Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kremasi Menurut Gereja - Hidup Katolik

Kremasi Menurut Gereja

Selasa, 10 Januari 2012 12:07 WIB
Kremasi Menurut Gereja
[Dok. CDD]
Agustinus Lie CDD

HIDUPKATOLIK.com - Gereja menerima kremasi yang tidak bertentangan dengan ajaran iman. Berikut Pastor Agustinus Lie CDD, Dosen Liturgi STFT Widya Sasana, Malang, menjawab pertanyaan HIDUP di seputar kremasi.

Di Indonesia, apakah sudah ada panduan resmi kremasi dan penyempurnaan abu jenazah?

Secara prinsip, Gereja Katolik biasa memberikan perhatian istimewa terhadap yang wafat, dan memperlakukan jenazah dengan penuh hormat. Di Indonesia, pilihan kremasi tidak dipersoalkan. Biasanya persoalan tanah makam, perawatan, dan keamanan menjadi alasan orang memilih kremasi. Panduan ritualnya diterbitkan oleh PWI-Liturgi pada 1976 dalam buku Upacara Pemakaman. Buku ini diterjemahkan dari teks resmi yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat.

Sayangnya, buku tersebut hilang dari peredaran. Akibatnya, banyak pihak, terutama petugas pastoral, menyusun buku pegangan sendiri. Maka, muncul beragam buku ibadat arwah. Akhirnya, Komisi Liturgi KWI menerbitkan revisi buku Upacara Pemakaman ini dengan beberapa penyesuaian. Terbitnya buku resmi Pemakaman Katolik yang berisi Upacara Kremasi, mengandaikan Gereja Indonesia mengizinkan kremasi. Urutan upacaranya sama dengan upacara pemakaman jenazah. Sebelum kremasi, jenazah didoakan dalam Misa Requiem, lalu dibawa ke krematorium.

Ada kalanya jenazah harus segera dikremasi sebelum Misa Requiem. Kasus ini dapat terjadi bila yang wafat mengidap penyakit menular, jarak makam sangat jauh, dan mahalnya biaya pengiriman jenazah. Berdasarkan alasan tersebut, Gereja mengizinkan abu jenazah dalam bejana dihadirkan dalam Misa Reqiuem sebelum dikuburkan, atau disimpan di kolumbarium. Sebenarnya setelah kremasi, tidak ada lagi ritual lain.

Bagaimana ritual pengambilan dan penempatan abu dalam bejana sampai disemayamkan?

Komisi Liturgi, baik KWI maupun keuskupan-keuskupan, dapat membuat kebijakan sendiri untuk menjawab kebutuhan umat. Biasanya hal ini diserahkan kepada kebijakan pastor paroki. Misalnya, kita bisa mengadakan doa, nyanyian disertai bacaan Kitab Suci, saat abu dimasukkan dalam bejana, dan sebelum disemayamkan.

Bagaimana cara yang tepat untuk penyempurnaan abu jenazah?

Prinsipnya, baik pemakaman maupun kremasi, jenazah atau abu jenazah harus diperlakukan dengan hormat. Hal itu termuat dalam Order of Christian Funerals yang disahkan oleh Kongregasi Ibadat pada 1989. Alasannya, tubuh adalah bait Roh Kudus yang berakar dari sakramen pembaptisan. Gereja menghormati badan yang sudah disucikan dengan air baptis. Dalam kremasi, bejana abu jenazah hendaknya terbuat dari bahan yang layak.

Selama dalam perjalanan, bejana dibawa dengan hormat sampai pada peristirahatan terakhir. Praktik menebarkan abu jenazah di laut, di gunung, di udara ataupun di tanah, dianggap tidak hormat. Abu jenazah boleh dimasukkan ke dalam laut, tetapi harus ditenggelamkan bersama bejananya. Bukan dengan cara ditebar. Gereja juga melarang penyimpanan abu jenazah, baik di rumah keluarga maupun teman. Alasannya, rumah bukan tempat penyimpanan abu jenazah, dan praktik itu dapat menimbulkan kesan bahwa umat Katolik memuja arwah atau ”berkomunikasi” dengan arwah. Kolumbarium atau makam adalah tempat yang dianjurkan untuk menyimpan abu jenazah, baik permanen maupun sementara, sebelum dimakamkan di tanah maupun di laut.

Dalam Peringatan Arwah 2 November, apa yang harus dilakukan?

Umat dapat pergi menabur bunga di tempat abu jenazah disemayamkan. Bagi yang memakamkan abu jenazah di laut, tentu ada kesulitan mengenali tempat persisnya abu dilarung. Namun, Gereja menyatakan, pada Peringatan Arwah, umat yang berdoa di makam atau berdoa berturut-turut dari 2 sampai 8 November, akan mendapat indulgensi penuh. Ini berarti arwah yang abunya dimakamkan di laut pun bisa mendapat indulgensi. Bila tetap pergi ke tempat penenggelaman dan menabur bunga, usaha ini dimaknai sebagai ungkapan cinta dan bakti dari keluarga. Baik jika diadakan doa sebelum menabur bunga.

Apa pesan Romo terkait praktik kremasi?

Bila memilih kremasi, keluarga dan imam hendaknya memperhatikan upacara setelah kremasi. Buku Upacara Pemakaman tidak memuat ritual apa pun setelah kremasi. Maka, imam perlu bersikap bijaksana dalam membantu dan mengarahkan umat.


R.B. Agung Nugroho




Kunjungan: 4389
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com