Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


St Yohanes Maria Vianney (1786-1859):Imam Bodoh, Tetapi Suci - Hidup Katolik

St Yohanes Maria Vianney (1786-1859):
Imam Bodoh, Tetapi Suci

Kamis, 23 Juni 2011 18:23 WIB
St Yohanes Maria Vianney (1786-1859):<br>Imam Bodoh, Tetapi Suci
[Erik B.W.]
Yohanes Maria Vianney

Walaupun Paroki St Yohanes Maria Vianney Cilangkap, Jakarta Timur belum memiliki bangunan gereja, tetapi benda-benda suci pendukung sudah dipersiapkan. Paroki ini memiliki dua patung ukuran besar dan sebuah relikwi santo pelindung.


Benda-benda suci tersebut ditempatkan di Aula Budi Murni, yang kini digunakan sebagai tempat Misa. Ada dua patung St Yohanes Maria Vianney berwarna krem; satu patung dalam posisi berdiri dan satu patung lainnya berlutut sedang berdoa.

Paroki ini juga punya relikwi yang diboyong pada 2008 oleh Pastor Ferdinandus Kuswardianto Pr. Ukurannya sangat kecil, kira-kira seujung kuku, relikwi ini ditempatkan tepat di depan patung Maria Vianney yang sedang berdoa.

Maria Vianney termashur sebagai pribadi yang rajin berdoa. Ia berdoa terus menerus tanpa kenal lelah. Umat paroki diharapkan mampu meneladani santo ini. “Banyak umat yang menggunakan patung dan relikwi itu sebagai sarana doa yang baik,” ujar Kepala Paroki Cilangkap, Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr.

Paroki yang terletak di pinggiran Ibu Kota ini sudah menghasilkan enam imam. “Selain itu, dua suster, dan yang masih pendidikan di seminari tercatat sembilan orang,” demikian Romo Hadi.

Pemenuhan kebutuhan akan imam, menurut Romo Hadi, merupakah tanggung jawab seluruh anggota Gereja secara umum. Mengikuti jejak Santo Yohanes Maria Vianney yang setia dalam doa adalah salah satu cara menjawab tantangan itu.

Paroki Cilangkap selalu membuka diri dan menawarkan kepada umat untuk bisa semakin setia dalam berbagai kegiatan doa dan mengikuti Ekaristi, walaupun di tempat yang masih belum memadai.

Dianggap remeh

Sejak kecil, Vianney sudah terbiasa dengan kerja keras dan berdoa berkat teladan orangtuanya. Dibandingkan dengan kelima saudaranya, ia memang terampil dan rajin bekerja, namun lamban dan bodoh. Ia baru bisa membaca pada usia 18 tahun. Ia sering diejek dan diremehkan karena kelambanan dan kebodohannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Vianney dan keluarganya mengalami perjuangan iman yang tidak sepele. Pergolakan di Perancis membuat umat Katolik berada dalam dilema, antara aman dengan ikut pemerintah yang berkuasa atau mengambil risiko kematian karena menentangnya. Keluarga Vianney tidak saja menentangnya, tetapi juga mengambil sikap berseberangan secara tegas dan sama sekali tidak mau berhubungan dengan penguasa.

Tahun 1799, Napoleon Bonaparte menjadi penguasa absolut Perancis. Ia memerdekakan Gereja sehingga Ekaristi kembali dapat dirayakan secara umum dan Sakramen Mahakudus dapat ditakhtakan di altar. Vianney pun setia melakukan visitasi Sakramen Mahakudus. Vianney yang telah berusia 18 tahun itu lantas merasa mantap untuk menjawab panggilan hatinya menjadi imam.

Sayangnya, Matius, ayahnya, tidak mengizinkan putranya masuk seminari. Selain karena tidak mampu membiayai, Matius juga sangat membutuhkan tenaga Vianney untuk bekerja di ladang. Maria, ibunya, tidak putus asa dan terus meminta izin suaminya untuk meluluskan pemintaan mulia anaknya itu. Akhirnya, Matius pun memberikan izin.


[
Umat berdoa di depan patung Yohanes Maria Vianney, (Erik B.W.)]

Pastor dari Ars

Perancis, sewaktu dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, sangat membutuhkan banyak tenaga yang akan dikirim ke medan pertempuran. Tak satu pun anggota masyarakat yang bisa menolaknya, termasuk para seminaris. Sayangnya, ketika harus berangkat, Vianney harus berpisah dengan teman-temannya karena sakit.

Pada 1812 Vianney kembali melanjutkan studi di Seminari Tinggi di Lyons. Di antara 250 seminaris yang ada, Vianney terkenal karena laku tapa, silih, rendah hati, dan permenungannya yang mendalam, meski dalam bidang akademis amat lemah. Ia sulit belajar dan menghafal. Walau telah berjuang sekuat tenaga, ia tidak pernah berhasil menguasai bahasa Latin. Sebab itu, ia dijuluki sebagai “Seminaris paling bodoh, namun paling saleh di Lyons”.

Karena pengetahuan akademisnya yang amat buruk, Vianney terancam dikeluarkan dari seminari. Vianney nyaris putus asa. Abbè Balley membimbing Vianney dan segera mengirimnya kembali untuk mengikuti ujian. Ujian diberikan dalam bahasa Perancis, dan ia dinyatakan lulus.

Kesalehan Vianney didengar uskup setempat. Bapa Uskup bertanya, “Apakah ia berdevosi kepada Bunda Maria? Apakah ia setia mendaraskan rosario? Apakah ia sungguh seorang teladan kesalehan?”

Ketika pemimpin seminari mengiyakan semuanya itu, Bapa Uskup dengan tegas menjawab, “Baguslah jika demikian! Aku memanggilnya untuk datang dan ditahbiskan! Gereja tidak hanya membutuhkan pastor-pastor terpelajar, tetapi terlebih lagi pastor-pastor saleh.”

Akhirnya, pada 12 Agustus 1815, Vianney ditahbiskan menjadi imam, tetapi Uskup tidak memperkenankannya melayani Sakramen Pengakuan Dosa karena ia dianggap tidak mampu memberikan bimbingan rohani.

Yohanes Maria Vianney ditugaskan sebagai imam pembantu di Ecully hingga 1817. Awal 1818, ia ditugaskan di sebuah paroki terpencil dan tak terurus, yaitu Paroki Ars. Di paroki ini, ia mengabdikan dirinya dan menjadikan Desa Ars sebagai tempat ziarah bagi umat dari segala penjuru.


Johannes Sutanto de Britto, Laporan: Erik. B.W.




Kunjungan: 1809
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com