Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


St Agustinus (354-430): Iman Bertumbuh melalui Pendidikan - Hidup Katolik

St Agustinus (354-430): Iman Bertumbuh melalui Pendidikan

Senin, 31 Oktober 2011 14:41 WIB
St Agustinus (354-430): Iman Bertumbuh melalui Pendidikan
[christchurchwindsor.ca]

HIDUPKATOLIK.com - Di kalangan filsuf dan teolog Gereja Katolik, nama St Agustinus tidak asing. Buah-buah pemikiran yang dibangun pada masa lalu memberi sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan filsafat dan teologi.


Kecerdasan Agustinus tampak sejak ia masih kecil. Karena itu, ayahnya berharap agar ia menjadi orang yang terkenal. Dan, akhirnya memanglah demikian. Sampai hari ini, nama Agustinus menjadi buah bibir, ketika orang berbicara tentang filsafat dan teologi. Bahkan di dunia Barat, Agustinus disebut sebagai Bapak Spiritualitas Dunia Barat.

Ketenaran Agustinus juga sampai di Indonesia. Umat Katolik di Karawaci, Tangerang, pada 1988 memilih Agustinus sebagai pelindung paroki mereka. Ada umat di paroki ini yang sudah mengenal riwayat hidup Agustinus. Mereka memilih Agustinus karena ia dikenal sebagai pemberontak, tetapi akhirnya bertobat berkat doa ibunya, St Monika.

Fokus pendidikan

Biografi Agustinus hanya bisa ditelusuri pertama-tama dari Confessiones (Pengakuan-pengakuan) dan tulisan Possidius tentang kehidupan Santo Agustinus tidak lama setelah kematiannya.

Agustinus lahir di Tagaste, Algeria, Afrika Utara, 13 November 354. Ayahnya bernama Patrisius, seorang yang “kafir”. Sedangkan ibunya, Monika, seorang Kristen yang saleh. Monika dikenal sangat peduli pada kehidupan rohani Agustinus. Namun, ketika dewasa kehidupan Agustinus tidak keruan. Bahkan, ia memiliki kebiasaan buruk seperti ayahnya yang suka mabuk dan berpesta.

Ketika berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikan di Kota Kartago, Agustinus meninggalkan imannya dan memeluk aliran Manikeisme, sebuah aliran yang menolak Allah dan mengutamakan rasionalisme.

Lebih dari itu, ketika di Kartago, Agustinus menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang menjadi istri gelapnya lebih dari sepuluh tahun. Dari hubungan itu lahirlah seorang anak laki-laki.

Pendidikan dan karier awal yang ditempuh Agustinus adalah filsafat, retorika, dan seni persuasi yang berhubungan dengan keterampilan berbicara di depan publik. Agustinus pernah mengajar di Tagaste dan Kartago. Namun, ia ingin kembali ke Roma karena ia yakin, banyak ahli retorika di sana. Maka, berangkatlah Agustinus bersama sahabatnya, Alypus, ke Italia. Waktu itu ia berumur 29 tahun. Agustinus menjadi mahaguru di Milan.

Perhatian besar pada dunia pendidikan yang tampak dari kepribadian Agustinus turut mempengaruhi pelayanan umat Paroki Karawaci. Seorang warga paroki ini, Christiana Sunarti (40), setia memberikan pelajaran agama Katolik kepada siswa-siswi Katolik yang bersekolah di sekolah non-Katolik (Persink).

Sunarti mensinyalir, “Paroki ini memberikan perhatian serius kepada anak-anak dari SD hingga SMA yang tidak mendapat pendidikan agama Katolik di sekolah non-Katolik. Memberikan pelajaran bagi mereka bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kekatolikan agar mereka tumbuh seperti sosok Agustinus, sang pujangga Gereja.”

Selain itu, kegiatan Sekolah Minggu pun terus digalakkan. Ketua Seksi Katekese, Stefanus Sihadi Nugroho, menjelaskan, “Kegiatan Sekolah Minggu yang diikuti siswa-siswi Katolik SD sampai SMA merupakan salah satu upaya paroki untuk menanamkan semangat Agustinus dalam kehidupan menggereja. Semangat kedua belas pendamping Persink sungguh luar biasa. Setiap minggu mereka setia mendampingi 12 kelompok yang belajar agama Katolik.”

Kembali ke Gereja

Suatu hari Agustinus mendengar tentang dua orang yang serta merta bertobat setelah membaca riwayat hidup St Antonius Pertapa. Agustinus mengatakan kepada Alypus, “Orang-orang yang bukan pelajar memilih surga dengan berani, tetapi kita dengan segala ilmu pengetahuan hidup bergelimang dosa.”

Akhirnya, Agustinus pun bertobat. Pada 387 ia dibaptis oleh Uskup Ambrosius. Agustinus memutuskan untuk mengabdikan diri pada Tuhan. Bersama beberapa teman, mereka hidup bersama dalam doa dan meditasi.

Pada 388 Agustinus kembali ke Afrika. Di sana, ia menjual seluruh harta miliknya dan membagi-bagikan kepada orang miskin. Agustinus ditahbiskan menjadi imam pada 391 dan bertugas di Hippo sebagai pembantu uskup. Empat tahun kemudian, Agustinus diangkat menjadi Uskup Hippo.

Tantangan menggereja

Seperti Agustinus yang meninggalkan Kartago dan pergi ke Italia hanya untuk mencari pengetahuan, yang menurutnya akan mengisi hatinya yang kosong, umat Paroki Karawaci terus mencari pengakuan formal bagi keberadaan gedung gereja mereka.

Adrian Maryanto, Ketua Hubungan Antarumat Agama dan Kepercayaan (HAK) Paroki St Agustinus, menguraikan, “Keberadaan paroki ini telah lama, sejak 1984. Namun, hingga saat ini, kami belum memiliki gedung gereja permanen. Umat setempat masih menggunakan aula Sekolah Strada Perum untuk merayakan Ekaristi dan acara lainnya.”

Semua proses telah dilakukan dan ditaati. Namun, belum ada ‘restu’ dalam bentuk tanda tangan walikota setempat. “Kami berharap,” demikian Adrian, “kemelut izin yang sudah dinantikan umat selama hampir 24 tahun ini bisa berakhir.”


Stefanus P. Elu,
Laporan: Konrad R. Mangu




Kunjungan: 3825
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com