Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Yohanes Bosco (1815-1888): Santo Pelindung Orang Muda - Hidup Katolik

Yohanes Bosco (1815-1888): Santo Pelindung Orang Muda

Senin, 20 Februari 2012 13:55 WIB
Yohanes Bosco (1815-1888): Santo Pelindung Orang Muda
[HIDUP/Panjikristo]
Patung Santo Yohanes Don Bosco

HIDUPKATOLIK.com - Pendiri Serikat Salesian Don Bosco, Yohanes Bosco, sangat memperhatikan orang muda selama hidupnya. Baginya, orang muda adalah tulang punggung sekaligus penerus kehidupan Gereja.

Semangat melayani kaum muda rupanya juga menjadi inspirasi Paroki Yohanes Bosco. Berbagai fasilitas penunjang kegiatan orang muda disediakan. Bahkan, paroki ini mempunyai tempat billiard dan fitness.

”Perihal nama Paroki Santo Yohanes Bosco, itu ide dari Mgr Leo Soekoto SJ, Uskup Agung Jakarta waktu itu.” Demikian kisah Delegatus Provinsial Salesian dan perintis Salesian di Indonesia, Pastor Jose Carbonell Llopis SDB. Waktu itu, ia terlibat dalam Panitia Pembangunan Gereja Sunter Selatan (PPGSS) di bagian seksi perizinan sebelum ada Gereja Santo Yohanes Bosco, Danau Sunter, Jakarta Utara.

Memasuki gereja ini, terlihat patung St Yohanes Bosco setinggi 210 sentimeter. Patung ini tidak berdiri sendiri. Patung Yohanes Bosco berdiri bersama Dominic Savio dan Zefferino Namuncura. Dua orang yang disebut terakhir ini adalah wakil kaum muda Katolik saat Santo Yohanes Bosco hidup.

Hal ini mengingatkan bahwa kerasulan dan misi Don Bosco didedikasikan untuk kaum muda. Patung yang diresmikan pada 31 Januari 2006 dan dibuat di Yogyakarta itu merupakan reproduksi dari patung aslinya yang berada di Italia.

”Orang muda adalah bagian dari gereja ini. Kami membina mereka agar menjadi orang-orang yang beriman, berguna bagi Gereja dan bagi dirinya sendiri dan bisa menjalankan tugas pelayanan liturgi dengan baik,” ujar Pastor Paroki St Yohanes Bosco Peter Pehan Tukan SDB. Berbagai fasilitas diberikan paroki kepada orang muda. Antara lain, bola untuk sepak bola dan futsal, bola basket, hingga tempat billiard.

Bahkan, ruang fitness pun ada. Ruang ini diberi nama Valdocco - nama tempat oratori pertama yang dimiliki Yohanes Bosco. Selain itu ada juga Bosco Photo Club, Bosconian Orchestra, Paduan Suara, dan Persekutuan Doa khusus Orang Muda Katolik (OMK). Bahkan, Bendahara II Dewan Paroki dijabat oleh orang muda.

Seksi Kepemudaan di Dewan Paroki Yohanes Bosco juga memiliki Sub Seksi Savio Friend Club yang membawahi kegiatan OMK, Young Profesional Club, Bosconian Mini Orchestra, dan Bosco Green Club. Semua karya ini tentu sangat khas orang muda dan hingga sekarang terus bertahan.

Paroki ini tidak berdiri begitu saja. Bertahun-tahun paroki ini berjalan dengan sabar meningkatkan statusnya perlahan-lahan dari stasi menjadi paroki mandiri. Sebelum 1980, warga Katolik di Sunter dan sekitarnya pergi beribadah ke Katedral Jakarta dan Paroki Santo Alfonsus Rodriguez, Pademangan, Jakarta Utara. Namun, kesadaran untuk mandiri dan memiliki gedung gereja sendiri mendorong mereka untuk melakukan berbagai upaya.

