Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Homilis atau Pengkhotbah - Hidup Katolik

Homilis atau Pengkhotbah

Selasa, 17 April 2012 13:59 WIB
Homilis atau Pengkhotbah
[HIDUP/A. Nendro Saputro]
Ilustrasi Homili

HIDUPKATOLIK.com - Seusai Misa, seorang umat menyapa imam, ”Selamat pagi Pastor, homilinya tadi bagus.” Imam menimpali, ”Terima kasih. Apanya yang bagus? Ada yang bermanfaat?” Umat itu kembali berkata sambil tertawa, ”Hahaha.... Pokoknya bagus dan lucu banget, Pastor…” Sang imam pun tersenyum. Coba tebak, senyum kecut atau bangga?

Kehebatan seorang imam sering juga ditimbang dari isi homili dan cara menyampaikannya, apa menyentuh hati umat? Tak heran, imam yang berbakat besar dalam menyampaikan homili dirindukan sebagai imam favorit. Tempat dan saat Misa yang dia pimpin bisa masuk agenda pribadi umat yang fanatik melacaknya.

Sayangnya, tak begitu banyak imam yang mampu memenuhi harapan itu. Apakah harus imam yang membawakan homili? Bagaimana pula caranya? Ini barulah dua pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang sering muncul di sekitar problematika homili.

Oleh pelayan tertahbis

PUMR 66 menyebutkan: ”… yang memberikan homili ialah imam pemimpin perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam….”

Syarat ini juga berlaku untuk petugas Injil, dalam ritus sebelumnya. Pelayan tertahbis dimaksudkan untuk menghadirkan dimensi apostolis bahwa Injil dan homili harus dipahami dalam terang kewibawaan iman para rasul. Homili bukan saat untuk melulu menyampaikan pengalaman, pendapat atau teori pribadi, namun terutama untuk meyakinkan umat tentang ajaran iman apostolis Gereja.

Seorang awam pun mungkin mampu melakukan itu. Namun, di dalam Misa, kewenangan itu diturunkan dari Uskup yang menahbiskan imam dan diakon sebagai pembantu-pembantunya (klerus). Uskup sebagai pengganti para rasul harus mendidik dan menjamin bahwa mereka yang ditahbiskan itu mampu menghadirkan ajaran iman apostolis juga.

Frater seminaris dan biarawan-biarawati termasuk awam yang tidak mendapatkan kewenangan menyampaikan homili dalam Misa. Tidaklah tepat pula menjadikan Misa sebagai ajang untuk latihan atau praktik homili bagi mereka. Pada hari Minggu Panggilan sering juga mereka ditampilkan untuk memberi kesaksian sebagai pengganti homili. Sayang, tempatnya tidak tepat, karena bisa disalahpahami sebagai homili. Kesaksian semacam itu lebih baik diberi kesempatan pada bagian akhir Misa, atau sebelum Berkat dan Pengutusan.

Cara membawakan

Homili bukan doa, maka tak perlu membuat tanda salib untuk mengawali atau mengakhirinya. Homili adalah bagian dari doa syukur bersama yang disebut Misa, dengan tanda Salib Trinitaris di Ritus Pembuka dan Penutup. Menambahkan doa singkat sebagai akhir homili mungkin tampak saleh, namun juga bisa berlebihan jika setelahnya sudah tersedia Doa Umat.

Homilis atau pengkhotbah dapat melaksanakan tugasnya di mimbar atau kursi imam, sebagai pemimpin yang mengajar. Atau di tempat lain yang pantas, tapi bukan di altar. Ada homilis yang suka melakukannya sambil jalan-jalan. Cara ini bisa membuat perhatian umat kurang terfokus. Apalagi kalau ia berjalan ke sana kemari, dari depan sampai ke belakang bak peragawan. Cara ini mengingatkan kita pada metode mengajar di ruang kelas. Bisa menjadi penghambat bagi umat untuk merasakan sakralitas perayaan secara menyeluruh.

Ilmu tentang homili disebut homiletik. Beberapa model dan metode homili ditawarkan. Ahli homiletik pun membuat teori dan panduan praktisnya, dari persiapan hingga cara tampilnya. Para klerus sebaiknya jangan berpuas diri dengan kemampuannya. Mereka diharapkan masih mau menimba ilmu ini lagi guna menyempurnakan muatan dan teknik homilinya, agar umat pun berbahagia mendengarkannya karena terbantu untuk menjadi makin beriman.


Christophorus H. Suryanugraha OSC

Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia




Kunjungan: 1863
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com