Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Ignatius Haryanto: Pastoral Berbasis Data - Hidup Katolik

Ignatius Haryanto: Pastoral Berbasis Data

Senin, 30 Januari 2012 14:51 WIB
Ignatius Haryanto: Pastoral Berbasis Data
[dashboardspy.com]

HIDUPKATOLIK.com - Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), sejak 2009, memiliki wacana tentang Pastoral Berbasis Data. Merujuk pada suatu upaya dari keuskupan dan paroki-paroki yang bernaung di bawahnya untuk menggiatkan pendataan atas potensi yang dimiliki oleh umat di masing-masing paroki.

Pastoral berbasis data dirasa penting untuk mengetahui ”realitas” umat yang ada di wilayah paroki dan keuskupan. Sejak masa itu pula format kartu keluarga di wilayah KAJ sedikit berubah dan ada rincian lain yang cukup detil dengan anggota keluarga: pertanyaan soal profesi, jenjang pendidikan, dan lain-lain.

Menarik membayangkan, jika data umat yang ada terkumpulkan dengan baik sehingga pelayanan pastoral dikemas dengan suatu basis yang cukup jelas. Bicara soal data, memang banyak hal bisa jadi data: apakah itu data soal potensi umat, aspirasi umat, dan keresahan umat. Namun, hal ini juga tergantung apakah ada kesadaran yang sama akan pentingnya data, baik di kalangan umat, pastor paroki, dan dewan paroki.

Sesudah data terkumpul, lalu bagaimana? Apakah data yang terkumpul bisa dipergunakan sebagaimana mestinya? Data yang ada bisa dibuat jadi ”bunyi” untuk mereka yang membutuhkannya? Boleh percaya atau tidak, tetapi yang saya ungkapkan ini adalah hasil pembicaraan saya dengan beberapa pihak, di antaranya Uskup Agung Jakarta.

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) sudah lama memiliki data statistik yang dikelola oleh sebuah lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Lembaga ini telah bertahun-tahun menjadi tempat penyimpanan data, tempat verifikasi data. Tidak banyak orang sadar bahwa kegiatan ini berlangsung. Banyak uskup merasa tak pernah mendapatkan hasil data semacam itu.

Lepas dari apakah data tadi sudah tersebar atau belum kepada pihak yang memerlukannya, di sini kita akan melihat betapa ironisnya. KWI dan lembaga pendidikan mengelola data seperti itu dalam skala nasional, namun hasil datanya tak cukup memuaskan. Mengapa tidak cukup memuaskan? Karena data yang ada tidak diolah. Data yang ada dibiarkan telanjang begitu saja (istilahnya raw data). Belum ada suatu perspektif tertentu untuk membuat data bertahun-tahun itu jadi bunyi.

Ada empat jenis data yang dikumpulkan: data jumlah umat, data biarawan/wati, data sekolah Katolik dan data rumah sakit Katolik. Memang soal data mentah ini pun masih harus diperiksa lebih jauh, seberapa akurat atau fiktif?

Dari data mentah, kita harusnya bisa menjawab sejumlah pertanyaan: apakah jumlah umat Katolik mengalami pertumbuhan secara signifikan? Apakah rasio antara umat dan biarawan/wati sudah mencukupi? Apakah ada kecenderungan keluarga Katolik tidak memiliki sekolah Katolik sebagai pilihan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya? Apakah rumah sakit Katolik yang ada masih menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat?

Yang hendak saya katakan adalah bahwa kesadaran akan data, mulai dari merumuskan data apa yang hendak didapat, proses pengumpulan data, proses verifikasi data, dan proses interpretasi data, adalah suatu hal yang tidak main-main. Namun, dalam lingkup nasional, ternyata hal ini sangat diabaikan. Apakah ada jaminan dalam lingkup yang lebih kecil hal ini tidak terjadi? Uskup Agung Jakarta sendiri mengakui bahwa kelembagaan nasional seperti KWI, hingga hari ini tidak memiliki divisi penelitian.

Dalam hati saya berteriak, ”Apaaa? Tidak memiliki lembaga riset?” Bagaimana bisa sebuah lembaga yang berusia puluhan tahun, dengan mengelola umat sekitar 8-9 juta orang, tak memiliki suatu lembaga riset? Jadi, bagaimana dengan policy yang selama ini telah berjalan? Adakah pendasaran ilmiah atau rasio tertentu yang dipergunakan?

Pastoral berbasis data memang menarik sebagai wacana. Namun, menuangkannya menjadi aplikatif, efektif, dan efisien, rasanya memerlukan perubahan cara berpikir dari banyak pihak. Ini pekerjaan rumah yang tidak mudah.


Ignatius Haryanto
ignh@yahoo.com




Kunjungan: 1113
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com