Keinginan ini terwujud. Mereka pun memiliki paroki sendiri yang diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Sukoto SJ pada 1989. Paroki di wilayah Sunter Agung ini bernama Paroki Santo Lukas.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah umat Katolik, sebagian umat yang berada di Sunter Selatan memakai kapel di Wisma Salesian Don Bosco untuk kegiatan ibadat. Pada Agustus 1993 umat di Sunter Selatan mendapat sumbangan tanah seluas 5.390 meter persegi di Jalan Taman Sunter Indah Blok A-3, No 14-20, Jakarta Utara, dari seorang umat, Trihatma Kusuma Haliman.

Pada Desember 1993 umat mengajukan proposal pembangunan Gereja Santo Yohanes Bosco ke Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Dan Mei 1994, Panitia Pembangunan Gereja Sunter Selatan (PPGSS) secara resmi diangkat oleh Dewan Paroki Santo Lukas.

Pada 31 Januari 2000 Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ meresmikan Stasi Santo Yohanes Bosco dan membentuk dewan stasi. Stasi ini dipersiapkan menjadi sebuah paroki. Pada 31 Januari 2003 gedung gereja yang mereka impikan diberkati dan diresmikan sebagai paroki ke-54 di KAJ oleh Julius Kardinal Darmaatmadja SJ.

Paroki ini pun mencatat sejarah ketika pada Maret 2011, relikwi Santo Yohanes Bosco singgah di sana. Hal ini dilakukan dalam rangka peringatan 150 tahun kehadiran Salesian Don Bosco (SDB) di dunia (1859-2009) dan 200 tahun peringatan kelahiran Santo Yohanes Bosco (1815-2015). Relikwi ini diarak keliling berbagai negara sejak 2009 dan berakhir 2015, dengan mengunjungi 130 negara di lima benua tempat SDB berkarya.

Pelindung kaum muda

Yohanes Bosco dilahirkan di sebuah dusun kecil, Becchi, Piedmont, Italia pada 16 Agustus 1815. Ia adalah putra kedua dari pasangan petani miskin, Fransisco Bosco dan Margaretha Occhiena. Saat berusia dua tahun, ia kehilangan ayahnya tercinta. Pada usia sembilan tahun ia merasa terpanggil menjadi imam. Namun, keinginan tersebut tidak mudah ia wujudkan karena kendala keuangan yang diperlukan selama menempuh pendidikan tersebut.

Seorang pastor bernama Yohanes Melkior Calosso tertarik akan sikap dan kesalehan Yohanes Bosco. Pastor itu pun memutuskan untuk membiayai pendidikan seminari Yohanes Bosco. Dan, setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Yohanes Bosco mendaftarkan diri ke Seminari Chieri.

Akhirnya, ia ditahbiskan menjadi imam pada 5 Juni 1841. Ketika menjadi imam, ia menaruh iba pada anak-anak gelandangan dan orang miskin. Bagi Don Bosco, mereka laksana domba-domba yang tak bergembala. Don Bosco menemukan tempat penampungan di Casa Pinardi. Di sinilah ia menamakan oratorionya (sekolahnya) sebagai Oratorio Santo Fransiscus dari Sales.

Dari oratorio inilah, ia memutuskan untuk berkarya bagi kaum muda. Don Bosco berpendapat, kaum muda adalah tulang punggung dan penerus Gereja yang perlu diperhatikan dan diberi pendidikan kerohanian. Ia juga membuka oratorio-oratorio lainnya hingga ia mendirikan sebuah serikat yang dinamakan Serikat St Fransiskus dari Sales.

Setelah Don Bosco wafat, serikat tersebut berganti nama menjadi Serikat Salesian Don Bosco (SDB). Serikat ini berkarya di penjuru-penjuru dunia termasuk Indonesia. Yohanes Bosco wafat pada 31 Januari 1888 dalam usia 72 tahun. Ia dikanonisasikan pada 1934 oleh Paus Pius XI sebagai Santo dan Pelindung Kaum Muda.

Panjikristo




Kunjungan: 2019
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com