Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Adorasi Sakramen Mahakudus - Hidup Katolik

Adorasi Sakramen Mahakudus

Jumat, 19 Agustus 2011 18:55 WIB
Adorasi Sakramen Mahakudus
Dok. Pribadi
Dr Petrus Maria Handoko CM

HIDUPKATOLIK.com - Apa kegunaan dari adorasi Sakramen Mahakudus? Saya merasa banyak waktu yang terbuang sia-sia. Mengapa perlu adorasi? Bukankah waktu itu lebih baik kita gunakan untuk menolong orang miskin atau untuk karya kerasulan lainnya?

Rafaella Kosasih, Jakarta

Pertama, baik kalau kita menyadari bahwa masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip industri yang mengutamakan efisiensi dan efektivitas. Target produktivitas dunia yang hendak dicapai ini terutama dilihat dengan kacamata materi melulu. Di sinilah masalahnya.

Manusia terdiri dari badan, jiwa, dan roh. Hidup yang utuh haruslah melibatkan seluruh diri kita dan bukan hanya aspek tertentu saja. Karena itu, efisiensi dan efektivitas juga harus meliputi dimensi badan, jiwa, dan roh (1 Tes 5:23).

Kedua, jika ditinjau hanya secara lahiriah, adorasi Sakramen Mahakudus bisa tampak seolah membuang waktu secara percuma. Tetapi secara rohani, adorasi Sakramen Mahakudus bisa menjadi obat yang ampuh dari penyakit zaman ini, yaitu kedangkalan relasi pada umumnya; relasi antarsahabat, antaranggota keluarga, termasuk kedangkalan relasi dengan Tuhan. Perubahan yang cepat dan paham pragmatisme seringkali merupakan sebab kedangkalan ini.

Adorasi Sakramen Mahakudus menawarkan kedalaman, bukan hanya kedalaman pengetahuan atau pemahaman tentang iman kita, tetapi lebih-lebih kedalaman relasi dengan Yesus, karena adorasi Sakramen Mahakudus membawa kita berjumpa dengan Yesus yang hadir. Berhadapan dengan Tuhan, kita diundang untuk melihat diri kita apa adanya, menanggalkan topeng-topeng hidup kita sehari-hari, menyadari mekanisme pelarian untuk mencari peneguhan dari sumber lain.

Dengan demikian, kita dibawa untuk menyadari kerapuhan dan keterbatasan kita, sehingga akhirnya menyadari ketergantungan kita pada Tuhan. Bertelanjang di hadapan Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa nilai dan harga diri kita yang sejati mengalir hanya dari pertemuan dan pengalaman dengan Allah. Keheningan adorasi di hadapan Yesus membawa pada diri kita yang sejati. Kedalaman relasi dan kesejatian diri inilah yang akan memberikan sukacita rohani yang jauh lebih mendalam, mengalahkan letih-lesu dan beban berat kehidupan ini. Di sinilah efisiensi dan efektivitas menemukan makna
terdalamnya, yaitu pada apa yang akan bertahan selamanya, sampai kekal, yaitu relasi yang mendalam dengan Yesus.

Kedalaman relasi dengan Tuhan dan kesejatian diri pada gilirannya akan membuat relasi kita dengan orang lain juga menjadi lebih sejati.

Ketiga, adorasi Sakramen Mahakudus sebenarnya merupakan konsekuensi alami dari iman kita pada kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Perayaan Ekaristi (Sacramentum Caritatis, No 66). Yesus Kristus yang hadir secara nyata inilah yang kita rayakan dan kita sembah. Sikap menyembah dan sujud inilah yang kita lanjutkan dan kita hayati secara lebih lama dalam adorasi Sakramen Mahakudus. Maka, jika kita sungguh menghargai Perayaan Ekaristi, kita harus mencintai adorasi Sakramen Mahakudus. Inilah sumber kekuatan hidup dan kerasulan kita.

Keempat, kita tidak perlu mempertentangkan antara mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Keduanya adalah ungkapan cinta yang sama. Apa yang kita lakukan untuk sesama kita yang paling hina, kita lakukan juga untuk Tuhan (Mat 25:40.45). Tetapi, ada saatnya ketika kita perlu memprioritaskan Tuhan. Adorasi Sakramen Mahakudus memberikan kekuatan untuk melayani sesama yang membutuhkan, tetapi juga memurnikan motivasi pelayanan kita.

Inilah yang diungkapkan oleh Paus Benediktus XVI: ”Kegiatan Adorasi di luar Misa memperpanjang dan mengintensifkan segala yang terjadi dalam Perayaan Ekaristi sendiri. Sungguh, hanya dalam Adorasi, penyambutan yang mendalam dan tulus dapat menjadi matang. Dan, justru perjumpaan personal dengan Tuhan ini yang kemudian menguatkan perutusan sosial yang terkandung dalam Ekaristi, yang ingin merobohkan bukan hanya tembok-tembok yang memisahkan Tuhan dan diri kita, tetapi juga dan khususnya tembok-tembok yang memisahkan kita satu sama lain” (Sacramentum Caritatis No 66).

Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 2805
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com