Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1873-1897) - Hidup Katolik

Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1873-1897)

Jumat, 1 Juli 2011 14:22 WIB
Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1873-1897)
[medjugorje.ws]

Bubur melambangkan makna “melebur” umat Paroki Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Bongsari Semarang dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.


Paroki Bongsari mempunyai sebuah tradisi “Pesta Bubur” yang biasa dilaksanakan saat memperingati pesta nama Santa Theresia sebagai pelindung paroki setiap 1 Oktober, pesta
ulang tahun pastor paroki, dan pesta-pesta lainnya. Berbagai jenis bubur yang disajikan di antaranya bubur sayur, manis, candil, dan sumsum. Bermacam bubur tersebut dibawa oleh masing-masing lingkungan yang diusahakan oleh umat.

Menurut salah seorang pengurus dewan paroki, Ignatius Dadut Setiadi (45), makna yang terkandung di dalam pesta bubur tersebut adalah sebagai bentuk kesatuan umat yang semakin guyub. Umat dari berbagai kalangan tanpa mengenal perbedaan “status sosial” menyatu bersama menyantap bubur.

Bubur melambangkan makna “melebur” dalam satu komunitas basis yang harus semakin signifikan dan relevan atau semakin bernilai dan bermakna baik untuk umat Paroki Bongsari secara khusus dan masyarakat sekitar gereja pada umumnya.

“Kalau kegiatan tersebut dihubungkan dengan semangat hidup Santa Theresia tentu ada, yaitu semangat kesederhanaan yang tulus dan terbuka untuk mengabdi pada Allah,” kata Dadut yang kini menjabat sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Paroki Bongsari.


Kehangatan umat saat merayakan pesta pelindung paroki. [Dok Paroki Bongsari]

Sementara itu, menurut pamong Lingkungan Paus Yohanes I, Ignatius Eko Budi Setiyono, semangat Santa Theresia tercermin dalam hubungan kekerabatan yang masih kental di antara umat. Setelah Misa, umat masih berkumpul di gereja.

Senyum, ketulusan hati, dan kehangatanTheresia di komunitasnya dihayati umat Paroki St Theresia Bongsari. Setelah Misa usai, mereka biasa berkumpul di halaman gereja untuk berbagi cerita. Tidak ada kemarahan, dendam, dan iri hati antarsesama umat. Kesederhanaan, persahabatan, hubungan kekeluargaan yang hangat, dan senyum Theresia menjadi contoh bagi umat Paroki Bongsari untuk terus menjalankan kehidupan bersama dalam kerukunan dan kesetiaan tanpa memandang kekayaan, pangkat, dan pendidikan. Umat membangun paguyuban penuh kasih.

“Saya berkeyakinan bahwa Allah selalu berkarya dalam diri sesama manusia yang saya jumpai. Sesuai salah satu inti ajaran Santa Theresia, yaitu penyerahan diri kepada kasih Allah, maka hal ini tentu harus terus diwujudkan dalam segala aktivitas baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan,” pungkas warga Lingkungan Paulus Miki wilayah Manyaran.

Dermawan Jerman

Paroki ini memiliki dua patung Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Satu ditempatkan di luar dan yang lain di dalam gereja. Patung gadis berjubah, berkerudung hitam, dan menggenggam rangkaian bunga mawar dan salib berdiri kokoh di tengah sebuah taman di sudut halaman Gereja Santa Theresia Bongsari Semarang. Walaupun sudah berusia 17 tahun, patung Santa Theresia ini masih berdiri kokoh.

Patung Santa Pelindung Paroki Bongsari ini dibangun ketika paroki merayakan pesta perak atau 25 tahun berdirinya gereja pada 1993. Saat itu paroki dipimpin oleh Pastor V. Suryatmo Suryowiyoto SJ.

Adapun pemakaian nama Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus untuk gereja ini bermula dari kisah awal pembangunan gedungnya. Sebagian dana pembangunan Gereja Bongsari diperoleh dari seorang dermawan Katolik dari Jerman bernama Fidelis Gotz.

