Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Seabad Baptisan Tanimbar - Hidup Katolik

Seabad Baptisan Tanimbar

Selasa, 24 Januari 2012 17:47 WIB
Seabad Baptisan Tanimbar
[HIDUP/Sylvia Marsidi]
Nuntius disambut secara adat di Saumlaki.
Artikel Lainnya

HIDUPKATOLIK.com - Senin, 17 Oktober 2011, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi, mendarat di Pulau Larat, Kepulauan Tanimbar, Keuskupan Amboina.

Dari jauh sudah tampak umat menari dan menyanyi di atas perahu-perahu penyambut. Rombongan Nuntius Apostolik (Duta Besar) datang dari Saumlaki, Ibu Kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Saumlaki terletak di Pulau Yamdena, pulau terbesar di Tanimbar. Tanimbar sendiri merupakan kepulauan terbesar di Maluku Tenggara Barat. Kepulauan lainnya adalah Babar, Leti, Damar, dan Wetar yang terletak di Lepas Pantai Timor Leste.

Perjalanan Saumlaki - Tanimbar ditempuh selama empat jam dengan kapal cepat Siwa Lima. Setelah mendarat, rombongan menuju lapangan untuk upacara adat. Kaum tua-tua memakaikan tiga lapis baju adat ke Nuntius. Sepanjang jalan dari pelabuhan ke Wisma Unio, umat mengelu-elukan rombongan. Anak-anak berseragam sekolah berbaris, melambaikan bendera merah putih dan kuning putih.


Di Larat, umat menyambut dengan antusias. [HIDUP/Sylvia Marsidi]


Pulau Larat merupakan salah satu titik penting perjalanan Gereja Katolik di Kepulauan Tanimbar. Dua misionaris MSC, Pastor Joseph Klerks dan Eduard Cappers, memulai misi ini pada tahun 1910. Sekarang, Kabupaten Maluku Tenggara (Kepulauan Kei) dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat adalah salah satu Basis Gereja Katolik Indonesia.

Kerukunan beragama

Setelah memberkati Wisma Unio yang pembangunannya dibantu Pemprov Maluku, Nuntius beristirahat untuk menyiapkan Misa akbar di Lapangan Temarlolan. Populasi umat Katolik di Pulau Larat tidak sebanyak di Saumlaki. Namun, mereka hidup rukun bersama umat Protestan dan Islam. Pada Misa yang dihadiri sekitar 5.000 orang tersebut, umat Protestan yang sebagian besar jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) menyumbang paduan suara. Umat Islam menyumbang acara kesenian seusai Misa.

Meski Misa baru dimulai pada pukul 17.00, umat sudah berdatangan sejak pukul 13.00. Misa dipimpin Mgr Antonio Guido Filipazzi, didampingi Uskup Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC, dan Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap, yang mendampingi Nuntius dari Ambon. Hari itu bertepatan dengan perayaan Santo Ignatius dari Antiokhia, dan Nuntius menekankan peranan Santo itu dalam kehidupan Gereja. Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam Misa terdiri dari dua macam: bahasa Latin dan bahasa Tanimbar dialek Larat.

Acara ini dihadiri Bupati Maluku Tenggara Barat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Maluku, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Ketua dan Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten, Camat dan Muspika Tanimbar Utara, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku, dan Ketua WALUBI Maluku.

Sangat padat

Sebelum ke Larat, Nuntius mengunjungi Saumlaki, pusat peringatan seratus tahun baptisan pertama di Tanimbar, Senin pagi. Rombongan berangkat ke Saumlaki, Tanimbar Selatan dari Airport Laha, Ambon. Perjalanan udara Ambon-Saumlaki ditempuh selama 1,5 jam. Tiba di Bumi Duan Lolat, Saumlaki, rombongan disambut Bupati Maluku Tenggara Barat, didampingi Wakil Uskup untuk wilayah ini. Di sini Nuntius juga disambut secara adat.

Di Saumlaki, rombongan Duta Besar secara berturut-turut mengunjungi kawasan wisata rohani Kristus Raja Finduar, monumen pembaptisan, Gereja Ratu Rosario Suci Olilit Lama, Gereja Hati Kudus Olilit Baru, dan Gereja St Matius Saumlaki. Sepanjang jalan menuju lokasi, anak-anak sekolah melambai-lambaikan bendera merah putih dan kuning putih. Di gereja-gereja tersebut, ratusan umat sudah memenuhi ruangan sejak pagi.


Monumen baptisan pertama di Kepulauan Tanimbar. [HIDUP/Sylvia Marsidi]

Sebagai wakil Paus, Nuntius hanya singgah sekitar lima menit di tiap lokasi kunjungan, untuk memberi berkat dan menyapa umat yang mengulurkan tangan untuk bersalaman. Nuntius juga tampak membiarkan beberapa umat mencium tangannya. Setelah semalam menginap di Larat, esok paginya, Selasa, 18/10, Nuntius kembali ke Saumlaki dengan menggunakan kapal cepat.

