Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pacaran dengan Duda - Hidup Katolik

Pacaran dengan Duda

Jumat, 20 April 2012 16:19 WIB
Pacaran dengan Duda
[datingawidower.org]

HIDUPKATOLIK.com - Sekitar tiga bulan ini saya menjalin hubungan serius dengan seorang pria seiman (namanya G). Selisih usia kami 15 tahun (saya 33 tahun, dia 48 tahun). Saya sudah bekerja dan hidup mandiri. Demikian juga G, yang bekerja sebagai dosen.

Menurut saya, G adalah pria yang sabar, rendah hati, penuh pengertian, dan juga rupawan. Sejak saya dekat dengan dia, ada banyak pengaruh positif bagi diri saya. Saya jadi bisa lebih sabar dan lebih hati-hati dalam berbicara meskipun G tak pernah meminta saya berubah. Boleh dikatakan, sejauh ini hubungan kami cukup harmonis. Kalau segi perbedaannya, saya wanita lajang, sedangkan dia adalah duda-cerai mati dengan dua anak (masing-masing 17 tahun dan 15 tahun).

Bagi saya, perbedaan ini tak masalah. Namun, bagi orangtua dan saudara-saudara saya (saya bungsu dari empat bersaudara), rupanya perbedaan itu belum cukup bisa diterima. Mereka tidak pernah terang-terangan mengemukakan sikap itu. Saya membaca sikap keluarga hanya dari sentilan/komentar tak langsung. Ibu pernah mengatakan kepada tetangga sebelah yang anak putrinya kebetulan juga pacaran serius dengan seorang duda, bahwa sebaiknya kalau menikah itu dengan pria yang sama-sama belum pernah berkeluarga (tetangga itu menceritakan kepada saya).


Bapak tampaknya “no comment” saja, karena memang dalam banyak hal biasanya beliau ikut saja pada apa yang diputuskan Ibu. Kakak-kakak saya juga pernah membicarakan mengenai beberapa kasus ketidakharmonisan pada pasangan yang beda usianya jauh. Kakak sulung pernah mendorong saya untuk menjalin hubungan serius dengan adik temannya yang hanya selisih empat tahun dengan usia saya (tapi saya tak tertarik, memang tak ada rasa dengannya).


Menimbang semua itu, maka hingga saat ini saya belum pernah berani mengajak G ke rumah. Tentang sikap keluarga saya itu, G pun sudah tahu tetapi tetap tenang-tenang saja. (Kapanpun dia siap bila saya mengajaknya ke rumah). Selain itu, beberapa kawan dekat saya juga sering menyentil soal itu. Intinya, menganjurkan agar sebaiknya saya menjalin hubungan serius dengan pria yang sama-sama berstatus lajang. Saya pribadi, saat ini justru makin merasa dekat dan tak bisa membayangkan bila harus berpisah dengan G. Pertanyaan saya: bagaimana saya harus bersikap pada keluarga (ibu dan kakak-kakak)? Terima kasih.


Sh, di Pemalang

Yang terkasih Sdri Sh. Apa yang tengah Anda alami dan hadapi, baik secara personal (dan juga interpersonal, terkait dengan G) sebenarnya adalah hal yang biasa dan normal-normal saja. Itu adalah proses bertemunya dua pribadi, wanita dan pria yang saling tertarik untuk menyatu sebagai pasangan.

Kalau ada yang mempermasalahkannya, sedikit banyak adalah pada pihak ketiga; entah keluarga, teman, tetangga atau orang lain yang tak terkait kepentingan apa pun dengan Anda berdua. Bahwa mereka “mempermasalahkan”, itu pun wajar dan tak harus “dipermasalahkan”. Karena ini adalah ungkapan dari budaya kehidupan sosial khas kita yang dalam kajian psikologi lintas-budaya disebut bercorak “interdependent”. Dalam setiap episode kehidupan sosial yang akan dilakukan, setiap orang diharapkan meniti dan memenuhi kriteria “keumuman” mayoritas. Pun setiap orang seyogianya selalu mempertimbangkan (baca: jangan sampai meninggalkan) opini, peran, persetujuan, dan “restu” dari pihak/orang-orang yang signifikan (keluarga, kerabat, lingkungan kultural setempat). Misalnya dalam hal perjodohan, saat orang hendak memutuskan, bertindak/merealisasikan keputusan; bahkan pada tahap yang paling awal sekalipun (misalnya, ketika seseorang terlihat mulai menjalin komunikasi, melakukan pendekatan terhadap atau didekati oleh orang lain); dia diharapkan merujuk pada kriteria “keumuman” (selisih usia harus sekian, yang berstatus bujangan harus dengan bujangan, etnis harus sama, dsb). Meski demikian, pada beberapa orang yang otonom, kriteria ini terpaksa dinafikan bila panggilan hati tak bisa dibendung lagi. Kriteria “keumuman” ini seringkali merambah hingga wilayah opini dan penyikapan yang cenderung stereotipikal terhadap status tertentu yang dianggap “nomor dua” (baca: jangan dipilih/diambil kalau tidak benar-benar kepepet).

