Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Buah-buah Iman di Tanimbar - Hidup Katolik

Buah-buah Iman di Tanimbar

Selasa, 24 Januari 2012 18:30 WIB
Buah-buah Iman di Tanimbar
[HIDUP/R.B.E. Agung Nugroho]
Pastor Lambertus Somar MSC
Artikel Lainnya

HIDUPKATOLIK.com - Seabad sudah Gereja Katolik bertumbuh subur di Kepulauan Tanimbar. Bagaimana profil buah-buah iman pada masa kini?

Tangannya bergerak-gerak mengikuti alunan suara para penyanyi yang tergabung dalam paduan suara yang menyanyikan proprium. Kepalanya pun bergerak-gerak mengikuti irama lagu. “Yang ini menunjukkan gerak gelombang laut,” ujarnya seraya memejamkan mata.

Pastor Lambertus Somar MSC (77) begitu menikmati lagu-lagu yang dilombakan dalam Pesparani II Provinsi Maluku, medio Oktober lalu. Ia sangat hapal mana lagu-lagu ordinarium, mana proprium. Lagu-lagu ini setiapkali ia dengar dan nyanyikan dalam Misa yang ia ikuti, maupun yang ia pimpin sendiri, selama 47 tahun.

Romo Somar adalah imam pribumi pertama yang berasal dari Kepulauan Tanimbar. Pastor kelahiran Pulau Fordata ini mengawali jajaran sekitar 60-an pastor dari Kepulauan Tanimbar yang menjadi anggota dari berbagai kongregasi. Apa sebenarnya yang membuat benih panggilan begitu subur di sana?

Menurut Pastor Somar, ada beberapa aspek. Pertama, budaya Tanimbar dekat dengan Tuhan. Orang mudah mengabdi. Orang percaya, tidak sia-sia. Mereka percaya akan nenek moyang dan di atas nenek moyang (kubilaa), yaitu Tuhan yang besar. Pikiran orang Tanimbar tentang iman sangat cocok, sangat dekat dengan orang Katolik.

“Juga, saya melihat, misionaris yang datang memang sangat istimewa. Kebetulan kita mendapat orang-orang yang sangat luar biasa. Bayangkan, dalam waktu tiga tahun, di sini mereka sudah membuka SD.”

Tentang kebiasaan potong kepala? Pastor Somar menjelaskan, di Tanimbar, orang potong kepala bukan untuk dimakan, tetapi untuk mendapatkan jiwanya, rohnya. Kampung satu dengan kampung lain berkelahi, untuk menunjukkan kekuasaan. “Rohmu saya ambil sehingga saya berkuasa atas kamu. Kedua misionaris, Pastor Klerks dan Cappers, mengubah pola ini.”

Setelah membuka sekolah, mereka tidak mengubah kebiasaan setempat. Mereka membaptis anak-anak dulu, baru orang dewasa. Pelan-pelan orang mulai membuka diri.

Setelah SD, orang dewasa kemudian dikirim ke sekolah guru. “Termasuk ayah saya,” jelas pastor yang dikenal memperhatikan korban napza ini.

Maka, sesudah enam tahun, sudah ada guru setempat. Sejak awal, agama Katolik sungguh-sungguh tertanam. Mereka betul-betul dididik dan belajar. Karena itu, memang banyak panggilan. “Peranan keluarga-keluarga besar sekali. Calon-calon imam dan bruder, sejak awal berasal dari anak-anak guru.”

Romo Somar berasal dari Kampung Awear. “Saat saya tahbisan di sini, seluruh orang Tanimbar berkumpul. Semua agama. Mulai dari Saumlaki sampai kampung saya.”

Orang Kampung Awear boleh berbangga hati. Sejak dipelopori Lambertus Somar MSC, delapan orang kemudian ditahbiskan menjadi imam.

Hidup doa

Wakil Uskup untuk wilayah Maluku Tenggara Barat, Romo Aloysius Matruty Pr (43), juga berasal dari keluarga beriman. “Saya akui dengan jujur dan saya syukuri, saya lahir dalam keluarga yang sungguh beriman.”

Bapa-mamanya mengajarkan Romo Alo, panggilan akrabnya, dan ketujuh saudaranya mengenai kehidupan doa sepanjang waktu, selain mereka sendiri tekun berdoa. “Bangun pagi berdoa, makan berdoa, hendak sekolah berdoa, balik sekolah juga. Sampai malam sebelum tidur. Begitu seterusnya. Dari situ kemudian lahir nilai-nilai lain seperti saling menghormati, saling menyayangi.”


Aloysius Matruty Pr [HIDUP/Sylvia Marsidi]

Nilai kerja keras juga ia peroleh dari pendidikan ayah dan ibunya, salah satu nilai yang membuatnya menjatuhkan pilihan hidup sebagai imam Praja. Romo Aloysius Matruty Pr ditahbiskan pada 12 Juli 1997.

Mengikuti Bunda Teresa

Nekad, ia menerobos penjaga keamanan yang menutupi jalan Nuntius saat di Gereja Lauran. Tangannya langsung meraih tangan Nuntius. Ia mencium cincin Nuntius. Segera tindakannya diikuti umat lain. Pengawal kewalahan mengusir umat yang ingin mengikuti jejak perempuan berkerudung putih bergaris biru itu, Sr M. Theresia Laiyan ALMA (37).

