain itu, Anton Semara mengemban kepercayaan sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus yang mengelola Sekolah St Theresia, dari tingkat KB sampai SMP. “Ini periode kedua kepengurusan saya,” pungkasnya.

Semara Duran Antonius

Lahir : Flores Timur, 24 Mei 1953
Istri : Maria Ema Duli (56)
Anak:
• Willy Brodus Eko B (25)
• Marcelinus Kebesa Raya Tokan (Alm)
• Embrensia Novita Kewa Kuma (14)

Pengalaman Jabatan:
• Pjs Kasubbag Anggaran (11 Agustus 1987)
• Pjs Kabag Keuangan (18 Februari 1992)
• Kabag Penyusunan Program dan Peraturan Perundang-undangan (23 Oktober 1998)
• Kabag Perencanaan dan Keuangan (27 Agustus 2001)
• Kasubdit Sarana Keagamaan Katolik (17 Juni 2004)
• Sekretaris Ditjen Bimas Katolik (25 Januari 2006)
• Direktur Jenderal (5 Mei 2011)


Anton Sumarjana




Kunjungan: 2089
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com