Setiba kembali di Pelabuhan Saumlaki, Nuntius langsung ke Waitole-Sifnana dan Gereja Lauran. Di sepanjang kiri kanan jalan ini terdapat “Kampung Katolik”, sebab penduduknya 100 persen pemeluk Katolik. Tampak bendera dan umbul-umbul kuning putih berjajar. Tembok rumah-rumah penduduk pun dicat kuning. Di depan Wisma Unio, tempat Nuntius menginap, terletak Stadion Aloysius Gonzaga dan Gedung Natar Kaumpu (tempat berkumpul).

Di stadion inilah, Selasa, 18 Oktober 2011 sore, diselenggarakan Misa Akbar 100 Tahun Gereja Katolik Tanimbar, sekaligus Pembukaan Pesparani II Provinsi Maluku. Sekitar 10 ribu umat berkumpul di bawah terik matahari. Banyak umat yang tidak bisa masuk, hingga terpaksa berdiri di luar stadion. Misa dipimpin langsung oleh Nuntius didampingi Uskup Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC, Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap, dan Uskup Manado Mgr Jos Suwatan MSC.

Liturgi hari ini memperingati St Lukas Penginjil, seorang dokter. Nuntius menekankan bahwa evangelisasi di Maluku berkembang berkat jasa tarekat MSC, termasuk Uskup Mandagi. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”. Sesudah seabad Injil masuk Tanimbar, kata-kata ini tetap relevan. Belum banyak tuaian, karena ada beberapa tantangan yang dihadapi. Misalnya, ada yang menyangkal Kristus meskipun sudah menerima Yesus.

Nuntius juga mengutip bahwa ada 72 orang yang diutus mewartakan Injil, termasuk kaum perempuan. Ia juga mengingatkan peranan Bunda Maria dalam kehidupan Gereja. “Kita menjadi orang kristiani karena nama atau perbuatan? Untuk memberitakan Injil, kadang-kadang kita perlu pengampunan. Dan, seperti Santo Lukas, kita perlu bertindak sebagai penginjil untuk orang miskin dan orang sakit.”

Seusai Misa, Nuntius menginap di Saumlaki, dan paginya kembali ke Jakarta dengan transit di Langgur, Kepulauan Kei, dan Ambon.

Tamu negara

Sebagai tamu negara, mewakili Takhta Suci Vatikan, Nuntius mendapatkan kawal kehormatan sejak kedatangan sampai kepulangannya. Setiba di Ambon dari Jakarta, pada Sabtu, 15 Oktober 2011, Mgr Antonio Guido Filipazzi singgah di katedral, baru kemudian menuju wisma keuskupan. Sepanjang jalan menuju katedral dan wisma keuskupan, murid-murid SD, SMP, dan SMA Xaverius dengan drumbandnya, telah lama menunggu seraya melambai-lambaikan bendera merah putih dan kuning dari kertas. Nuntius memasuki katedral, disambut dengan lagu-lagu oleh umat. Bersama Uskup Amboina, Nuntius berdoa sebentar, memberi berkat kepada umat, dan meninggalkan katedral menuju wisma keuskupan.


Nuntius, Gubernur Maluku, Uskup Mandagi, dan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku Pdt John Ruhulesin. [HIDUP/Sylvia Marsidi]

Malam harinya, Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, mengundang Nuntius untuk makan malam di gubernuran. Hadir dalam acara tersebut, aparat pemerintah provinsi, para tokoh agama dan masyarakat. Dalam sambutannya, Gubernur menekankan pentingnya dialog antaragama di wilayah Ambon. Gubernur menyambut gembira kunjungan Duta Besar Vatikan ke Tanimbar.

Dalam sambutannya, Nuntius menyebut bahwa Ambon dikenal karena Santo Fransiskus Xaverius. Ambon dikenal juga bisa belajar dari masa lampau untuk membangun masyarakat Indonesia masa depan. Sebagai wakil Paus, Nuntius berharap, wilayah Ambon bisa membangun masa depan yang cerah. Nuntius mengutip ucapan Yesus dalam bacaan Misa Minggu ini, “Berikanlah kepada kaisar bagiannya, dan berikanlah kepada Allah bagian-Nya.” Ia berharap, Kristus menjadi perantara damai dan selalu mengadakan kerjasama yang erat dengan semua orang beragama.

