Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Bahas Liturgi: Doa Pembuka, Doa Pemimpin - Hidup Katolik

Bahas Liturgi: Doa Pembuka, Doa Pemimpin

Senin, 19 Desember 2011 13:41 WIB
Bahas Liturgi: Doa Pembuka, Doa Pemimpin
[Dok. HIDUP]
[Ilustrasi Pengantar Misa]

HIDUPKATOLIK.com - Ada kelompok doa yang suka mengiringi doa pemimpin dengan alunan musik. Dalam kebaktian umum yang bersifat non-liturgis atau devosional mungkin tidak jadi soal. Dalam perayaan liturgis kebiasaan itu dilarang. Dalam Misa, doa pemimpin adalah doa yang dibawakan imam selebran. Harus diucapkan atau dilagukan dengan lantang, agar umat dapat mendengarkan, memahami, dan menjadikan doa itu sebagai doa mereka juga. Maka, dalam Doa Pembuka dan doa-doa pemimpin lainnya, organis atau musikus jangan bermurah hati menyajikan alunan pengiring. Maksudnya mungkin mau menghiasi doa itu, tapi malah mengganggu.

Doa pemimpin
Hanya ada satu Doa Pembuka dalam Misa dan hanya imam yang membawakan salah satu doa pemimpin itu. Doa Pembuka tidak boleh dihilangkan. Termasuk jika bagian dari Ritus Pembuka mengalami penggabungan dengan ritus liturgis lain, misalnya dengan Ibadat Harian Pagi atau Sore. Doa Pembuka tetap berada di ambang peralihan ke bagian ritual selanjutnya: Liturgi Sabda.

Kursi imam atau kursi pemimpin adalah tempat yang tepat untuk imam ketika membawakan doa ini. Tampak jelaslah simbol kepemimpinan seorang imam di hadapan jemaat.

Imam membawakannya sambil merentangkan tangan. Sebaiknya buku doa itu diletakkan di tempat baca khusus, semacam mimbar kecil khusus untuk pemimpin di depan kursinya. Jika tak ada tempat baca, seorang misdinar dapat memegangi buku itu, sehingga imam dapat leluasa membacakan doa dan merentangkan tangannya, yang melambangkan Gereja sedang berdoa (orante).

Teks doa-doa pemimpin termuat dalam buku Sakramentarium. Teks-teks itu biasanya memuat kutipan Kitab Suci atau ajaran teologi. Semua itu dirangkai dengan sentuhan sastra dan gaya retorika. Teks-teks asli berbahasa Latin yang berusia amat tua dan indah itu, seringkali tidak menjadi lebih menawan ketika diterjemahkan dalam aneka bahasa.

Kekayaan teks-teks doa itu dapat digali dan dijadikan bahan atau bantuan untuk katekese atau khotbah. Bahkan, dapat direnungkan sebagai percikan untuk santapan rohani. Siapa saja boleh menikmatinya.

Kerangka doa

Ada tiga unsur dalam ritus doa ini: ajakan imam, hening dengan ujud pribadi, dan Doa Pembuka. Unsur-unsur dalam doa ini dapat diperbandingkan dengan Doa Umat, yang mengakhiri Liturgi Sabda. Perbedaan mencoloknya pada ujud. Doa Pembuka adalah ujud pribadi yang tak terdengar. Doa Umat adalah ujud umum yang diperdengarkan (oratio universalis/fidelium), bukan hanya ujud untuk Gereja tetapi juga keperluan dunia dan masyarakat.

Dalam Doa Pembuka terdapat kerangka atau pola tradisional doa Romawi, yang terdiri dari unsur anaklesis, anamnesis, epiklesis, doksologi, dan aklamasi umat. Unsur-unsur itu membangun karakter perayaan yang dilangsungkan. Kerangka ini dapat dijadikan model doa kristiani untuk pelbagai kesempatan.

Anaklesis adalah sapaan langsung kepada Allah Bapa atau Putra. Anamnesis adalah penyebutan misteri atau peristiwa dalam sejarah keselamatan yang patut dikenangkan dalam perayaan itu. Epiklesis merupakan permohonan Gereja yang berkaitan dengan anamnesis yang disebutkan sebelumnya. Doksologi Trinitaris mengungkapkan penutup doa yang diarahkan kepada Allah Tritunggal, dengan pengantaraan Yesus Kristus. Tersedia tiga rumus yang dapat dipilih sesuai dengan anaklesisnya.

Umat mendengarkan dan menyetujuinya dengan aklamasi: Amin! Dengan demikian, doa itu adalah doa setiap umat yang hadir. Begitulah partisipasi aktif umat diwujudkan, bukan dengan cara mengajak umat membacakannya bersama-sama.


Christophorus H. Suryanugraha OSC

Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia




Kunjungan: 2505
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com