Biarawati kelahiran Saumlaki ini langkahnya cepat dan tegas. Anak sulung dari tiga bersaudara pasutri Wenseslaus-Dominika Laiyan ini menjadi Katolik sejak masih bayi merah.

Sr Risye, panggilan kesayangannya, masih ingat jelas bagaimana ibunya selalu bercerita tentang agama saat ia berangkat tidur. “Setelah ibu selesai cerita, kami dilatih berdoa Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan.”

Tak hanya di rumah, Risye juga selalu dibimbing para guru di sekolah. “Setiap pukul 05.30, kami sudah harus berada di gereja untuk mengikuti doa-doa pagi.”


M. Theresia Laiyan ALMA [HIDUP/Sylvia Marsidi]

Dengan latar belakang pendidikan seperti itu, ditambah pernah tinggal di asrama suster PBHK sewaktu SMP dan SMA, tak heran jika Risye menjatuhkan pilihan hidupnya sebagai biarawati. Ia sangat tertarik menjadi biarawati, dan itu sudah tertanam di dalam hatinya sejak kecil. Suara yang memanggil-manggil itu semakin nyaring terdengar olehnya saat ia menerima Sakramen Krisma dari Mgr Joseph Tethool MSC (Alm). “Saya mendapat sebuah rosario dan gambar Mother Teresa dari Kalkuta. Ini membuat saya semakin berpikir untuk mencari tahu siapakah orang ini. Perlahan-lahan saya belajar mengenal Mother Teresa. Akhirnya, saya juga terinspirasi untuk bisa menjadi seperti beliau,” ujarnya.

Orang pertama dari Tanimbar yang masuk ALMA ini kini memperluas Kerajaan Allah di luar Tanimbar. Dengan bekal pendidikan S2 Magister Manajemen Universitas Tribhuana Tunggadewi Malang, ia melakukan karya-karya pelayanan yang tidak jauh dari karya-karya Mother Theresa.

Panggilan

Berbincang dengan pasutri Yohanes-Lita Ngalngola di rumah mereka di Larat, sungguh menyenangkan. Orangtua Pastor Paul Ngalngola MSC ini memang menyerahkan pilihan hidup kepada anak mereka sepenuhnya. “Waktu Paul masih sekitar enam tahun, saat kunjungan seorang frater ke sini, dia ditanya. ‘Kalau besar mau jadi apa? Jadi bapa uskup!’ Mama dan Bapa merasa terharu.”

Ucapan itu tetap disimpan Mama Lita di dalam hati. Sementara itu, Paul kecil menamatkan SD dan SMP. “Tamat SMP, dia bilang, Mama dan Bapa, kalau beta tidak pi seminari, beta tidak mau sekolah lagi,” lanjut Lita.

“Kita hanya mengikuti saja,” ujar Yohanes. Jadi, setamat SMP, Paul langsung ke seminari di Langgur selama tiga tahun, dan melanjutkan ke Pineleng Manado. Paul Ngalngola ditahbiskan sebagai imam MSC, tahun 2005.

Evangelis muda

Kisah-kisah dan panutan tentang kekatolikan yang mereka terima sejak kecil, ternyata menyuburkan iman mereka. Bukan saja pada mereka yang sudah dewasa, tetapi juga pada anak-anak muda. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hal ini tampak menonjol saat menyaksikan Pesta Paduan Suara Gerejani II (Pesparani) se-Provinsi Maluku, yang dibuka dengan Misa akbar dipimpin Nuntius. Dalam kegiatan yang diikuti tidak kurang dari seribu lima ratus umat dari berbagai stasi dan paroki seluruh Maluku ini, terlihat bakat-bakat terpendam dalam menyanyikan Mazmur, khotbah/renungan, penuturan Kitab Suci, selain paduan suara.

Salah satunya, Angel Jeojanan. Siswi kelas II SMA Sanata Karya Langgur ini memukau pengunjung dengan khotbah yang ia buat sendiri selama 15 menit. Mengambil bacaan Mat 18:1-5, anggota SEKAMI ini, dengan penuh percaya diri, memberikan pengajaran mengenai kekatolikan sesuai usianya.

Susah membuat khotbah, Angel? “Seng (tidak). Pertama, beta tulis sendiri. Lalu tulisan beta beri kepada Pastor Titus Rahail MSC untuk diperiksa,” ujar anak dara yang biasa memimpin doa di kelompoknya ini.

Masih banyak imam, suster, dan awam dewasa maupun remaja yang memberikan jawaban senada, betapa iman Katolik mereka terpelihara berkat lingkungan, tanah, air, laut, kehidupan keluarga, dan kehidupan masyarakat yang menunjang kekatolikan tersebut. Pastilah Pastor Joseph Klerks dan Eduard Cappers, dua imam MSC yang meletakkan dasar-dasar kekatolikan di Bumi Duan Lolat (Tanah Tumpah Darah), tersenyum di surga sana…


Sylvia Marsidi




Kunjungan: 2691
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com