Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Ernest Mariyanto, Awam, Pakar Liturgi - Hidup Katolik

Ernest Mariyanto,
Awam, Pakar Liturgi

Rabu, 14 September 2011 14:47 WIB
Ernest Mariyanto,<br> Awam, Pakar Liturgi
[Ari Benawa]
Ernest Mariyanto (tengah) ketika mengikuti Kongres Societas Liturgica di Sidney, 2009

HIDUPKATOLIK.com - Bagi para penggiat liturgi, nama Ernest Mariyanto tentu sudah tidak asing. Namun, seperti apa sosoknya mungkin masih banyak orang yang belum tahu.


Walau seluruh hidupnya nyaris didedikasikan untuk liturgi, Ernest Mariyanto mengaku enggan disebut liturgiolog. Pasalnya, julukan itu dianggapnya terlalu muluk. “Sebutan liturgiolog terlalu muluk. Saya lebih senang disebut pemerhati liturgi,” aku suami Yustina Sri Hartinah dan ayah dari empat anak ini.

Minatnya pada bidang liturgi mulai muncul sejak belajar di ‘Seminarium Marianum’ Lawang, Jawa Timur. “Waktu di seminari itu saya sudah aktif ikut koor, belajar main piano, organ, dan mulai mengiringi ibadat,” aku Ernest Mariyanto, putra kedua dari G. Ernest Saudi Pantjapawira dan Brigitta Simpen. Bakat musik mulai diasahnya lewat kursus piano, direksi, dan olah komposisi. Tetapi, bakat ini baru matang ketika ia bekerja di Komisi Liturgi (Komlit) KWI.

Tamat SMP, masih sebagai siswa seminari, Mariyanto melanjutkan studi ke SMA Katolik Santo Albertus (Dempo) Malang hingga lulus pada 1968. Kemudian, sebagai novis dan Skolastik Karmelit, ia melanjutkan pendidikan akademis di Institut Filsafat Teologi (kini, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana) Malang hingga 1971. Dan, pada 1983 ia mengikuti kursus pastoral liturgi di Amecea Pastoral Institute, Kenya, Afrika Timur.

Mariyanto mulai bekerja pada 1971 sebagai wartawan pada Surat Kabar Mingguan KONTAK, Malang. Setahun kemudian, pada awal 1972 ia beralih ke bidang kerja dalam lingkup Gereja sebagai karyawan Pusat Pastoral/Komisi Liturgi KWI, yang waktu itu berkantor di Surakarta, 1972-1976. Selanjutnya, ia menjadi karyawan Komisi Liturgi (Komlit) KWI di Jakarta sampai pensiun pada 2003.

Di Komlit KWI Mariyanto sempat menduduki beberapa jabatan penting, seperti Sekretaris II Komlit KWI, anggota Dewan Inti dan Dewan Pleno Komlit KWI. Ia juga menjabat Koordinator Seksi Musik Komlit KWI, Koordinator Tim Doa dan Tim Nyanyian untuk buku Puji Syukur, Ketua Seksi Kesenian Komlit KWI.

Karyanya

Sebagai pakar liturgi banyak karya dihasilkannya. Karya musik liturgi yang dihasilkannya dimuat dalam berbagai buku: Madah Bakti, Kidung Adi, Puji Syukur, Seri Nyanyian Rohani Anak-anak Tunas Musika, Seri Lagu Gereja Inkulturasi, kumpulan nyanyian Amecea Pastoral Institute, dan berbagai publikasi lepas yang tidak dibukukan.

Ernest Mariyanto juga telah menulis buku tentang liturgi. Selain puluhan judul sebagai karya pribadi, sejumlah buku digagas, diterjemahkan, disunting, dan disusun olehnya, yang kemudian diterbitkan sebagai edisi resmi Gereja Indonesia (Komlit KWI). Karya bestseller-nya antara lain Kumpulan Ibadat Lingkungan 1. Pada 2010 buku ini sudah cetak ulang ke-30. Karya best-seller kedua adalah Persiapan Krisma Suci yang sejak 1988 telah disahkan penggunaannya di sekolah dengan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pada 2006 buku itu sudah cetak ulang ke-15. Karya penting yang lain adalah Kumpulan Ibadat Lingkungan 2 (Kanisius), Kamus Liturgi Sederhana (Kanisius, 2003), Doa dari Alkitab (Kanisius, 2005), dan Paham dan Terampil Berekaristi (Yayasan Pustaka Nusatama, 2008), Panduan Liturgi Hari Minggu dan Hari Raya: Panduan Mempersiapkan, Merancang, dan Melaksanakan Liturgi - Tahun A (Kanisius, 2010).