Dalam hal perjodohan, status duda (dan atau janda) dianggap nomor dua. Dalam hal yang tengah Anda hadapi, posisi G boleh jadi diposisikan demikian. Dalam pergunjingan di pergaulan praktis, pihak yang diposisikan demikian seringkali mendapatkan apresiasi sosial, meskipun masih juga diwarnai opini stereotipikal. Terhadap status duda, sebagian (besar) orang mendeskripsikan plus-minusnya. Plusnya: kaum duda biasanya dianggap telah berpengalaman dalam melakoni hidup berkeluarga. Suka-duka sudah dicecap dan dialami lebih dari sekadar diketahui, sehingga tidak akan kagetan saat terjadi percikan problem khas keluarga (ekonomi, salah paham, konflik, cemburu, curiga antara istri-suami, dsb). Mereka dianggap lebih memiliki kesabaran (bersumbu panjang) dalam menghadapi problem psikososial di wilayah domestik. Usia kaum duda (yang biasanya sudah cukup tinggi) sering diidentikkan dengan kematangan baik dalam segi pengelolaan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan juga spiritual. Dari sisi kemampuan dan capaian ekonomi, kaum duda dipandang relatif lebih mapan. Integrasi dari sisi plus ini, mengkonstruksi gambaran bahwa kaum duda biasanya memiliki keunggulan dalam hal tanggung jawab, kemampuan membuat prioritas, resolusi konflik, manajemen keuangan, serta dorongan biologis, sikap hidup yang realistis, dan sebagainya. Sedangkan minusnya: guratan sejarah perkawinan sebelumnya berpotensi mempengaruhi harapan/tuntutannya terhadap pasangan baru dalam arti yang “memberatkan”.

Juga bila telah ada kehadiran anak dari perkawinan sebelumnya, bisa berpotensi memunculkan problem relasional (adaptasi, komunikasi, peran) antara pasangan baru (sebagai istri dan ibu baru) dengan anak, anak dengan figur ayah, munculnya label “anak tiri”, “anak ibu”, dan sebagainya. ”Bonus” minusnya, kadang di mata orang, si gadis yang diperistri oleh duda, lebih dilatarbelakangi oleh motif ekonomis ketimbang oleh nilai cinta yang agung. Apakah sekilas gambaran plus-minus ini (sebagian atau seluruhnya) sungguh “berlaku” bagi siapa pun pria yang berstatus duda? (Termasuk di sini pria berinisial G?). Sekali lagi, gambaran itu mengandung lumuran asumsi, opini, dan juga penyikapan yang stereotypes, yang boleh jadi membias dari kenyataan yang sesungguhnya. Saya yakin, Anda (Sdri Sh)-lah yang tahu siapa dan bagaimana pribadi pria G.

Dari surat Anda, tampak bahwa Anda (syukurlah) sudah melampaui dan tidak terpengaruh oleh deskripsi stereotypes tentang status G sebagai duda. Yang Anda gambarkan mengenai G adalah pembacaan dari pengenalan, perjumpaan langsung dengan dan bersama G, sehingga saya berani memperkirakan bahwa relasi interpersonal di antara Anda memiliki prospek yang tak perlu dikhawatirkan. Namun demikian, mengingat bahwa perkara perjodohan dan prosedurnya (dari awal dan akhirnya) di lingkungan budaya kita tak bisa secara “steril” dilepaskan dari persetujuan dan restu orang-orang signifikan dalam medan kehidupan Anda, maka seyogianya tetap dicoba upaya secara perlahan mengkomunikasikan kemantapan Anda memilih G sebagai calon pendamping hidup kepada keluarga (ibu dan kakak-kakak). Dengan mengkomunikasikan hal itu, dua perkara sekaligus bisa direalisasi, yakni deklarasi pilihan Anda terhadap pria G dan tawar-menawar (bargaining) untuk membuka jalan ke arah persetujuan/restu dari keluarga. Bila semua upaya Anda akhirnya tetap saja dipandang sebelah mata oleh keluarga, maka beranilah memenuhi panggilan hati untuk meraih cinta itu dalam genggaman tangan Anda berdua. Love is a many splendoured thing.


H.M.E. Widiyatmadi




Kunjungan: 1727
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com