Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Santa Monika (332–387): Teladan Ibu Rumah Tangga - Hidup Katolik

Santa Monika (332–387):
Teladan Ibu Rumah Tangga

Rabu, 7 September 2011 13:43 WIB
Santa Monika (332–387): <br>Teladan Ibu Rumah Tangga
[Novena.com]
Monika bersama putranya, Agustinus.

HIDUPKATOLIK.com - Setelah merefleksikan dan mendalami sosok Santa Monika, anggota Dewan Paroki Santa Monika Serpong sepakat memilih santa ini sebagai pelindung paroki. Santo Monika adalah sosok ibu yang sungguh memperhatikan keluarga.


Sejumlah umat menegaskan bahwa pemilihan nama pelidung tersebut disetujui oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr Leo Soekoto SJ. Warga Paroki St Monika BSD Tangerang, Maria Muljadi, menuturkan bahwa semangat yang kini terus digelorakan di paroki ini adalah perhatian terhadap keluarga.

Menurutnya, iman pertama kali tumbuh di dalam keluarga. Mantan Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang St Monika periode 2007-2010 ini menambahkan bahwa WKRI Cabang Monika bersama anggotanya juga memberikan perhatian khusus terhadap kehidupan keluarga.

Perhatian pada keluarga juga menjadi fokus pelayanan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Santa Monika. Ketua Seksi Kerasulan Keluarga Santa Monika, Siprianus Peren, mengemukakan bahwa selain secara rutin menyelenggarakan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) bagi calon pasangan suami-istri (pasutri), SKK juga melibatkan pasutri bergabung dalam Kursus Ketahanan Keluarga yang biasa dilaksanakan dalam sembilan kali pertemuan.

Setia mendampingi

Monika dilahirkan di Tagaste, Afrika Utara, dari sebuah keluarga Kristen yang saleh dan giat beribadat. Perjalanan hidup St Monika tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan rohani Agustinus yang kemudian diangkat menjadi santo. Agustinus adalah putra pertama Monika dengan Patrisius, suaminya.

Kisah hidup St Monika patut diteladani dan dipuji, khususnya bagi para ibu yang memiliki putra dan putri yang bandel, kurang patuh, tersesat akibat berbagai ajaran, dan bujukan hal-hal yang menyesatkan.

Ketika Monika berusia 20 tahun ia menikah dengan Patrisius, seorang pemuda yang dikenal kafir dan cepat ‘panas hatinya’. Monika mengalami tekanan batin karena ulah suaminya, Patrisius yang selalu mencemooh Monika yang selalu mendampingi anak agar bertumbuh menjadi pemuda yang berbudi luhur. Monika menerima cemoohan suaminya dengan penuh kesabaran.

Suaminya bekerja sebagai pegawai tinggi pemerintahan kota setempat. Keluarga ini dikaruniai tiga anak: Agustinus, Navigius, dan Perpetua (yang kelak menjadi pemimpin biara). Suaminya dikenal bertabiat buruk, suka naik pitam, dan sering menertawakan usaha keras Monika dalam mendidik Agustinus menjadi pemuda yang memiliki kepribadian kristiani.

Bukan hanya itu, batin Monika juga tertekan karena ulah Agustinus anaknya yang terjerembap dalam ajaran sesat. Tekanan batin itu semakin menjadi-jadi ketika Agustinus menempuh pendidikan di Kota Cartago. Dia meninggalkan imannya dan memeluk ajaran Manikeisme.

Agustinus mempunyai anak tanpa menjalani perkawinan sah. Ada dua hal yang membuat Monika tertekan, yaitu ulah suaminya Patrisius dan putranya Agustinus. Meski demikian, ia tidak putus asa. Ia tetap setia mendampingi mereka.

Tekun berdoa

Monika tiada henti berdoa agar Tuhan menjamah suaminya, sehingga mengubah tabiatnya dan menjadi pengikut Kristus. Hampir setiap hari Monika menitikkan air mata saat berdoa kepada Tuhan.

Namun, tampaknya tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mendengarkan doa Monika yang didaraskan dengan khusyuk. Ia tidak patah semangat. Bahkan, ketika segalanya terasa tanpa harapan, ia terus berdoa dengan satu harapan saja, yaitu Tuhan mendengarkan keluh kesahnya. Hingga pada suatu ketika Tuhan mendengarkan keluh kesah Monika.

Tuhan menguatkannya lewat sebuah mimpi. Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya berada di atas sebuah mistar kayu. Kemudian, datanglah seorang pemuda dengan wajah bercahaya. Ia bertanya, ”Mengapa Ibu bersedih? Apa yang menyebabkan Ibu bersedih setiap hari?

Monika menjawab dengan jujur. Ia sedih karena tidak tahan melihat kebiasaan suami dan anaknya. Pemuda itu mengajak Monika melihat dengan saksama, maka terlihat dengan segera bahwa Agustinus bersamanya berada di atas mistar. Lalu, kata pemuda itu, ”Di mana engkau berada, di situ dia berada.”

Kehidupan yang dilakoni Agustinus jauh dari yang diharapkan ibunya. Agustinus pergi ke Italia dengan maksud menghindar dari ibunya. Apa yang dilakukan Monika? Ia terus-menerus mendoakan Agustinus, bahkan setiap hari ia mendoakan Agustinus agar bisa segera bertobat.

Agustinus terus hidup dalam kubangan dosa. Monika tidak tega membiarkan anaknya hidup dalam kegelapan rohani. Ia menyusul ke Italia. Di Milano, ia berkenalan dengan Uskup Ambrosius. Ia meminta Ambrosius menasihati Agustinus. Akhirnya, oleh teladan dan bimbingan Ambrosius, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya.

Pertobatan putranya adalah puncak kebahagiaan yang dialami Monika dalam hidupnya. Kegembiraan lainnya, yaitu pertobatan suaminya. Menjelang ajalnya, Patrisius minta dibaptis menjadi seorang Katolik.

Geliat SKK Monika

Seksi Kerasulan Keluarga Paroki St Monika selalu secara intensif meletakkan dasar-dasar keluarga yang kuat untuk kehidupan iman yang kokoh dalam keluarga Katolik. Ketua Seksi Kerasulan Keluarga, Siprianus Peren, menuturkan bahwa pelaksanaan Hari Ulang Tahun Pernikahan (HUP) di paroki menjadi sarana untuk mendekatkan pasangan suami-istri kepada Allah dalam terang dan semangat Injil.

Menyadari perkembangan teknologi yang terus maju, keluarga Katolik yang berada di wilayah Paroki Santa Monika diajak untuk mendampingi anak secara intensif seperti teladan Monika yang setia mendampingi putranya. Siprianus menegaskan bahwa orangtua juga perlu mendampingi anak dalam penggunaan internet.


Konrad R. Mangu




Kunjungan: 2878
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com