Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Menggapai Perkawinan Emas - Hidup Katolik

Menggapai Perkawinan Emas

Jumat, 24 Februari 2012 14:10 WIB
Menggapai Perkawinan Emas
[Dok pri]
Bernard Posman Sihombing dan Louice Ashardini

HIDUPKATOLIK.com - Tali perkenalan Bernard Posman Sihombing dan Louice Ashardini terkait saat mereka menonton film ‘True Love’ di sebuah bioskop di Yogyakarta pada tahun 1957.

Selanjutnya, benih-benih asmara bersemi di antara mereka. Seiring waktu, Posman yang saat itu tengah mendulang ilmu di sekolah polisi di Keraton Yogyakarta pun mantap menyunting Ashardini kendati waktu itu agama mereka berbeda.

Pada 19 Juli 1958 dua sejoli ini mengikrarkan janji sehidup semati di hadapan penghulu. “Saya ingat betul, Pak Penghulu menyarankan agar saya membawa keluarga saya menjadi Katolik,” kenang Posman. Apa yang disarankan penghulu tersebut terwujud. Pernikahan mereka diresmikan di gereja, Desember 1962.

Tak lama setelah menikah, Posman harus meninggalkan sang istri guna bertugas di luar kota selama tiga bulan. Sebagai pasutri, gesekan konflik pun terjadi di antara mereka. Namun, pasangan ini membangun kesepakatan untuk tidak bertengkar di depan anak-anak
.
Bila tengah dicegat persoalan, pasangan atlet cabang atletik ini pergi ke Senayan, Jakarta Selatan. “Dulu, di dekat Gelora Bung Karno ada gundukan tanah. Di situlah kami berdebat hingga masalah teratasi,” urai Posman. Setelah pertengkaran usai, mereka kembali bergandengan tangan. Sebelum kembali ke rumah, mereka singgah ke toko guna membeli oleh-oleh untuk anak. “Jadi, anak-anak mengira orangtuanya pergi ke pasar untuk berbelanja,” beber Posman seraya melepas tawa.

Dalam berumah tangga, pasutri yang akan ikut lomba atletik di Taipe pada November 2012, mengedepankan empat aspek sebagai pedoman: Kejujuran, kesetiaan, saling menghormati, dan saling menghargai. “Keempat hal ini yang menjadi landasan rumah tangga kami hingga bertahan sampai mencapai usia 50 tahun,” tandas Posman.

Menerima Kristus

Pasutri lainnya yang telah menggapai usia emas perkawinan adalah Paulus Sandjaja Chandra dan Maria Agnes Yunita. Mereka menikah pada 3 Juli 1960, dan dikaruniai dua putera. Sekalipun pada waktu itu mereka belum Katolik, mereka memasukkan anak-anak ke sekolah Katolik.

Karena setiap hari mengantar kedua putranya ke sekolah, Yunita kerap berjumpa dengan para biarawati. Alhasil, ia tertarik menjadi Katolik. Tahun 1967, Yunita dibaptis. Sandjaja ikut pula dibaptis pada 1971, bersamaan kedua puteranya yang masih duduk di bangku SD.

Dalam mengayuh biduk perkawinan, pasangan Sandjaja dan Yunita juga mengalami cobaan. Demi menjaga keutuhan keluarga, mereka ikut bergabung dalam berbagai aktivitas gereja. Dari aktivitas ini mereka ikut terlibat merintis terbentuknya Paroki St Aloysius Gonzaga, Surabaya.

Menurut mereka, aktif di gereja bisa menjaga keutuhan perkawinan mereka. “Setiap kali godaan datang, kami diingatkan untuk waspada, tidak gegabah dalam berperilaku,” kata Sandjaja. Aktivitas menggereja ini terus berlangsung kendati usia mereka kian senja.

