Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Martinus Mesarudi Gea: Balas Budi 'Anak Panti' - Hidup Katolik

Martinus Mesarudi Gea:
Balas Budi 'Anak Panti'

Jumat, 30 September 2011 12:49 WIB
Martinus Mesarudi Gea:<br> Balas Budi 'Anak Panti'
[HIDUP/Anton Sumarjana]
Martinus Gea bersama istrinya Debby Tampubolon dan ketiga anak mereka.

HIDUPKATOLIK.com - Sejak di bangku SMP, Martinus Mesarudi Gea sudah tinggal di asrama bersubsidi di Gunung Sitoli, Nias. Sebagian biayanya ditanggung oleh para pastor dan suster.


“Saya sering membahasakan asrama itu sebagai panti asuhan,” kata Koordinator Forum Komunikasi Panti Asuhan (FKPA) se-Indonesia ini.

Saat ia duduk di bangku kelas 3 SMP, sang ayah menghadap Sang Khalik. Ibunya pun dikepung kesulitan dalam menegakkan ekonomi rumah tangganya dengan delapan anak. “Selanjutnya, saya terus tinggal di asrama bersubsidi itu hingga lulus SMA,” kenang Martin saat ditemui di kediamannya di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, penghujung Juli 2011 lalu.

Pengalaman hidup berkekurangan namun tetap bisa menuntut ilmu di masa belianya, membuat Martin merasa berhutang budi pada Gereja. Di kemudian hari, keinginannya ikut peduli pada kehidupan anak-anak panti mengemuka.

Ia mendirikan SMA Entrepreneur di Pondok Bambu, Jakarta Timur, yang dikhususkan bagi anak-anak panti asuhan. Sejak Juli 2011, sejumlah anak dari berbagai panti asuhan di seluruh Indonesia mulai mencecap pendidikan, terutama di bidang entrepreneurship di sekolah tersebut.

Hijrah ke Jakarta

Selepas SMA, Martin mengikuti Kelas Persiapan Atas (KPA) untuk masuk seminari di Pematang Siantar. Kemudian, ia hijrah ke Jakarta. “Saya sempat setahun di novisiat Xaverian,” ungkapnya.

Keluar dari seminari, belum banyak bekal dan keterampilan yang digenggamnya. Saat itulah ia berjuang keras. “Setahun itu sangat menentukan proses hidup saya, jatuh bangun,” kenangnya.

Sempat terlintas keinginan untuk kembali ke kampung halamannya, namun lekas diberangusnya keinginan itu. “Saya berangkat ke Jakarta karena ingin maju, mengapa saya harus kembali ke kampung halaman,” gugatnya.

Dengan tekad berpijar, Martin bersikeras bertahan. Demi menyambung hidup, ia bekerja di Sekretariat Paroki Pulomas, Jakarta Timur. “Saat itu saya mengajar di Sekolah Bina Iman,” kata Martin. Sementara untuk bekal hidupnya, ia mendulang ilmu di Jurusan Teologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya Jakarta.

Setelah mengantongi ijazah S1, Martin menjadi guru agama honorer di SMA Negeri 21 Jakarta Timur. Tahun 2000, ia diangkat sebagai guru agama, dan setahun berselang, ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen Agama RI.

Namun, Martin tak berpuas diri menadah rahmat itu. Tahun 2002, ia meneruskan studi S2 di salah satu perguruan tinggi swasta di Rawamangun, Jakarta Timur. Setelah memungkasi studi S2, Kepala SMAN 21 menyodorinya kesempatan emas.

“Saya diminta merintis Program Kelas Internasional SMAN 21. Awalnya, saya sempat ragu, saya ini guru agama, tahu apa,” ujarnya terus terang.

Selama lima tahun Martin memimpin Program Kelas Internasional di SMAN 21. Tahun 2007, Martin mulai kuliah S3 di bidang manajemen pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Mendirikan panti

Sejak masih kuliah S1, kerinduan Martin melayani anak-anak panti asuhan sudah menyeruak. Ia ikut membantu di Panti Asuhan Griya Asih, Rawasari, Jakarta Timur yang menangani anak-anak jalanan.

