Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Lima Persoalan Keluarga - Hidup Katolik

Lima Persoalan Keluarga

Jumat, 24 Februari 2012 14:20 WIB
Lima Persoalan Keluarga
[HIDUP/A. Sudarmanto]
B.R. Agung Prihartana MSF

HIDUPKATOLIK.com - Konflik berkepanjangan dalam rumah tangga bisa berujung pada perceraian, tak terkecuali pernikahan Katolik yang pada hakikatnya tak terceraikan.

Bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap situasi ini? Berikut Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Pastor B.R. Agung Prihartana MSF, menyampaikan pandangannya.

Bagaimana penilaian Romo terhadap kondisi keluarga-keluarga Katolik dewasa ini?

Semua keluarga, termasuk keluarga Katolik saat ini sedang menghadapi persoalan yang muncul akibat pengaruh globalisasi dan sekularisasi. Makna perkawinan juga terkena imbasnya.

Ada keluarga yang mampu mengatasi godaan dan keluarga ”yang kalah perang”. Dalam kondisi demikian, kita patut bersyukur bahwa masih banyak keluarga Katolik yang perkawinannya selaras dengan kehendak Allah. Pasangan suami-istri yang merayakan pesta ulang tahun perkawinan ke-10, 15, 25, dan bahkan 50 tahun merupakan salah satu bukti bahwa mereka menghayati makna Sakramen Perkawinan.

Maraknya Misa Hari Ulang Tahun Perkawinan di paroki patut didukung supaya terus berlangsung sehingga sungguh menjadi sumber penyegaran, dan kekuatan bagi pasangan suami-istri. Namun demikian, tidak sedikit keluarga Katolik yang gagal melawan godaan, hingga perpisahan dipandang sebagai jalan keluar.

Sayangnya, jumlah keluarga yang gagal cenderung meningkat. Secara pribadi, saya kecewa, sedih, bingung. Bermacam perasaan bergumul di hati ketika ada suami atau istri yang datang konseling, tetapi sudah ada keputusan cerai. Bagi mereka, konseling sekadar menjadi wahana untuk mendapatkan konfirmasi bahwa perceraian bisa dilakukan.

Bagaimana pendapat Romo dengan ”perceraian” di keluarga-keluarga Katolik?

Saya menangkap bahwa pasangan suami-istri kurang menghayati bahwa perkawinan itu tidak hanya tergantung pada kemauan manusiawi semata-mata, tetapi juga kehendak Allah. Perkawinan tidak hanya sekadar suka sama suka, cocok sama cocok, tetapi lebih dari itu. Dalam perkawinan ada tugas perutusan. Janji perkawinan tidak sekadar mengatakan, saya cinta kamu sampai mati, tetapi tugas perutusannya adalah ”setia dalam suka duka, untung malang, sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita”.

Pasutri yang bercerai berarti gagal melaksanakan tugas perutusan dalam perkawinan. Gereja Katolik menegaskan bahwa perkawinan adalah sakramen, dan suami-istri adalah pelayan Sakramen Perkawinan. Maka, penghayatan suami-istri akan Sakramen Perkawinan perlu disegarkan terus-menerus. Tugas ini tidak ringan, tetapi mendesak.

Persoalan apa saja yang paling membebani keluarga Katolik Indonesia saat ini?

Hasil riset Komisi Keluarga 2007 ”antara harapan dan kenyataan hidup berkeluarga”, menunjukkan bahwa ada lima penyebab konflik keluarga. Pertama, pribadi pasangan, termasuk pemahaman, dan penghayatan mereka atas makna cinta. Kedua, ekonomi/keuangan. Ketiga, hadirnya pihak ketiga: PIL/WIL, keluarga besar: mertua, ipar, dsb. Keempat, anak. Dan, kelima, beda suku-budaya, agama, status sosial, pendidikan dan lain-lain.

Ini persoalan-persoalan praktis dalam kehidupan keluarga. Pengaruh persoalan ini bisa membesar atau mengecil terhadap relasi, tergantung pada kedewasaan pribadi suami-istri.

Apa tindakan Komisi Keluarga KWI menyikapi persoalan tadi?

Komisi Keluarga KWI adalah motivator, fasilitator, inspirator bagi Komisi Keluarga Keuskupan dan kelompok-kelompok pemerhati keluarga di tingkat nasional. Kami sosialisasikan hasil riset tersebut melalui Pertemuan Nasional Komisi Keluarga dan Kelompok Pemerhati Keluarga pada tahun 2008, juga lewat Buletin Keluarga yang terbit empat bulanan. Komisi Keluarga di keuskupan diharapkan lebih jeli melihat persoalan keluarga yang terjadi di keuskupan masing-masing.

Dukungan besar dari KWI bagi keluarga adalah terbitnya Pedoman Pastoral Keluarga (PPK), tahun 2010. PPK digarap sangat serius supaya sungguh menjadi pegangan bagi keluarga Katolik di Indonesia. Ke depan, PPK tetap akan dibawa ke mana pun dan dalam kesempatan apa pun, supaya keluarga sungguh mengetahui bahwa KWI memberi perhatian yang sangat serius pada kehidupan keluarga.

A. Sudarmanto




Kunjungan: 2821
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com