Sandjaja sungguh mensyukuri usia perkawinannya, yang telah melintasi rentang waktu 52 tahun. Ia merasa telah dipertemukan Tuhan dengan jodoh yang tepat. Meski sang istri berbeda karakter dengan dirinya, namun justru perbedaan itulah yang melengkapi hidupnya.

Pengenalan kampus

Pasangan Stefanus Sidik Purnomo, dengan Agnes Listiana Tjandrayani memang baru mencecap hidup perkawinan selama 43 tahun. Masih perlu tujuh tahun lagi untuk mencapai ”perkawinan emas”. Cinta mereka pertama kali bertaut di hati saat masa pengenalan kampus di Universitas Surabaya.

Begitu berbulat hati hendak menikahi Listiana, Sidik yang semula beragama Kristen Protestan langsung belajar agama Katolik. Pasangan ini menikah pada 21 September 1969. Namun, menjadi Katolik tidak membuat iman Sidik berkembang. Bahkan, cenderung datar. Kondisi ini memunculkan rantai kegelisahan dalam hidupnya, termasuk kehidupan rumah tangganya. “Bisnis kami mengalami pasang surut sehingga kami terpaksa pindah-pindah rumah,” ungkap Sidik.


Robertus Belarminus Wirjono dan Elisabeth Maria Sri Sariningsih [HIDUP/A. Sudarmanto]

Tahun 1983, saat kondisi ekonominya pulih, kerinduan Sidik untuk mengenal Yesus lebih dalam mulai muncul. Lantas bersama istrinya, ia mulai bergabung dalam Persekutuan Doa Karismatik. Selanjutnya, mereka mulai ikut retret Marriage Encounter, retret Tulang Rusuk, retret-retret di Tumpang, dan belakangan mereka mengkoordinir retret Pria Sejati.

Sidik dan Listiana juga berhimpun dalam Komunitas Tritunggal Mahakudus. “Keterlibatan dalam berbagai komunitas ini sangat membantu pengembangan iman, termasuk peningkatan kualitas perkawinan kami,” bebernya.

Bagi Sidik dan Listiana, kunci dalam perkawinan mereka adalah menempatkan Yesus di atas segalanya. “Sebelum kita melangkah, berkomunikasilah dengan Yesus.”

Komitmen awal

Pasutri Robertus Belarminus Wirjono dan Elisabeth Maria Sri Sariningsih juga ”baru” mewujudkan janji perkawinan mereka selama 45 tahun. Mereka menikah di Gereja Santo Yohanes Penginjil Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 17 Juni 1967.

Panah asmara menancap di hati mereka saat pembukaan Hotel Bali Beach pada tahun 1966. Sari yang baru selesai studi di sekolah perhotelan di Bandung dikirim ke acara tersebut. Ketika itu, Wirjono juga hadir di sana.

Setelah menikah, masalah pun datang dan pergi. Bila Wirjono tengah dilanda emosi, Sari cenderung diam. Setelah ketegangan luruh, baru mereka berdialog. “Kalau sama-sama emosi, masalah tidak selesai,” ujar perempuan asal Yogyakarta ini.

Bila terjadi konflik, Wirjono dan Sari tak mau melibatkan orang ketiga, termasuk orangtua masing-masing. “Mungkin karena sejak muda kami terbiasa mandiri,” tukasnya.

Wirjono dan Sari amat menekankan pentingnya kebersamaan, bahkan setelah empat anaknya berkeluarga. Setidaknya, dua kali dalam sebulan mereka berkumpul untuk makan atau jalan-jalan. Meski dua menantunya orang Amerika dan Belgia, Wirjono dan Sari tak pernah kesulitan berdialog dengan mereka.

Wirjono dan Sari menjaga perkawinan dengan terus mengingat komitmen awal mereka. “Jika ada masalah, ingatlah janji yang kita ucapkan pada saat menikah,” tandasnya.

Maria Etty,
Laporan: A. Sudarmanto dan Maria C. Romeo




Kunjungan: 1214
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com