Pacaran dengan Duda

HIDUPKATOLIK.com - Sekitar tiga bulan ini saya menjalin hubungan
serius dengan seorang pria seiman (namanya G). Selisih usia kami 15
tahun (saya 33 tahun, dia 48 tahun). Saya sudah bekerja dan hidup
mandiri. Demikian juga G, yang bekerja sebagai dosen.
Menurut saya, G adalah pria yang sabar, rendah hati, penuh pengertian,
dan juga rupawan. Sejak saya dekat dengan dia, ada banyak pengaruh
positif bagi diri saya. Saya jadi bisa lebih sabar dan lebih hati-hati
dalam berbicara meskipun G tak pernah meminta saya berubah. Boleh
dikatakan, sejauh ini hubungan kami cukup harmonis. Kalau segi
perbedaannya, saya wanita lajang, sedangkan dia adalah duda-cerai mati
dengan dua anak (masing-masing 17 tahun dan 15 tahun).
Bagi saya, perbedaan ini tak masalah. Namun, bagi orangtua dan
saudara-saudara saya (saya bungsu dari empat bersaudara), rupanya
perbedaan itu belum cukup bisa diterima. Mereka tidak pernah
terang-terangan mengemukakan sikap itu. Saya membaca sikap keluarga
hanya dari sentilan/komentar tak langsung. Ibu pernah mengatakan kepada
tetangga sebelah yang anak putrinya kebetulan juga pacaran serius dengan
seorang duda, bahwa sebaiknya kalau menikah itu dengan pria yang
sama-sama belum pernah berkeluarga (tetangga itu menceritakan kepada
saya).
Bapak tampaknya “no comment” saja, karena memang dalam banyak hal
biasanya beliau ikut saja pada apa yang diputuskan Ibu. Kakak-kakak saya
juga pernah membicarakan mengenai beberapa kasus ketidakharmonisan pada
pasangan yang beda usianya jauh. Kakak sulung pernah mendorong saya
untuk menjalin hubungan serius dengan adik temannya yang hanya selisih
empat tahun dengan usia saya (tapi saya tak tertarik, memang tak ada
rasa dengannya).
Menimbang semua itu, maka hingga saat ini saya belum pernah berani
mengajak G ke rumah. Tentang sikap keluarga saya itu, G pun sudah tahu
tetapi tetap tenang-tenang saja. (Kapanpun dia siap bila saya
mengajaknya ke rumah). Selain itu, beberapa kawan dekat saya juga sering
menyentil soal itu. Intinya, menganjurkan agar sebaiknya saya menjalin
hubungan serius dengan pria yang sama-sama berstatus lajang. Saya
pribadi, saat ini justru makin merasa dekat dan tak bisa membayangkan
bila harus berpisah dengan G. Pertanyaan saya: bagaimana saya harus
bersikap pada keluarga (ibu dan kakak-kakak)? Terima kasih.
Sh, di Pemalang
Yang terkasih Sdri Sh. Apa yang tengah Anda alami dan hadapi, baik
secara personal (dan juga interpersonal, terkait dengan G) sebenarnya
adalah hal yang biasa dan normal-normal saja. Itu adalah proses
bertemunya dua pribadi, wanita dan pria yang saling tertarik untuk
menyatu sebagai pasangan.
Kalau ada yang mempermasalahkannya, sedikit banyak adalah pada pihak
ketiga; entah keluarga, teman, tetangga atau orang lain yang tak terkait
kepentingan apa pun dengan Anda berdua. Bahwa mereka
“mempermasalahkan”, itu pun wajar dan tak harus “dipermasalahkan”.
Karena ini adalah ungkapan dari budaya kehidupan sosial khas kita yang
dalam kajian psikologi lintas-budaya disebut bercorak “interdependent”.
Dalam setiap episode kehidupan sosial yang akan dilakukan, setiap orang
diharapkan meniti dan memenuhi kriteria “keumuman” mayoritas. Pun setiap
orang seyogianya selalu mempertimbangkan (baca: jangan sampai
meninggalkan) opini, peran, persetujuan, dan “restu” dari
pihak/orang-orang yang signifikan (keluarga, kerabat, lingkungan
kultural setempat). Misalnya dalam hal perjodohan, saat orang hendak
memutuskan, bertindak/merealisasikan keputusan; bahkan pada tahap yang
paling awal sekalipun (misalnya, ketika seseorang terlihat mulai
menjalin komunikasi, melakukan pendekatan terhadap atau didekati oleh
orang lain); dia diharapkan merujuk pada kriteria “keumuman” (selisih
usia harus sekian, yang berstatus bujangan harus dengan bujangan, etnis
harus sama, dsb). Meski demikian, pada beberapa orang yang otonom,
kriteria ini terpaksa dinafikan bila panggilan hati tak bisa dibendung
lagi. Kriteria “keumuman” ini seringkali merambah hingga wilayah opini
dan penyikapan yang cenderung stereotipikal terhadap status tertentu
yang dianggap “nomor dua” (baca: jangan dipilih/diambil kalau tidak
benar-benar kepepet).
