Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Santa Maria Fatima: Pasrah, Bertobat, dan Berdoa Rosario - Hidup Katolik

Santa Maria Fatima: Pasrah, Bertobat, dan Berdoa Rosario

Selasa, 20 Maret 2012 11:34 WIB
Santa Maria Fatima: Pasrah, Bertobat, dan Berdoa Rosario
[Ilustrasi/HIDUP]

HIDUPKATOLIK.com - Tak jauh dari pintu samping gedung gereja, sebuah patung perempuan anggun dengan paras keibuan dan penuh kasih terpajang. Di hadapannya, berlutut tiga anak kecil yang sedang memandangnya.

Itulah patung Santa Maria yang sedang menampakkan diri pada tiga anak Fatima, Portugal. Patung ini merupakan bagian dari bangunan gereja Paroki Santa Maria Fatima, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Pastor Paroki St Maria Fatima, Yohanes Iswahyudi Pr, patung ini didirikan untuk makin mendekatkan umat pada pelindung Gerejanya. Selain itu, patung ini merupakan ciri khas penanda paroki tersebut supaya orang yang datang selalu terkenang.

Paroki yang diresmikan pada 11 Agustus 1971 ini punya sejarah unik. Konon, pastor perintis paroki ini, Alfonsus Martodihardjo SJ, mendapatkan sebidang tanah dari Dokter Drajad. Di atas tanah ini, paroki pemekaran dari Paroki St Ignatius Magelang ini dibangun.

Untuk mengenang kebaikan hati Dokter Drajad, nama istrinya, Fatima, diabadikan menjadi nama paroki dengan ditambah Maria di depannya. Namun, umat paroki kurang cocok dengan pemilihan nama ini.

Berbagai usaha dilakukan Pastor Alfonsus Martodihardjo untuk menepis kekurangcocokan umat. Sosok Santa Maria Fatima dihadirkan ke tengah umat. Paroki menyelenggarakan devosi pada Santa Maria Fatima tiap tanggal 13. Awalnya, hanya kelompok Legio Maria saja yang mengikutinya. Namun, lama-kelamaan semakin banyak umat ikut ambil bagian sehingga devosi tersebut menjadi tradisi. Kini, devosi kepada Santa Maria Fatima rutin dilaksanakan dengan mengambil tempat di depan patung Santa Maria Fatima yang terletak di samping gereja.

Menjelang pesta nama Santa Maria Fatima setiap 13 Oktober, paroki mengadakan prosesi Visitasi Maria. Dalam rangkaian acara ini, patung Santa Maria Fatima diarak keliling lingkungan.

Lingkungan terakhir yang mendapat jatah perarakan ini akan membawanya kembali ke gereja. Pengembalian ini sekaligus menandai dibukanya Perayaan Pesta Nama Pelindung Paroki Santa Maria Fatima. “Maksud prosesi ini untuk menunjukkan kepada umat bahwa Bunda Maria dekat dengan kita,” tutur Pastor Iswahyudi.

Menurutnya, penampakan Maria di Fatima setidaknya menyiratkan tiga buah nilai bagi umat manusia. Pertama, Maria menampakkan diri kepada anak-anak, bukan orang dewasa atau rohaniwan. Ini hendak menunjukkan kepada dunia makna bersikap seperti anak kecil. Yesus pernah bersabda, “Barangsiapa tidak menjadi seperti anak kecil ini, ia tidak dapat masuk Kerajaan Surga.”

Penampakan Maria kepada anak kecil dimaknai sebagai ajakan supaya manusia berubah menjadi sederhana, polos, jujur, dan yang terpenting mempunyai sikap pasrah kepada Allah. Sebab, dengan demikian, pintu Kerajaan Allah bakal lebih terbuka bagi manusia.

Kedua adalah pertobatan. Dunia yang makin carut marut akibat perang, keangkuhan, keserakahan, dan berbagai praktik meninggalkan Allah membawa keprihatinan bagi Maria, sehingga ia menampakkan diri untuk membawa sinyal pertobatan.