Di antara para pejabat Katolik yang hadir, tampak Sekretaris Daerah Ros Farfar. Hadir pula para suster PBHK dan ALMA yang berkarya di Keuskupan Amboina. Di wisma keuskupan, Nuntius menyempatkan diri mengikuti Misa pagi yang rutin diadakan di kapel. Nuntius juga mengikuti doa rosario yang rutin diselenggarakan selama Oktober.

Calon-calon evangelis

Nuntius tiba di Ambon, Sabtu, 15 Oktober 2011. Setelah menginap semalam, esoknya, hari Minggu, ia memberkati gedung Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) yang akan mendidik para calon katekis, dan Seminari Tinggi Poka Rumah Tiga, yang akan mendidik para imam untuk jenjang Strata 2.

Pagi itu, umat dari paroki-paroki Kota Ambon berduyun-duyun mendatangi Gereja Santo Yosef, Rumah Tiga di kompleks gedung Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) St Yohanes Penginjil, di wilayah utara Ambon. Mereka akan mengikuti Misa yang dipimpin Nuntius. Ada yang datang dengan angkot, ada yang mencarter mobil. Tua muda ingin melihat Nuntius yang baru pertama kali ini datang ke Ambon.

Hari Minggu ini, Misa memang ditiadakan di gereja masing-masing paroki, dan hanya akan dipusatkan di Poko Rumah Tiga. Nuntius didampingi dua selebran lain, yakni Mgr P.C. Mandagi dan Mgr Hieronimus Bumbun. Misa dihadiri sekitar 2.000 umat dan para pastor Keuskupan Amboina.

Perayaan Ekaristi ini juga dihadiri Bupati Maluku, Karel Albert Ralahalu, beserta istri. Misa diiringi lagu berbahasa Indonesia dan Latin. Khotbah Nuntius disampaikan dalam bahasa Indonesia. Disebutkan, pada abad 16 misionaris pertama datang ke pulau-pulau di wilayah ini. Mereka dituntun Fransiskus Xaverius pada 14 Februari 1546. Namun, baru empat abad kemudian, ada evangelisasi lagi yang besok akan diperingati di Saumlaki dan Larat.

Kini, evangelisasi berjalan baik karena ada orang-orang semacam Fransiskus Xaverius, dan para misionaris MSC. Tak bisa dikesampingkan peran awam seperti Manuel Hatiwi yang menemani Fransiskus Xaverius sebagai penuntun. Sekarang, misi Gereja diserahkan kepada semua anggota Gereja, termasuk awam dan katekis. Dengan adanya dua gedung baru tempat pendidikan imam dan awam, yang akan diberkati hari itu, mereka bisa berbagi misi yang sama, demikian Nuntius.

Misa berlangsung cukup lama, karena semua umat ingin mendapat komuni langsung dari Nuntius. Selesai Misa, Wakil Gubernur Maluku dan Wakil Walikota Ambon turut bergabung, untuk mengikuti acara pemberkatan gedung. Wakil Walikota Ambon, M.A.S. Latuconsina memberi apresiasi terhadap kehadiran dua institusi pendidikan ini. Melalui pendidikan tinggi, Gereja Katolik telah mengajarkan iman.

Uskup Amboina, Mgr P.C. Mandagi, berterima kasih kepada para pejabat pemerintah dan tokoh agama yang hadir dalam acara ini. Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab, hanya segelintir orang yang suka kerusuhan yang tidak beradab. Adanya dua institusi pendidikan ini, ia harapkan dapat menciptakan awam-awam dan imam-imam yang mampu memberi keteladanan dalam kepemimpinan.

Gubernur Maluku menekankan bahwa misionaris yang datang telah mengajar, membuat penduduk asli mengenal agama-agama lain. Ia mengajak umat untuk menciptakan Maluku yang religius dalam keberagaman suku dan agama.“Ciptakanlah harmonisasi dan kerukunan di antara anak-anak Maluku. Kontribusi Keuskupan Amboina di bidang pendidikan sungguh nyata.” Ia berharap, pluralisme dan penanganan konflik menjadi bahan pembelajaran dalam dua institusi yang diresmikan ini.

Acara ini ditutup dengan pemberkatan gedung STPAK St Yohanes Penginjil dan Seminari Tinggi St Fransiskus Xaverius Keuskupan Amboina dan santap siang bersama. Perjalanan Nuntius ke kepulauan Tanimbar berakhir pada Rabu, 19/10. Kali ini perjalanan dari Saumlaki transit di Bandara Langgur, menuju Ambon, mampir di Poka, dan langsung ke Jakarta. Sebelum meninggalkan Saumlaki, Nuntius menyempatkan diri melihat Seminari Kecil Maria Vianey, salah satu tempat persemaian bibit-bibit iman Katolik di Kepulauan Tanimbar.


Sylvia Marsidi




Kunjungan: 2678
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com