Mengapa Pembagian Bab dalam Kitab Kejadian Terasa Aneh?

HIDUPKATOLIK.com - Saya merasa aneh pembagian bab 1 dan 2 dalam Kitab
Kejadian tidak mengikuti alur isi kisah penciptaan, maksudnya kisah
penciptaan yang pertama adalah Kej 1:1-2:4a, sedangkan kisah penciptaan
yang kedua adalah Kej 2:4b-25. Mengapa bab 2 tidak mulai saja pada
posisi Kej 2:4b? Siapa yang melakukan pembagian bab dan ayat pada
seluruh Kitab Suci kita? Mengapa bisa terjadi keanehan seperti itu?
Mohon penjelasan.
Stephanus Nooryanto, Surabaya
Pertama, baik diketahui bahwa liturgi Yahudi menggunakan terutama Kitab
Hukum (Pentateukh) dan kitab para Nabi, yang sudah dibagi menjadi 54
bagian (54 adalah jumlah pekan dalam setahun). Tiap bagian disebut
haftarah. Umat Yahudi membaca kitab Hukum dan para nabi sepanjang tahun,
setiap pekan satu bagian. Ketika masuk ke sinagoga, Yesus membaca
haftarah untuk hari itu (bdk Luk 4:17). Kemudian Gereja menambahkan
kitab-kitab yang terkait dengan Perjanjian Baru. Tolok ukur pembagian
ialah penggunaan bagian Kitab Suci itu pada liturgi.
Manuskrip kuno dari abad V yang masih dimiliki sekarang, menunjukkan
pembagian bab yang digunakan, yaitu Matius mempunyai 68 bab, Markus 48
bab, Lukas 83 bab dan Yohanes 18 bab.
Kedua, dalam perjalanan waktu, dibutuhkan metode pembagian yang lebih
rinci dan menggunakan tolok ukur akademis. Kebutuhan ini berkaitan bukan
hanya dengan buku-buku yang digunakan untuk liturgi, tetapi dengan
seluruh Kitab Suci. Pada tahun 1220, sebelum ditahbiskan menjadi Uskup
Agung Canterbury dan masih mengajar di Universitas Sorbonne, Stephen
Langton menciptakan pembagian Kitab Suci menjadi bab-bab dengan panjang
yang hampir sama. Pembagian ini juga diterapkan pada Kitab Suci bahasa
Latin, Vulgata. Pembagian Langton ini juga diadopsi untuk Kitab Suci
versi Ibrani dan Yunani (Septuaginta). Ketika Langton meninggal, tahun
1228, sudah dikenal Kitab Suci bahasa Latin dengan pembagian bab, yang
dikenal dengan nama Kitab Suci Paris.
Ketiga, dengan semakin berkembangnya studi biblis yang lebih tepat dan
rinci, pembagian bab-bab yang ada dirasakan terlalu panjang. Seorang
Dominican Itali, Santos Pagnino, di Lyons tahun 1528, melakukan
pembagian ulang bab-bab itu menjadi lebih pendek, yaitu berdasarkan
kalimat yang mempunyai arti seperti apa yang dimengerti saat ini sebagai
ayat-ayat. Namun nama Pagnino menjadi tidak dikenal karena dibayangi
oleh seorang penerbit Protestan, Roberto Stefano. Pagnino hanya membuat
pembagian bab-bab Perjanjian Lama, sedangkan Stefano melengkapi dengan
pembagian bab-bab dari tujuh kitab Deuterokanonika (Tobit, Yudit, 1 dan 2
Makabe, Kebijaksanaan, Putera Sirakh dan Baruk). Demikian pula,
pembagian menurut bab dan ayat dari seluruh Perjanjian Baru menurut
Pagnino diperbaharui oleh Stefano. Menurut putra Stefano, ayahnya
melakukan hal itu dalam perjalanan dengan kuda dari Paris ke Lyons.
Stefano mempublikasikan Perjanjian Baru menurut versinya pada tahun
1551, dan kemudian seluruh Kitab Suci tahun 1555. Dialah yang mengawali
sistem penggunaan ayat-ayat, yang digunakan sampai sekarang. Pembagian
menurut ayat-ayat ini dilakukan juga pada teks Kitab Suci Latin. Tahun
1572 Kitab Suci Ibrani diterbitkan dengan pembagian ayat-ayat.
Adalah Paus Clemens VIII yang meresmikan versi baru Kitab Suci dalam
bahasa Latin untuk penggunaan resmi Gereja. Karya besar ini
dipublikasikan pada 9 November 1592. Itulah edisi pertama Kitab Suci
Gereja Katolik yang mempunyai pembagian bab dan ayat.
Keempat, semua Kitab Suci saat ini masih menggunakan bentuk tersebut.
Namun, seperti disadari, pembagian ini mempunyai banyak kekurangan dan
menunjukkan pertimbangan yang kurang tepat dalam pembagiannya. Para ahli
Kitab Suci menemukan kesalahan-kesalahan yang tak terhindarkan karena
kurangnya pengetahuan tentang Kitab Suci saat itu. Misalnya Keb 1:16,
Yes 22:8, termasuk ayat yang dirujuk dalam pertanyaan Kej 2:4. Kesalahan
itu terjadi karena kurangnya pengetahuan yang mendalam tentang
bagian-bagian Kitab Suci dan mungkin juga karena pembagiannya dilakukan
sambil lalu dengan mengendarai kuda.
Dr Petrus Maria Handoko CM