Ketiga adalah doa rosario. Doa meditatif ini sudah sejak lama digunakan. Caranya memang sederhana, dengan hanya mengulang-ulang sehingga membuatnya mudah didoakan. Namun, di balik itu tersimpan nilai yang besar.

Dengan mengenal dan mengakrabi sosok Santa Maria dari Fatima, umat diharapkan mampu menghayati dan menghidupi nilai-nilainya. Setelah itu, mereka akan diutus secara moral untuk mewartakannya kepada semua orang seturut inti pesan Santa Maria saat menampakkan diri di Fatima.

Peristiwa penampakan itu terjadi pada 13 Mei 1917, saat tiga anak kecil sedang menggembalakan sekawanan kecil domba di Cova da Iria, wilayah Paroki Fatima, Keuskupan Leiria, Portugal. Ketiga anak kecil itu adalah Lucia de Jesus yang berusia sepuluh tahun bersama kedua sepupunya Francisco dan Jacinta Marto, masing-masing berusia sembilan dan tujuh tahun.

Mereka adalah anak gembala yang sudah biasa menggembalakan ternak di tempat itu. Mereka juga punya kebiasaan berdoa rosario sembari menunggu domba mereka menikmati rumput. Di suatu siang, setelah berdoa rosario, tiba-tiba mereka melihat sinar terang menyerupai halilintar.

Mereka bergegas pulang karena mengira hari akan hujan. Namun, ketika mereka di tengah jalan pulang, seberkas sinar itu tampak lagi. Di puncak sebuah pohon oak, mereka melihat seorang perempuan yang bercahaya lebih terang daripada matahari berdiri dan pada kedua tangannya tergantung sebuah rosario putih.

Tiga anak itu bersujud di sekitar pohon itu. Wanita itu mulai berkata bahwa mereka harus banyak berdoa. Selain itu, ia mengundang mereka untuk datang lagi ke tempat tersebut selama lima bulan berturut-turut, pada hari ketiga belas dan pada waktu yang sama. Anak-anak itu datang pada bulan Juni, Juli, September, Oktober karena pada Agustus mereka dibawa pergi oleh pastor setempat dari wilayah itu.

Pada penampakan terakhir, 13 Oktober 1917, wanita itu menampakkan diri kepada anak-anak bersama 70.000 orang yang datang. Ia berkata bahwa ia adalah Bunda Rosario yang tak lain adalah Bunda Maria dan meminta sebuah kapel didirikan di tempat itu sebagai penghormatan baginya.

Pesan Maria di Fatima di antaranya berisi tentang neraka, devosi terhadap Hati Maria yang Tak Bernoda, Perang Dunia II, dan komunisme Rusia yang akan menghancurkan dunia. Pesan pertama dan kedua telah dipublikasikan terlebih dahulu. Pesan ketiga, yang dituliskan Lucia atas perintah Uskup Leiria, diberikan kepada Paus Yohanes XXIII pada 1959. Namun, Paus Yohanes XXIII memutuskan untuk tidak mengumumkannya kepada publik karena dianggap bisa menimbulkan kegemparan di tengah Gereja.

Hal serupa dilakukan penggantinya, Paus Paulus VI. Akhirnya, pada 26 Juni 2000, Paus Yohanes Paulus II memutuskan untuk mempublikasikannya setelah percobaan pembunuhan terhadap dirinya gagal.

Francisco dan Jacinta meninggal dalam usia muda dan sudah dibeatifikasi. Lucia, yang kemudian menjadi suster, meninggal pada 13 Februari 2005.

Hingga kini, Fatima menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi para peziarah. Awalnya, peziarah hanya datang pada tanggal 13 setiap bulan. Lama-kelamaan, setiap hari Fatima senantiasa penuh akan peziarah yang ingin berdevosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. Kapel Penampakan didirikan di atas tempat di mana pohon oak itu dulu berdiri, tempat Bunda Maria menampakkan dirinya.

Dionisius Amadea Prajna P.M.




Kunjungan: 2519
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com