Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Ketua Komisi PSE KWI: Hakikat HPS Adalah Solidaritas Pangan - Hidup Katolik

Ketua Komisi PSE KWI: Hakikat HPS Adalah Solidaritas Pangan

Jumat, 9 Desember 2011 12:56 WIB
Ketua Komisi PSE KWI: Hakikat HPS Adalah Solidaritas Pangan
[Dok. HIDUP]
Mgr Hilarion Datus Lega
Artikel Lainnya

HIDUPKATOLIK.com - Dalam Konpernas PSE KWI di Tomohon, Sulut, 18-24 September 2011, Pemimpin Redaksi HIDUP, Greg Soetomo SJ dan F. Rahardi, sempat berbincang tentang HPS dengan Mgr Hilarion Datus Lega, Ketua Komisi PSE KWI.

Mgr Datus, yang juga Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, menegaskan bahwa hakikat HPS adalah solidaritas pangan. ”Kita kembalikan saja ke teks Kitab Suci. Dari sanalah kita wajib berbagi pangan kepada mereka yang miskin. Namun, membantu orang miskin harus disertai rasa hormat.”

Mgr Datus akrab dengan HPS, sebab sebelum menjadi Uskup dan Ketua Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), ia pernah menjadi Sekretaris Komisi PSE KWI. Menurutnya, Gereja Katolik Indonesia sejak awal (1982), telah merespons pencanangan HPS oleh FAO, dengan menyelenggarakan gerakan HPS secara nasional.

”Namun, kita tidak boleh sombong dengan mengatakan bahwa Gerejalah satu-satunya lembaga keagamaan penyelenggara kegiatan HPS. Sebab, dalam bentuk lain, umat Muslim juga mengamalkan ajaran solidaritas pangan melalui Zakat Fitrah. Maka, Gerakan HPS di lingkungan Gereja Katolik, sejak awal tidak pernah eksklusif. Gerakan HPS Gereja sedapat mungkin melibatkan berbagai kalangan. Mulai dari pemerintah, LSM, dan komunitas dari agama-agama lain. Sebab, gerakan solidaritas pangan bersifat universal. Bukan eksklusif Katolik, dan harus terus bergulir sebagai bola salju.”

Sebagai Uskup Manokwari-Sorong, Mgr Datus justru prihatin dengan keberlimpahan pangan di tanah Papua, tetapi tanpa disertai dengan jalur distribusi yang memadai. Maka, tujuan jangka panjang Gerakan HPS, bukan kuantitas melainkan kualitas pangan, yakni ketercukupan gizi, terutama bagi ibu dan anak. Di sinilah peran kaum perempuan dalam penyediaan pangan menjadi sangat strategis. ”Kita juga jangan terjebak ke hal-hal teknis. Misalnya, Gerakan HPS harus pertanian organik. Organik memang penting, karena itu mengarah ke kualitas pangan, menuju hidup sehat. Tetapi, HPS bukan gerakan pertanian organik.”

Mgr Datus juga prihatin dengan penyelenggaraan HPS di keuskupan atau paroki, yang hanya berupa pameran atau lomba pangan non-beras. Mereka hanya terjebak ke hal-hal praktis, dan melupakan yang strategis, yakni meningkatkan kualitas pangan. Harusnya melalui Gerakan HPS, Gereja lebih memperhatikan kesehatan pangan bagi anak-anak. Misalnya, bagaimana menyadarkan ibu rumah tangga tentang bahaya pangan instan, zat aditif dalam pangan kemasan, dan mengembalikan pangan berbahan tradisional. HPS pada akhirnya bukan sekadar soal pangan, melainkan mengembalikan kultur kehidupan sehat.

Gereja Katolik memang harus lebih kreatif dalam Gerakan HPS. ”Mgr Sunarko telah mencanangkan Gerakan Swasembada Anggur Misa. Ini strategis bukan karena tahun depan akan ada regulasi pemerintah, lalu Gereja kerepotan soal anggur Misa. Yang lebih strategis adalah Indonesia punya kebanggaan, bahwa sekarang sudah bisa memproduksi anggur Misa sendiri. Inti ibadat dalam Gereja Katolik adalah Perayaan Ekaristi dengan roti dan anggur, sebagai lambang tubuh Kristus, sebagai simbol berbagi bahan pangan. Maka, saya sangat mendukung ide swasembada anggur Misa, yang ke depan juga swasembada gandum bahan hosti.”
Dalam Konpernas PSE KWI di Tomohon, Sulut, 18-24 September 2011, Pemimpin Redaksi HIDUP, Greg Soetomo SJ dan F. Rahardi, sempat berbincang tentang HPS dengan Mgr Hilarion Datus Lega, Ketua Komisi PSE KWI.