Di samping itu, tak terbilang artikel liturgi dan musik liturgi yang dimuat dalam aneka majalah, seperti Rohani, Umat Baru, Warta Musik [Liturgi], Hidup, Ekawarta, Media, Fajar Liturgi, Afer [buletin Amecea Pastoral Institute, Afrika Timur], Liturgi, Gottesdienst [Jerman]. Sedangkan karya terjemahan yang dihasilkan Ernest Mariyanto antara lain: Yesus Kekasih Kita Dalam Ekaristi (Marian Center 2005), Tanda-tanda Ajaib Bunda Kudus di Naju (Marian Center 2005), Salam Ratu Surgawi (Dioma 2005).

Sebagai pakar liturgi, Ernest Mariyanto juga pernah mengajar musik liturgi para calon imam yang menjalani Tahun Orientasi Rohani (TOR) Anging Mamiri, Yogyakarta. Ia juga memberi kuliah liturgi pada Fakultas Teologi Wedabhakti Yogyakarta, dan memberi kuliah musik di STT Jakarta. Ia sering pula memandu lokakarya/penataran seminar liturgi dan musik liturgi di tingkat paroki, keuskupan, regio, pun nasional.

Satu program penting yang ia gagas dan laksanakan dalam kerjasama dengan Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia adalah Lokakarya dan Pagelaran Musik Gereja (LPMG) yang memadukan dua kegiatan, yakni lokakarya komposisi nyanyian gerejawi dan pergelarannya. Program ini dilaksanakan baik di tingkat regio maupun keuskupan. Program ini sudah menghasilkan ratusan nyanyian gerejawi inkulturatif yang siap dipakai untuk menyemarakkan liturgi.

Sejak akhir 2003, ia pensiun dari pegawai (Komisi Liturgi) KWI, dan sekarang ia mengelola “Sanggar Bina Liturgi”, suatu arena studi, edukasi, konsultasi, kreasi, dan selebrasi di bidang liturgi dan musik liturgi.

Keprihatinan

Totalitas Ernest Mariyanto menekuni liturgi hingga pasca pensiun dilatarbelakangi obsesinya membangun Gereja lewat liturgi. “Liturgi adalah kegiatan yang sangat strategis, karena sering dirayakan dan melibatkan amat banyak orang. Kalau liturgi baik, saya yakin amat banyak umat akan terbangun,” ujar pria kelahiran Curahjati, Grajagan, Banyuwangi, 14 Oktober 1948.

Ernest Mariyanto memiliki keprihatinan mendalam mengenai liturgi. Pasalnya, umat, terutama para petugas khusus, kurang memahami liturgi sehingga penghayatan mereka pun kurang. Akibat selanjutnya, buah liturgi pun menjadi kurang optimal. “Kalau saya memperhatikan pelaksanaan liturgi, sungguh memprihatinkan bahwa liturgi dilaksanakan asal-asalan, tidak sungguh-sungguh diusahakan dengan baik,” ungkapnya.

Menurut Mariyanto, diperlukan katekese liturgi. Diperlukan katekese ulang mengenai liturgi, khususnya Perayaan Ekaristi. Rekomendasi Raker Komlit Regio Jawa Plus [2010] sangat baik, yaitu supaya digalakkan katekese mengenai Perayaan Ekaristi. “Khususnya, para imam hendaknya menjadi ‘garda’ terdepan dalam pengembangan liturgi.”

Seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Banyak imam justru ketinggalan dalam pendalaman liturgi. Pada akhir setiap penataran/kursus liturgi selalu muncul kecemasan di antara umat yang menjadi penggiat liturgi, “nanti imam tidak setuju”. Ada imam yang tidak mau beranjak maju dari ’kemapanannya’, karena merasa sudah biasa: dari dulu juga begitu. Padahal, sudah terjadi perubahan.

Dan, mereka tidak mau ikut mengalir dalam arus perubahan. Mestinya imam menjadi teladan dan memberikan dukungan kepada setiap usaha dari bawah untuk mendalami liturgi. Konkretnya, ia mencontohkan, dengan merayakan setiap liturgi secara benar dan baik, para peraya liturgi merasa happy, tersentuh, terbangun, dan pulang dari ibadat itu membawa buah bagi kehidupan sehari-hari. “Untuk liturgi yang benar dan baik, diperlukan pemahaman dan keterampilan dalam melaksanakan liturgi,” tegas Mariyanto, yang sesudah ditinggalkan istri tercinta pulang ke rumah Bapa pada 2009, bergabung dalam Ordo Fransiskan Sekular.


Ari Benawa




Kunjungan: 1731
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com