Dalam hal perjodohan, status duda (dan atau janda) dianggap nomor dua.
Dalam hal yang tengah Anda hadapi, posisi G boleh jadi diposisikan
demikian. Dalam pergunjingan di pergaulan praktis, pihak yang
diposisikan demikian seringkali mendapatkan apresiasi sosial, meskipun
masih juga diwarnai opini stereotipikal. Terhadap status duda, sebagian
(besar) orang mendeskripsikan plus-minusnya. Plusnya: kaum duda biasanya
dianggap telah berpengalaman dalam melakoni hidup berkeluarga.
Suka-duka sudah dicecap dan dialami lebih dari sekadar diketahui,
sehingga tidak akan kagetan saat terjadi percikan problem khas keluarga
(ekonomi, salah paham, konflik, cemburu, curiga antara istri-suami,
dsb). Mereka dianggap lebih memiliki kesabaran (bersumbu panjang) dalam
menghadapi problem psikososial di wilayah domestik. Usia kaum duda (yang
biasanya sudah cukup tinggi) sering diidentikkan dengan kematangan baik
dalam segi pengelolaan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan juga
spiritual. Dari sisi kemampuan dan capaian ekonomi, kaum duda dipandang
relatif lebih mapan. Integrasi dari sisi plus ini, mengkonstruksi
gambaran bahwa kaum duda biasanya memiliki keunggulan dalam hal tanggung
jawab, kemampuan membuat prioritas, resolusi konflik, manajemen
keuangan, serta dorongan biologis, sikap hidup yang realistis, dan
sebagainya. Sedangkan minusnya: guratan sejarah perkawinan sebelumnya
berpotensi mempengaruhi harapan/tuntutannya terhadap pasangan baru dalam
arti yang “memberatkan”.
Juga bila telah ada kehadiran anak dari perkawinan sebelumnya, bisa
berpotensi memunculkan problem relasional (adaptasi, komunikasi, peran)
antara pasangan baru (sebagai istri dan ibu baru) dengan anak, anak
dengan figur ayah, munculnya label “anak tiri”, “anak ibu”, dan
sebagainya. ”Bonus” minusnya, kadang di mata orang, si gadis yang
diperistri oleh duda, lebih dilatarbelakangi oleh motif ekonomis
ketimbang oleh nilai cinta yang agung. Apakah sekilas gambaran
plus-minus ini (sebagian atau seluruhnya) sungguh “berlaku” bagi siapa
pun pria yang berstatus duda? (Termasuk di sini pria berinisial G?).
Sekali lagi, gambaran itu mengandung lumuran asumsi, opini, dan juga
penyikapan yang stereotypes, yang boleh jadi membias dari kenyataan yang
sesungguhnya. Saya yakin, Anda (Sdri Sh)-lah yang tahu siapa dan
bagaimana pribadi pria G.
Dari surat Anda, tampak bahwa Anda (syukurlah) sudah melampaui dan tidak
terpengaruh oleh deskripsi stereotypes tentang status G sebagai duda.
Yang Anda gambarkan mengenai G adalah pembacaan dari pengenalan,
perjumpaan langsung dengan dan bersama G, sehingga saya berani
memperkirakan bahwa relasi interpersonal di antara Anda memiliki prospek
yang tak perlu dikhawatirkan. Namun demikian, mengingat bahwa perkara
perjodohan dan prosedurnya (dari awal dan akhirnya) di lingkungan budaya
kita tak bisa secara “steril” dilepaskan dari persetujuan dan restu
orang-orang signifikan dalam medan kehidupan Anda, maka seyogianya tetap
dicoba upaya secara perlahan mengkomunikasikan kemantapan Anda memilih G
sebagai calon pendamping hidup kepada keluarga (ibu dan kakak-kakak).
Dengan mengkomunikasikan hal itu, dua perkara sekaligus bisa
direalisasi, yakni deklarasi pilihan Anda terhadap pria G dan
tawar-menawar (bargaining) untuk membuka jalan ke arah persetujuan/restu
dari keluarga. Bila semua upaya Anda akhirnya tetap saja dipandang
sebelah mata oleh keluarga, maka beranilah memenuhi panggilan hati untuk
meraih cinta itu dalam genggaman tangan Anda berdua. Love is a many
splendoured thing.
H.M.E. Widiyatmadi



