Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Paroki St Gabriel Pulo Gebang: Pluralisme Agama dan Budaya - Hidup Katolik

Paroki St Gabriel Pulo Gebang: Pluralisme Agama dan Budaya

Jumat, 16 Desember 2011 14:02 WIB
Paroki St Gabriel Pulo Gebang: Pluralisme Agama dan Budaya
[Dok Paroki Pulo Gebang]
Pastor Jacobus Tarigan bersama KH. A. Shodri HM, Ketua MUI Jakarta Timur, sebelum Tausiah dan Doa Syukur Pembangunan Gedung Serbaguna dan Rumah Ibadat St Gabriel Pulo Gebang.

HIDUPKATOLIK.com - Penantian umat Paroki St Gabriel Pulo Gebang selama belasan tahun, untuk merealisasikan pembangunan gedung baru gereja terjawab sudah.

Sabtu, 1/10, diselenggarakan acara “Resepsi Syukur Pembangunan Gedung Serba Guna dan Rumah Ibadat St Gabriel”. Hadir dalam acara tersebut, tokoh agama dan pejabat pemerintah setempat seperti Ketua MUI Jakarta Timur Drs K.H. A. Shodri HM, dan Ketua FKUB Jakarta Timur K.H. Tubagus, serta masyarakat sekitar.

“Bagi saya, perbedaan budaya termasuk perbedaan agama bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan yang harus diterima dan disyukuri,” tegas Kepala Paroki St Gabriel Pulo Gebang, Pastor Jacobus Tarigan Pr.

Pasang surut

Paroki Pulo Gebang adalah paroki ke-51 Keuskupan Agung Jakarta, didirikan pada 23 Juli 1995, dengan pelindung St Gabriel. Motto “Gaudium Omnibus” (Kegembiraan bagi Semua) menjadi semangat umat paroki ini. Harapannya paroki ini akan menghadirkan kegembiraan bagi semua, teristimewa masyarakat perumahan Pulo Gebang dan sekitarnya. Hal ini berkaitan juga dengan perjuangan untuk memperoleh izin pembangunan gedung gereja.

Perjuangan umat paroki dan para pastor yang berkarya di Paroki Pulo Gebang untuk mendapatkan izin pembangunan gedung gereja sudah dirintis jauh sebelum penetapannya sebagai paroki. Sebelumnya, Pulo Gebang merupakan lingkungan di Paroki Pulo Mas, lalu berkembang menjadi stasi pada Maret 1988. Perintisan Paroki Pulo Gebang mendapat perhatian ketika Julius Budiono, warga Pulo Gebang, saat itu diangkat sebagai pengurus Dewan Harian Paroki (DPH) Pulo Mas. Budiono mengusulkan disediakannya tempat khusus bagi kegiatan umat Katolik Pulo Gebang. Lalu, DPH Pulo Mas mendapat pinjaman rumah di Perumahan Pulo Gebang Permai.

Seiring bertambahnya umat, perjuangan untuk memiliki tempat berkegiatan dan beribadat terus berlanjut. Pada masa Pastor Silvester Nong Pr sebagai kepala paroki, pembangunan gedung serba guna dan pastoran dimulai. Tetapi, meski gedung serba guna sudah berdiri, kegiatan Gereja dan liturgi tidak dapat langsung pindah ke gedung tersebut. Akhir 1998, terjadi protes keberatan dari masyarakat terhadap kegiatan Gereja di Perumahan Pulo Gebang Permai.

Pemerintah Daerah Jakarta Timur menjadi fasilitator masalah tersebut, salah satunya dengan pemberian izin (sementara) bagi Gereja Katolik Pulo Gebang menempati gedung serba guna. Seiring bertambahnya umat, gedung ini pun direnovasi agar bisa menampung lebih banyak umat.

Pastor Jacobus Tarigan menjadi Kepala Paroki Pulo Gebang sejak 2009. Bersama umat, ia berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh izin pembangunan gedung gereja sebagai tempat ibadat. Hambatan, tantangan, dan masalah harus dihadapi umat selama proses pembangunan dan perizinan ini.

