Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kerohanian yang Menubuh - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Kerohanian yang Menubuh

Kamis, 30 Juni 2011 14:22 WIB

Sudah saatnya orang meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan secara keliru demikian: Mana yang lebih penting, aksi atau refleksi? Duniawi atau surgawi? Jasmani atau rohani?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dikategorikan salah bidik. Mengapa? Sudah menjadi kecenderungan umum orang memahami ’rohaniwan’ sebagai orang yang melulu hidup atas dasar roh. Ini tentu saja tidak keliru, tetapi belum menjelaskan secara utuh. Tetapi, jelas keliru, jika menganggap para rohaniwan/wati otomatis memiliki status kesalehan yang lebih tinggi dari non rohaniwan.

Logika bengkok di atas didasarkan pada pengandaian bahwa doa, refleksi, atau roh, lebih unggul dibanding tindakan dan perbuatan. Dan juga, ada keyakinan yang tidak tepat bahwa kesibukan surgawi seperti devosi, meditasi dan merenungkan hal-hal saleh itu otomatis bertabrakan dengan kesibukan duniawi di kantor, di ladang atau di tempat lain di mana orang-orang bekerja. Orang kebanyakan menganggap bahwa perkara rohani tidak mungkin diintegrasikan dengan perkara fisik dan tubuh.

Sangat mengherankan bahwa keyakinan di atas sering bertabrakan dengan realita yang kita jumpai. Setiap tahun, lewat media kita baca dan tonton pemilihan dan penentuan sekian pahlawan di zaman ini. Yaitu, mereka yang mencurahkan hidupnya untuk kehidupan orang lain; mereka yang berdedikasi tanpa kenal lelah untuk keselarasan lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat yang tersingkir, pendidikan untuk orang miskin, membangun teknologi untuk tujuan non-profit. Sangat menarik, di antara mereka yang terpilih, para rohaniwan/wati menjadi minoritas atau tidak ada sama sekali.

Sulit untuk mengatakan bahwa Dalai Lama – seorang rohaniwan – itu lebih suci hidupnya dibanding, misalnya Muhammad Yunus yang bekerja sebagai bankir untuk orang miskin. Belajar dari Muhammad Yunus, Bill Gates, dan para filantropis lainnya, menjadi jelas bahwa yang sakral itu tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan yang sekular. Meski bisa dibedakan, aksi dan refleksi, surgawi dan duniawi, roh dan tubuh adalah dua perkara yang satu. Pergumulan seluruh hidup kita adalah menghayati paradoks keduanya dalam satu tarikan nafas.

Hampir-hampir perkara roh menjadi tidak mungkin tanpa melibatkan unsur tubuh.

Tidak ada ide mengenai doa, jika di sana tidak ada kaki, tangan, kepala dan tubuh. Surgawi dan duniawi, meski memiliki pemahaman yang berbeda, tetap satu entitas dalam penghayatannya. Dalam perkara iman Katolik, kita tidak pernah memahami Yesus yang Allah dan Ilahi, tanpa mengenal Yesus yang manusia dan hidup real dua ribu tahun yang lalu. Sabda harus menjadi daging.

Untuk itulah kita bisa memahami mengapa kerap kita jumpai orang-orang yang bekerja fisik sehari-hari juga sekaligus memiliki kematangan rohani yang mendalam. Dalam pekerjaan keduniawian itulah ia menemukan Tuhan.

Dalam hal ini kita juga bisa memahami apa maksud THS/THM. Ia hendak merealisasikan olah fisik sebagai olah rohani. Kerohanian yang menubuh. Ini tentu sebuah ideal yang harus diperjuangkan dalam kurun waktu panjang dan terus-menerus.




Kunjungan: 659
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com