Mengatasi Perasaan Cemburu Tanpa Merusak Diri & Hubungan Kita

HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh yang terkasih, siapa pun tidak bisa
menghindar dari perasaan negatif, termasuk cemburu. Apa saja
kiat-kiatnya agar kita bisa mengatasi perasaan cemburu tanpa merusak
diri kita dan hubungan kita dengan pasangan?
Anton, Jakarta
Pak Anton yang terkasih, perasaan cemburu jamak terjadi. Cemburu
terhadap pasangan tentu ada latar belakang pemicunya, entah sifatnya
subjektif atau objektif. Ada orang yang mudah merasa cemburu meski
secara faktual pasangannya tak melakukan hal yang layak dicemburui. Ada
orang yang “baru merasa cemburu” saat pasangannya menunjukkan indikasi
objektif melakukan hal yang pantas dicemburui. Ada juga orang yang
“kebal” dari rasa cemburu, baik karena kepercayaan (trust) penuh pada
pasangan; maupun karena hal lain di luar “keumuman”, misalnya menganut
prinsip kebebasan dalam menjalani kehidupan berpasangan.
Definisi lugas dari cemburu adalah ketakutan berpindahnya kasih sayang
kepada orang lain. Mereka yang tengah cemburu, dalam hatinya dipenuhi
rasa ketidakpercayaan akan kesetiaan orang yang dicintai. Seorang analis
relasi cinta asmara, Tresidder (2004), memilah tiga macam kecemburuan:
yaitu delusional, terproyeksi, dan kompetitif.
Dasar kecemburuan delusional adalah gangguan psikologis yang memandu
orang pada penghayatan subjektif akan rasa tidak dipedulikan atau bahkan
ditolak oleh orang yang dicintai. Padahal, belum tentu dilakukan oleh
orang yang dicintai tersebut. Kecemburuan ini bersifat patologis dan
biasanya tidak adil bagi pasangan. Kecemburuan delusional sering sulit
didialogkan, sehingga kerap menimbulkan kekerasan emosional.
Kecemburuan terproyeksi juga lebih bersifat subjektif, karena merupakan
pembalikan dari perasaan “pantas dicemburui” menjadi perasaan
“mencemburui” pihak lain, karena adanya rasa bersalah telah melakukan
tindakan yang layak “dicemburui”. Dasar perasaan “mencemburui” sering
tidak jelas, cenderung sepihak; dan lebih didasari pengandaian bahwa
pihak yang dicemburui melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh
si pencemburu. Kecurigaan dan perilaku serba memata-matai sering
terjadi pada diri pencemburu.
Kecemburuan kompetitif lebih mengartikulasikan perasaan “serba kurang”
di diri pencemburu, sehingga mudah merasa terancam dan atau terkhianati
dengan adanya orang lain yang dirasa “lebih unggul”.
Rasa cemburu dalam relasi cinta itu wajar terutama pada saat-saat awal
jalinan cinta dijajagi. Namun, bila kecemburuan terjadi secara eksesif
pada tahap-tahap berikutnya, berarti ada yang tidak beres dalam relasi
cinta tersebut.
Sumber kecemburuan biasanya adalah hadirnya orang ketiga (faktual
ataupun perseptual) dalam relasi cinta, perasaan dikhianati,
berkurangnya perhatian dan sentuhan afeksi. Kecemburuan yang “parah”
kadang terjadi dan bermula dari perasaan ketakutan pada si pencemburu
bahwa dirinya tidak cukup layak bagi orang/pihak yang dicintai. Cemburu
bisa juga merupakan manifestasi dari posesivitas berlebihan karena takut
kehilangan.
Untuk mengatasi perasaan cemburu adalah: (1) Identifikasi: Sejenak
lakukan jarak (distansi) terhadap rasa cemburu ini. Lalu, tanyakanlah
dengan jujur pada diri sendiri, apakah sebenarnya hal yang memicu
perasaan cemburu. Identifikasikan apakah itu faktor dari diri sendiri,
ataukah hal-hal (sikap, tindakan) yang ada/dilakukan pasangan; (2)
Komunikasi: Dengan kepala dingin, ungkapkan atau dialogkan hasil
identifikasi itu dengan pasangan; dan (3) Solusi: Bila sebab kecemburuan
adalah diri sendiri mintalah masukan dari pasangan bagaimana sebaiknya.
Bila penyebabnya adalah faktor pada pihak pasangan atau orang ketiga,
upayakan kesepakatan yang konkret, relevan, dan kontekstual. Dari banyak
kasus, yang sering terkendala adalah tahap komunikasi. Bila ini
terjadi, libatkanlah pihak profesional untuk memfasilitasinya.
H.M.E. Widiyatmadi


