Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kasih dari Sanggar Merah Merdeka Surabaya - Hidup Katolik

Kasih dari Sanggar Merah Merdeka Surabaya

Selasa, 7 Februari 2012 10:52 WIB
Kasih dari Sanggar Merah Merdeka Surabaya
[Fransiskus Pongky Seran]
Kegiatan belajar mengajar di Komunitas Sanggar Merah Merdeka.

HIDUPKATOLIK.com - Bantaran Kali Jagir Wonokromo Surabaya dipadati rumah penduduk. Umumnya, lingkungan ini ditempati kaum marjinal, seperti pemulung sampah, pengamen, tukang becak, buruh kasar, dan pekerja serabutan.

Kala itu, masyarakat mendapat surat dari Dinas Sosial setempat untuk menempati daerah tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan adanya surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan ketentuan peraturan pemerintah untuk penataan ulang Kota Surabaya pada 2008, rumah warga yang ada di sekitar bantaran kali itu harus digusur.

Imbasnya, banyak anak dari keluarga yang kurang mampu tereksploitasi. Mereka harus bekerja untuk mendapatkan uang. Hak-hak sebagai anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak tak tersentuh.

Merangkul

Tidak jauh dari daerah permukiman padat penduduk Kali Jagir ini terdapat sebuah sanggar yang beranggotakan anak-anak jalanan dan anak-anak pinggiran. Sanggar tersebut bernama Sanggar Merah Merdeka. Sanggar ini berdiri pada 1998, bernaung di bawah Yayasan Kasih Bangsa yang dikelola para imam Kongregasi Misi (CM).

Sanggar ini berawal dari keprihatinan krisis moneter 1998 yang berimbas pada membludaknya kaum marjinal, seperti: PSK, waria, pengemis, pengamen, dan pemulung. Tahun 2000, kelompok ini bukan saja beranggotakan orang-orang dewasa, tapi juga anak-anak.

Sanggar Merah Merdeka dengan koordinatornya Pastor Markus Rudy Hermawan CM merupakan salah satu divisi yang bernaung di bawah Yayasan Kasih Bangsa, selain divisi Wadah Asah Solidaritas (Wadas) dan divisi Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK).

Sanggar Merah Merdeka yang terletak di daerah Bendul Berisi Permai B-23 Surabaya ini mendampingi kurang lebih 90 anak yang sebagian besar masih duduk di bangku SD. Mayoritas anak yang didampingi di sanggar ini beragama Islam, selain Protestan dan Katolik. Para tutor dan relawan serta pendamping anak-anak berjumlah sembilan orang, dengan ketua Pastor Markus Rudy Hermawan CM. Mereka yang bekerja sebagai tutor adalah relawan. Mereka mendampingi anak-anak sesuai keahlian masing-masing.

Sanggar ini juga memiliki perpustakaan mini, alat-alat musik, dan alat-alat belajar lainnya. Mereka juga bekerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya. Para mahasiswa dari universitas ini biasanya mengadakan praktik di sanggar ini.

Selain itu, sanggar ini bekerjasama dengan Dinas Sosial pemerintah kota untuk mengadakan sosialisasi dan pembinaan pada anak-anak jalanan, pengamen, pengemis yang terjaring razia petugas di jalan.

Fokus utama kegiatan sanggar ini adalah pendampingan belajar. Setiap malam anak-anak belajar bersama pada pukul 18.30-20.30. Pada umumnya anak-anak ini dibagi dalam beberapa kelompok dan dibimbing oleh para tutor.

Selain kegiatan di atas, juga ada aktivitas lain seperti majalah dinding yang memuat tulisan anak-anak sanggar, buletin sebagai sarana informasi bagi orangtua dan donatur, makan dan minum sehat pada hari Minggu pertama setiap bulan, olah raga pada hari Minggu ketiga setiap bulan, latihan musik, tarian, dan sosialisasi hak anak.

Dalam sanggar ini, anak-anak dilatih untuk memiliki solidaritas, tanggung jawab, kejujuran, dan kerja keras. Misalnya, sambil bersepeda anak-anak dilatih untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan memungut sampah yang mereka temui di jalan.

Fokus pada proses

Sanggar yang memakai nama Merah Merdeka ini merupakan singkatan dari Membangun Masyarakat Humanis, Membebaskan Rakyat Dengan Kasih. Tujuan sanggar dibentuk ialah untuk mencegah eksploitasi terhadap anak-anak. Saat ini, Sanggar Merah Merdeka fokus pada pendampingan anak karena menurut mereka anak adalah awal dari kesuksesan sebuah keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Dalam pendampingan, hal yang ditekankan Sanggar Merah Merdeka adalah pada proses pembentukan anak bukan hanya pada hasil. Anak-anak dilatih untuk memperhatikan benar-benar proses yang harus dilalui sebelum menghasilkan sesuatu. Contohnya, makanan bergizi tentu dihasilkan dari suatu proses yang baik dan panjang. Seorang anak mendapat nilai 100 karena melewati proses belajar yang panjang dan serius.

Di dalam kelompok belajar ini, anak-anak berlatih untuk belajar sendiri. Jika menemui kebuntuan, barulah mereka dibantu. Dari sana akan terlihat interaksi, saling membantu, dan kerjasama.

Selain itu, anak-anak terlibat aktif dalam setiap perlombaan akademik. Hasil yang diraih pun boleh dikatakan cukup membanggakan. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa mereka perlu dibimbing dengan serius.

Sanggar yang berdiri di bawah Yayasan Kasih Bangsa ini memiliki kekuatan hukum yang ditetapkan dalam keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No AHU 454 AHA 01.04 Tahun 2010. Sanggar ini memiliki donatur tetap dan donatur tidak tetap. Terkadang umat juga menyumbangkan beras, gula, susu, minyak goreng, dan pakaian layak pakai.


Anak-anak jalanan di Komunitas Sanggar Merah Merdeka. [Fransiskus Pongky Seran]

Solidaritas


Anggota Sanggar Merah Merdeka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, baik suku, agama, maupun status sosial. Perbedaan latar belakang anggota sanggar tidak melemahkan kerjasama yang harus dibangun di antara mereka. Hal ini terbukti pada saat kegiatan belajar berlangsung. Anak-anak diberi tanggung jawab dalam kelompok untuk saling membantu dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh para tutor.

Demikian juga dengan kegiatan makan dan minum sehat. Anak-anak diajak bekerjasama mulai dari membeli bahan makanan, meracik, hingga siap disajikan. Dalam kegiatan seperti ini, para tutor selalu menekankan koordinasi antaranggota kelompok.

Sanggar Merah Merdeka senantiasa menanamkan sikap solidaritas untuk menggali dan mempelajari nilai-nilai keutamaan dalam hidup. Yang paling utama adalah aplikasi nilai dalam hidup harian, bukan sekadar nilai yang tinggi di atas kertas.

Fransiskus Pongky Seran




Kunjungan: 1371
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com