Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Bruder Frans Sugi FIC: Belajar dari Bruder Hoecken & Ki Hadjar - Hidup Katolik

Bruder Frans Sugi FIC: Belajar dari Bruder Hoecken & Ki Hadjar

Senin, 16 Januari 2012 15:55 WIB
Bruder Frans Sugi FIC: Belajar dari Bruder Hoecken & Ki Hadjar
[Br Justinus Juadi FIC]
Br Frans Sugi FIC

HIDUPKATOLIK.com - Bruder Frans Sugi (58) pernah memimpin Kongregasi Bruder FIC Provinsi Indonesia masa bakti 2000-2006. Setelah itu, biarawan yang gemar mendalang ini mengemban tugas sebagai Ketua Yayasan Pangudi Luhur Pusat 2006-2012.

Bruder Frans adalah seorang pemimpin. Tatkala ditanya perihal teori kepemimpinan, biarawan asal Paroki St Petrus dan Paulus Klepu, Sleman,Yogyakarta ini hanya tersenyum. Tak lama berselang, ia memberikan jawaban tegas. “Tidak perlu mencari-cari teori kepemimpinan,” tandas pria yang pernah menjadi anggota Dewan Umum Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Yang Dikandung Tak Bernoda (FIC) di Maastricht, Belanda. Br Frans memimpin Kongregasi FIC berdasarkan semangat Bruder Bernardus Hoecken FIC dan Ki Hadjar Dewantara.

Keutamaan pemimpin

Bruder Frans menjelaskan, Bernardus Hoecken adalah bruder FIC pertama, yang memberikan 10 keutamaan bagi para bruder yang bertugas menjadi pemimpin. Sepuluh keutamaan itu, yaitu rendah hati, teladan baik, mencintai para bruder, saleh, lembut hati, tabah hati, bijaksana dan berpengetahuan, semangat dan ugahari, serta percaya kepada Tuhan. “Apabila sepuluh butir keutamaan sudah dapat dipenuhi dalam memimpin, kiranya seseorang bisa menjadi pemimpin yang baik,” katanya.

Ia prihatin manakala seorang pemimpin tidak menunjukkan keteladanan. “Bagi seorang pemimpin, teladan baik itu mutlak. Tak bisa ditawar,” tegasnya. Bruder Frans sungguh menyayangkan sikap para pemimpin negara yang hanya mementingkan keluarga dan kelompoknya. “Hal semacam ini akan memicu hilangnya sikap keteladanan,” jelasnya.

Bruder Frans merefleksikan, seorang pemimpin, betapapun berpengalaman dan mahir dalam ilmu pengetahuan, ia tidak boleh percaya kepada “kebolehannya” sendiri. Dalam segala hal, ia lebih dulu harus memohon nasihat dan pertolongan Tuhan. “Ini akan menuntun seseorang pada sikap bijaksana,” kata alumnus Sekolah Pendidikan Guru Kidulloji Yogyakarta ini.

Menurutnya, perbuatan pemimpin yang kurang bijaksana dapat menimbulkan kekacauan. “Pemimpin harus sungguh insaf bahwa kata-kata dan tindakannya sedang diuji dengan teliti oleh anggota,” jelas Bruder Frans yang kini tinggal di Komunitas Randusari, Semarang.

“Sesuatu yang pada orang lain dinilai sebagai biasa saja, hal yang sama sungguh akan diperhatikan orang lain apabila dibuat oleh pemimpin,” sambungnya.

Sikap bijaksana seorang pemimpin dapat pula diwujudkan kepada anggota yang tua, lemah, dan sakit. “Janganlah mengatakan keadaan mereka menjadi gangguan atau batu sandungan,” katanya.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menjadi inspiratornya dalam memimpin. “Ki Hadjar telah memberikan garis sebagai pedoman kepemimpinan.” Semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, melekat erat dalam diri Ki Hadjar Dewantara. “Seorang pemimpin di depan memberi teladan, di tengah-tengah memberikan semangat, dan di belakang memberikan dorongan,” jelas Bruder Frans.