Ketika Fidelis Gotz jatuh sakit, ia berdevosi kepada Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Fidelis Gotz berjanji menyumbangkan sebagian hartanya untuk perkembangan misi Katolik di Indonesia, bila ia sembuh.

Fidelis Gotz bersahabat baik dengan (Alm) Mgr Albertus Soegijapranata SJ (Uskup Agung Semarang). Maka setelah sembuh, ia memutuskan untuk menyumbangkan uangnya untuk membiayai pembangunan Gereja Bongsari. Atas permintaan Fidelis, St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dijadikan nama pelindung Gereja Bongsari.

“Membabat alas”

Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus mendedikasikan hidupnya bagi penyebaran pesan kasih Allah. Lewat cara hidupnya yang kontemplatif, ia mengajarkan jiwa-jiwa untuk mencintai Yesus, sebagaimana ia telah mencintai-Nya. Ia selalu berdoa bagi para misionaris dan kemajuan Kerajaan Allah. Karena itulah, ia diangkat sebagai pelindung para misionaris.

Dengan meneladani semangat misioner Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Kepala Paroki Bongsari yang pertama, Pastor Ingen Housz SJ, bersama umat berusaha mengembangkan paroki.

Saat Gereja Bongsari selesai dibangun pada 1967, daerah sekitar wilayah Gereja Bongsari masih penuh dengan ilalang, tanaman bayam, dan kacang.

Misa pertama di Gereja Santa Theresia Bongsari berlangsung pada 3 Desember 1967, dipimpin Pastor Ingen Housz SJ. Misa diikuti sekitar 50 orang. Sebulan kemudian, 7 Januari 1968, Kardinal Justinus Darmojuwono memberkati dan meresmikan gereja ini.

Setelah resmi berdiri, pekerjaan Pastor Ingen bagaikan “membabat alas”, mulai dari penggembalaan umat dan penanganan wilayah-wilayah yang saat itu dikenal dengan sebutan kring, hingga pengadaan peralatan dan isi gereja termasuk buku-buku untuk keperluan Misa.


J.S. de Britto
Laporan: Ivonne Suryanto



Pelindung Prancis

J.S. de Britto Laporan: Ivonne Suryanto

Marie Francoise Therese Martin lahir di Alencon, Perancis pada 2 Januari 1873. Dia adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara dari pasangan Louis Martin dan Azelie Guerin. Pada November 1887, Theresia, kakak perempuannya Celine, dan ayahnya pergi berziarah ke Italia di mana mereka diterima dalam suatu audiensi dengan Paus Leo XIII. Saat itulah Theresia memohon agar Sri Paus mengizinkan dirinya untuk bergabung dengan Tarekat Karmelit pada usia 15 tahun, di bawah batas umur yang diizinkan.

Sri Paus menasihati bahwa segala hal yang terbaik akan terjadi bagi dirinya, jika dia mau menunggu beberapa tahun lagi. Tetapi, Theresia berkeras hati dan tidak mau pergi sebelum permohonannya dikabulkan. Hingga ia terpaksa harus digotong oleh dua pengawal Sri Paus.

Akhirnya, permohonan Theresia untuk masuk biara pada usia 15 tahun dikabulkan. Pada 9 April 1888, ia diterima masuk Biara Karmel di Lisieux sebagai postulan. Pada Januari 1889, dia menjadi novis. Pada 8 September 1890, dia mengikrarkan profesi penuh sebagai anggota Komunitas Karmelit.

Theresia wafat pada Oktober 1897, setelah selama 18 bulan berjuang melawan TBC. Menjelang akhir hidupnya ia berkata, “Para martir mati menghadapi ajalnya dengan gembira, tetapi Raja Para Martir yaitu Yesus mati dalam ketakutan. Dan, kira-kira inilah yang sedang kualami.”

Pada 1925, ia digelari Santa oleh Paus Pius XI dan diangkat sebagai Pelindung Karya Misi Gereja. Kemudian oleh Paus Pius XII, ia diangkat sebagai pelindung Perancis.




Kunjungan: 2854
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com