Pendekatan budaya

Keberadaan Gereja di tengah masyarakat yang majemuk ini mempunyai tantangan tersendiri. Membangun gedung gereja tidak hanya membutuhkan lahan, tetapi juga dukungan masyarakat dan syarat administrasi dari pemerintahan setempat. Dukungan masyarakat merupakan pra-syarat utama yang harus dipenuhi sebelum syarat-syarat lainnya. Tentu saja dukungan masyarakat tidak serta-merta bisa langsung diperoleh, tetapi melalui proses yang relatif lama.

Saat ini, jumlah warga Paroki St Gabriel sekitar 5.500 orang. Dalam waktu dekat, 14 wilayah (53 lingkungan) yang ada akan dimekarkan menjadi 16 wilayah (56 lingkungan). Mayoritas warga masyarakat di sekitar Paroki Pulo Gebang adalah non-Katolik, dengan persentase 90 persen Muslim dan 10 persen agama lainnya. “Jika dibandingkan, ya kita adalah minoritas. Tetapi, kita harus terus melakukan pendekatan budaya,” ujar Pastor Tarigan yang juga dosen luar biasa Liturgika pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta ini.

Salah satu usaha untuk memperoleh dukungan adalah dengan membangun dan menjalin hubungan baik dan harmonis dengan masyarakat sekitar. Pendekatan budaya dilakukan. Misalnya, pada saat ada orang yang meninggal umat Katolik diharapkan juga bisa datang melayat, dan turut merasakan penderitaan orang lain. “Masalah masyarakat adalah masalah Gereja, dan Gereja merupakan bagian integral dari masyarakat. Duka, cemas, dan kegembiraan merupakan duka, cemas, dan kegembiraan orang-orang beriman juga,” tegas Pastor Tarigan, menyitir Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes.

Sikap saling menghormati dikembangkan antara umat Katolik dengan masyarakat. Umat Paroki Pulo Gebang berbaur dengan masyarakat sekitar. Selain itu, pemberian bantuan pun dilakukan. Misalnya, bantuan perbaikan jalan, bantuan untuk masyarakat kurang mampu, dan menyediakan penampungan untuk korban banjir, serta menyediakan ruang untuk keperluan masyarakat.

Dukungan masyarakat memantulkan keberagaman dalam persatuan masyarakat. Perbedaan diterima dan didukung masyarakat. Kehadiran TK dan SD Harapan Bunda sebagai sekolah Katolik turut menciptakan iklim toleransi. Komunikasi dan silaturahmi umat dilakukan dengan keyakinan bahwa keberadaan Gereja harus memberi manfaat bagi masyarakat luas. Gereja juga berbagi kebahagiaan dengan masyarakat. Maka, kegiatan hiburan dilakukan sebagai ungkapan syukur bagi kebersamaan dan kemajuan umat dan masyarakat, misalnya pergelaran wayang kulit dan tanjidor.

Pluralisme agama

Sejak awal berdirinya, Gereja St Gabriel sudah memiliki kegiatan yang melibatkan warga sekitar, hanya saja belum sistematis. Dengan adanya ruang serba guna sekarang ini, warga sekitar yang membutuhkan dapat menggunakannya, tanpa membedakan agama, etnis, dan latar belakang. Mereka bisa menggunakannya, misalnya untuk pertemuan RT/RW, pernikahan, dan seminar.

“Kita harus menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia. Melayani masyarakat juga berarti melayani Tuhan, wujud iman kita kepada Tuhan. Orang-orang beriman juga tidak bisa bahagia, jika ada orang di sekitarnya menderita,” kata Pastor Tarigan.

Pastor Tarigan menegaskan betapa pentingnya membangun persaudaraan sejati dalam masyarakat yang ditandai dengan pluralisme budaya dan agama. “Kita diharapkan tetap menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh dari agama lain, melalui dialog, diskusi, kunjungan, dan silaturahmi. Meski berbeda agama, orang Kristen dan kaum Muslim mewarisi iman Abraham yang sama,” pungkasnya.

Pesan ini penting, terlebih bagi para pemimpin masyarakat. Bukan berani mati, tetapi berani hidup dalam keragaman budaya dan perbedaan.


Maria Pertiwi/Aprianita Ganadi




Kunjungan: 1665
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com