Mgr Datus, yang juga Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, menegaskan bahwa hakikat HPS adalah solidaritas pangan. ”Kita kembalikan saja ke teks Kitab Suci. Dari sanalah kita wajib berbagi pangan kepada mereka yang miskin. Namun, membantu orang miskin harus disertai rasa hormat.”

Mgr Datus akrab dengan HPS, sebab sebelum menjadi Uskup dan Ketua Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), ia pernah menjadi Sekretaris Komisi PSE KWI. Menurutnya, Gereja Katolik Indonesia sejak awal (1982), telah merespons pencanangan HPS oleh FAO, dengan menyelenggarakan gerakan HPS secara nasional.

”Namun, kita tidak boleh sombong dengan mengatakan bahwa Gerejalah satu-satunya lembaga keagamaan penyelenggara kegiatan HPS. Sebab, dalam bentuk lain, umat Muslim juga mengamalkan ajaran solidaritas pangan melalui Zakat Fitrah. Maka, Gerakan HPS di lingkungan Gereja Katolik, sejak awal tidak pernah eksklusif. Gerakan HPS Gereja sedapat mungkin melibatkan berbagai kalangan. Mulai dari pemerintah, LSM, dan komunitas dari agama-agama lain. Sebab, gerakan solidaritas pangan bersifat universal. Bukan eksklusif Katolik, dan harus terus bergulir sebagai bola salju.”

Sebagai Uskup Manokwari-Sorong, Mgr Datus justru prihatin dengan keberlimpahan pangan di tanah Papua, tetapi tanpa disertai dengan jalur distribusi yang memadai. Maka, tujuan jangka panjang Gerakan HPS, bukan kuantitas melainkan kualitas pangan, yakni ketercukupan gizi, terutama bagi ibu dan anak. Di sinilah peran kaum perempuan dalam penyediaan pangan menjadi sangat strategis. ”Kita juga jangan terjebak ke hal-hal teknis. Misalnya, Gerakan HPS harus pertanian organik. Organik memang penting, karena itu mengarah ke kualitas pangan, menuju hidup sehat. Tetapi, HPS bukan gerakan pertanian organik.”

Mgr Datus juga prihatin dengan penyelenggaraan HPS di keuskupan atau paroki, yang hanya berupa pameran atau lomba pangan non-beras. Mereka hanya terjebak ke hal-hal praktis, dan melupakan yang strategis, yakni meningkatkan kualitas pangan. Harusnya melalui Gerakan HPS, Gereja lebih memperhatikan kesehatan pangan bagi anak-anak. Misalnya, bagaimana menyadarkan ibu rumah tangga tentang bahaya pangan instan, zat aditif dalam pangan kemasan, dan mengembalikan pangan berbahan tradisional. HPS pada akhirnya bukan sekadar soal pangan, melainkan mengembalikan kultur kehidupan sehat.

Gereja Katolik memang harus lebih kreatif dalam Gerakan HPS. ”Mgr Sunarko telah mencanangkan Gerakan Swasembada Anggur Misa. Ini strategis bukan karena tahun depan akan ada regulasi pemerintah, lalu Gereja kerepotan soal anggur Misa. Yang lebih strategis adalah Indonesia punya kebanggaan, bahwa sekarang sudah bisa memproduksi anggur Misa sendiri. Inti ibadat dalam Gereja Katolik adalah Perayaan Ekaristi dengan roti dan anggur, sebagai lambang tubuh Kristus, sebagai simbol berbagi bahan pangan. Maka, saya sangat mendukung ide swasembada anggur Misa, yang ke depan juga swasembada gandum bahan hosti.”


Greg Soetomo SJ dan F. Rahardi




Kunjungan: 929
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com