Tahun 1999, Martin mendirikan Panti Asuhan Keluarga Kasih. Ia didukung oleh rekan-rekannya yang memiliki semangat serupa. Pundi-pundi dana pun nyaris dipenuhi sendiri oleh mereka. “Yayasan Keluarga Kasih jarang sekali mencari dana lewat donatur,” akunya. Seiring berpilinnya waktu, keterlibatannya di lingkungan panti asuhan mengantarnya menjadi Ketua FKPA se-Indonesia pada 2007.

Karena berprofesi guru, benak Martin kerap terusik memikirkan pendidikan bagi anak-anak panti. Ia menyadari, bekal pendidikan bagi mereka kerap membentur persoalan dana. Kemudian, ia bertekad mendirikan sekolah buat anak-anak panti asuhan. “Bagaimana agar kelak anak-anak panti bisa mandiri dengan menjadi wirausahawan,” bebernya bersemangat.

Tak terbilang rangkaian hari telah ia lintasi guna memikirkan bagaimana menelentangkan impian luhurnya itu menjadi nyata. Di penghujung refleksinya, ia berpikir barangkali Tuhan memang menorehkan rencana ini bagi dirinya. “Mungkin Dia ingin mengembalikan saya ke panti asuhan untuk mengembangkan pendidikan anak-anak panti,” terkanya berulang.

Martin pun menetapkan langkah yang berani. Ia memilih beranjak dari pekerjaannya yang sudah mapan. “Saya sudah fokus mengelola FKPA, sekarang saya ingin mendirikan sekolah gratis buat anak-anak panti,” tuturnya.

Tahun 2010, ia mengerahkan sebagian besar waktunya demi mewujudkan cita-citanya itu. “Selama setahun saya total menyiapkan sekolah sosial ini,” lanjutnya.

Memajukan jadwal

Mulanya, Martin dan rekan-rekannya yang berhimpun dalam Yayasan Prima Unggul (YPU) memancangkan target SMA Entrepreneur akan mulai beroperasi pada 2012. Belakangan, ia memajukan jadwal dibukanya sekolah itu pada tahun ajaran baru 2011.

Niat tersebut sempat dihujani keraguan para pengurus YPU, terlebih karena modal yang belum memadai. Realita ini sempat menghadirkan pesimistis juga di batinnya.

Namun, tekadnya kembali menyala saat ia mengikuti pelatihan manajemen, awal Maret 2011. Waktu itu ia diminta menulis surat untuk dirinya sendiri mengenai pergumulan dan motivasinya dalam kurun tiga bulan ke depan. “Dalam surat itu, saya meyakinkan diri bahwa SMA Entrepreneur akan berdiri dalam tiga bulan ke depan,” tukasnya.

Selanjutnya, Martin menjaring siswa dari berbagai panti asuhan di berbagai kota. Untuk tahap awal, segera diperoleh 24 siswa. Ia berharap, pada tahun-tahun berikutnya SMA Entrepreneur bisa menampung lebih banyak siswa.

Martin tak sekadar mengobral janji akan membebaskan biaya studi kepada para siswa. tetapi, ia ingin mempersembahkan sebuah sistem pendidikan yang mampu menempa kualitas siswa-siswanya tak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui beragam kegiatan inovatif, seperti pelatihan jurnalistik, pengenalan internet, daur ulang, penjualan kreasi para siswa, serta proyek magang di sebuah swalayan.

“Karena semuanya gratis, kami memprioritaskan anak-anak yang sungguh-sungguh memiliki motivasi belajar,” jelas ayah tiga anak ini.

Demi idealisme yang diusungnya, Martin pun mengikhlaskan kediamannya di kawasan Pulomas dijadikan asrama bagi siswa-siswa SMA Entrepreneur. Baginya, ini merupakan sebuah kewajaran. Tuhan telah melimpahkan rahmat kepadanya, dan kini ia ingin berbagi. “Ini wujud balas budi saya yang pernah menjadi ‘anak panti’,” ujarnya sembari mengait sesabit senyum.


Maria Etty




Kunjungan: 1304
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com