Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mengatasi Perasaan Cemburu Tanpa Merusak Diri & Hubungan Kita - Hidup Katolik

Mengatasi Perasaan Cemburu Tanpa Merusak Diri & Hubungan Kita

Senin, 10 Oktober 2011 18:04 WIB
Mengatasi Perasaan Cemburu Tanpa Merusak Diri & Hubungan Kita
[healthnews.ediets.com]

HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh yang terkasih, siapa pun tidak bisa menghindar dari perasaan negatif, termasuk cemburu. Apa saja kiat-kiatnya agar kita bisa mengatasi perasaan cemburu tanpa merusak diri kita dan hubungan kita dengan pasangan?

Anton, Jakarta

Pak Anton yang terkasih, perasaan cemburu jamak terjadi. Cemburu terhadap pasangan tentu ada latar belakang pemicunya, entah sifatnya subjektif atau objektif. Ada orang yang mudah merasa cemburu meski secara faktual pasangannya tak melakukan hal yang layak dicemburui. Ada orang yang “baru merasa cemburu” saat pasangannya menunjukkan indikasi objektif melakukan hal yang pantas dicemburui. Ada juga orang yang “kebal” dari rasa cemburu, baik karena kepercayaan (trust) penuh pada pasangan; maupun karena hal lain di luar “keumuman”, misalnya menganut prinsip kebebasan dalam menjalani kehidupan berpasangan.

Definisi lugas dari cemburu adalah ketakutan berpindahnya kasih sayang kepada orang lain. Mereka yang tengah cemburu, dalam hatinya dipenuhi rasa ketidakpercayaan akan kesetiaan orang yang dicintai. Seorang analis relasi cinta asmara, Tresidder (2004), memilah tiga macam kecemburuan: yaitu delusional, terproyeksi, dan kompetitif.

Dasar kecemburuan delusional adalah gangguan psikologis yang memandu orang pada penghayatan subjektif akan rasa tidak dipedulikan atau bahkan ditolak oleh orang yang dicintai. Padahal, belum tentu dilakukan oleh orang yang dicintai tersebut. Kecemburuan ini bersifat patologis dan biasanya tidak adil bagi pasangan. Kecemburuan delusional sering sulit didialogkan, sehingga kerap menimbulkan kekerasan emosional.

Kecemburuan terproyeksi juga lebih bersifat subjektif, karena merupakan pembalikan dari perasaan “pantas dicemburui” menjadi perasaan “mencemburui” pihak lain, karena adanya rasa bersalah telah melakukan tindakan yang layak “dicemburui”. Dasar perasaan “mencemburui” sering tidak jelas, cenderung sepihak; dan lebih didasari pengandaian bahwa pihak yang dicemburui melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh si pencemburu. Kecurigaan dan perilaku serba memata-matai sering terjadi pada diri pencemburu.

Kecemburuan kompetitif lebih mengartikulasikan perasaan “serba kurang” di diri pencemburu, sehingga mudah merasa terancam dan atau terkhianati dengan adanya orang lain yang dirasa “lebih unggul”.

Rasa cemburu dalam relasi cinta itu wajar terutama pada saat-saat awal jalinan cinta dijajagi. Namun, bila kecemburuan terjadi secara eksesif pada tahap-tahap berikutnya, berarti ada yang tidak beres dalam relasi cinta tersebut.

Sumber kecemburuan biasanya adalah hadirnya orang ketiga (faktual ataupun perseptual) dalam relasi cinta, perasaan dikhianati, berkurangnya perhatian dan sentuhan afeksi. Kecemburuan yang “parah” kadang terjadi dan bermula dari perasaan ketakutan pada si pencemburu bahwa dirinya tidak cukup layak bagi orang/pihak yang dicintai. Cemburu bisa juga merupakan manifestasi dari posesivitas berlebihan karena takut kehilangan.

Untuk mengatasi perasaan cemburu adalah: (1) Identifikasi: Sejenak lakukan jarak (distansi) terhadap rasa cemburu ini. Lalu, tanyakanlah dengan jujur pada diri sendiri, apakah sebenarnya hal yang memicu perasaan cemburu. Identifikasikan apakah itu faktor dari diri sendiri, ataukah hal-hal (sikap, tindakan) yang ada/dilakukan pasangan; (2) Komunikasi: Dengan kepala dingin, ungkapkan atau dialogkan hasil identifikasi itu dengan pasangan; dan (3) Solusi: Bila sebab kecemburuan adalah diri sendiri mintalah masukan dari pasangan bagaimana sebaiknya. Bila penyebabnya adalah faktor pada pihak pasangan atau orang ketiga, upayakan kesepakatan yang konkret, relevan, dan kontekstual. Dari banyak kasus, yang sering terkendala adalah tahap komunikasi. Bila ini terjadi, libatkanlah pihak profesional untuk memfasilitasinya.


H.M.E. Widiyatmadi




Kunjungan: 2113
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com