Keterbukaan

Bruder Frans mengagumi kepemimpinan Bruder Bernardus Hoecken. Ia selalu menggali model kepemimpinan pendahulunya. Prinsipnya, keterbukaan seorang pemimpin dan adanya program yang jelas sangat membantu kelancaran kepemimpinan. Program yang jelas dapat memberikan wawasan yang gamblang kepada anggota. “Terlebih dikomunikasikan kepada para anggota dari hati ke hati,” katanya.

Mengingat kesibukan para anggota, mereka akan dapat membuat penyesuaian seperlunya dengan agenda-agenda tugas pokoknya sehari-hari. “Meski demikian, tidak serta-merta semua agenda dapat selalu berjalan semulus yang diharapkan,” jelas Bruder Frans yang hobi menulis dan mengkliping.

Seorang pemimpin diharapkan mengunjungi anggotanya. “Kunjungan tidak harus formal,” katanya. Sapaan seorang pemimpin kepada anggotanya akan mempererat persaudaraan. “Apalagi, kepemimpinan religius,” katanya. Menurutnya, visitasi kanonik adalah sarana dan kesempatan untuk memperdalam transparansi. “Transparansi membawa makna sikap jujur dan murni hati,” tegasnya.

Seorang pemimpin harus berani mendahului dalam memberi salam, sapa, dan senyum. Cara demikian akan membantu terciptanya suasana nyaman dan kondusif. Suasana yang tegang tidak menguntungkan dalam hidup bersama. “Apalagi, bagi religius,” tandasnya.

Kecairan dalam hidup bersama sungguh diperlukan. Apalagi, setiap anggota mempunyai keyakinan dengan saling menyapa membuat hidup bersama menjadi nyaman dan lebih ringan. Tapi, menurut Bruder Frans, kecenderungan seseorang adalah mudah mencari enaknya sendiri, tidak mau dituntut. “Jika terjadi demikian, seorang pemimpin harus tegas. Berani menegur, meskipun kadang makan hati,” tegas Bruder Frans yang masih terus mengembangkan hobi mendalangnya.

Relasi dengan Tuhan

Dalam kepemimpinan, tim kerja dibutuhkan. Tim kerja ini mesti menjadi tim yang solid. Karena setiap pribadi itu unik, setiap anggota tim sangat perlu memahami watak masing-masing.

Pengalaman Bruder Frans, sebelum memulai bekerja sebagai tim, perlu sharing pengalaman tentang siapa, apa, bagaimana, mengapa, di mana setiap pribadi sekarang berada. “Dengan memahami pribadi tiap anggota, tim lebih mudah berkembang sesuai harapan.”

Hal yang sangat penting, menurut Bruder Frans, tim harus mempunyai satu konsep tentang apa yang akan dituju. Pernyataan keluar kepada anggota disampaikan satu orang, yaitu pemimpin. “Tim akan bubar apabila setiap anggota membawa visi dan misi masing-masing,” katanya.

Seorang pemimpin harus berkonsentrasi total terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Profesionalitas dalam kepemimpinan itu penting. Seseorang dikatakan profesional apabila ia terlatih, berpengalaman, mahir, dan kompeten. “Ia harus menguasai pekerjaan tertentu untuk mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat,” jelas Frans.

Pemimpin yang baik bukan soal profesionalitas semata. “Seorang pemimpin harus mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Kontak pribadi inilah yang seharusnya terjadi dan dihidupi pemimpin,” kata pengarah tim penulis buku “Kepangudiluhuran untuk Sekolah-sekolah Pangudi Luhur di Seluruh Indonesia”.

Meski jabatan sebagai Pemimpin Yayasan Pangudi Luhur hampir usai, jiwa kepemimpinan tetap melekat padanya. Ia senantiasa belajar menjadi pemimpin, seperti pendiri kongregasi dan Ki Hadjar Dewantara. “Terlebih saya belajar dari Sang Pemimpin Sejati, Tuhan Yesus,” tegasnya.

Seorang pemimpin hendaknya senantiasa menerima nasihat Roh Kudus. “Supaya setelah mengerjakan sesuatu, tiada penyesalan,” katanya. Roh Kudus berperan penting. “Terlebih saat pengambilan keputusan yang menyangkut masa depan anggota,” katanya menutup perbincangan.


Justinus Juadi FIC




Kunjungan: 1621
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com