Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Gereja Timor Leste - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Gereja Timor Leste

Kamis, 26 April 2012 11:55 WIB
Gereja Timor Leste
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Gerbang perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

HIDUPKATOLIK.com - Gereja Katolik selalu mengambil tempat kritis untuk kehidupan masyarakat Timor Leste. Ia hadir dan berkontribusi di saat-saat yang paling menentukan. Sudah tentu demikian, mengingat mayoritas penduduk negeri dengan populasi delapan ratus ribu ini beriman Katolik tradisional. Kehadiran Gereja dirasakan tidak hanya melulu berupa sapaan spiritual. Tidak jarang ia berupa gedoran pada area politik, sosial, dan ekonomi. Ia menyuarakan dan membela mereka yang terpinggirkan. Tidak heran Uskup Dili, Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo SDB, menjadi penerima Nobel Perdamaian (1996).

Dalam sejarah panjang masyarakat ini, Gereja masuk ke dunia politik secara eksplisit. Sejak zaman kolonialisme Portugis hingga pendudukan Indonesia (1976-1999), Gereja terjun membela umatnya. Cukup sering Gereja dalam simbol uskup dan imamnya langsung mengorganisir massa untuk turun memperjuangkan apa yang mereka anggap benar.

Sangat menarik untuk mengetahui statistik 1975, sebelum invasi Indonesia. Disebutkan saat itu penduduk negeri mini ini hanya 30 persen penduduk yang dibaptis. Sekarang lebih dari 95 persen penduduk adalah Katolik. Ini tentu juga karena dampak dari rezim Indonesia yang pada tahun-tahun pertama invasinya menekan para animis untuk memeluk salah satu agama yang diakui. Pengikut animis oleh pemerintah Indonesia dicurigai akan bisa menjadi pengikut komunis. Dengan demikian, sebagian besar mereka bisa disebut orang Katolik baru.

Konstitusi negara kecil tetapi mungkin paling Katolik di dunia, dalam hal persentase populasi ini tidak menyebut sama sekali kata ’Katolik’ atau ’nilai-nilai Katolik’. Dalam Konstitusi 20 Mei 2000 artikel no 12, ’Negara dan Keyakinan Agama’, berisi pernyataan-pernyataan universal. Negara menghargai dan menghormati perbedaan keyakinan agama. Semua agama dijamin kebebasannya untuk berorganisasi dan beribadah, sejauh tidak keluar dan menyimpang dari hukum dan undang-undang. Negara mendukung kerjasama antaragama yang kiranya ikut memperkuat terbentuknya masyarakat Timor Leste yang makmur sejahtera.

Tentu saja proses untuk mencapai hasil itu tidak berlangsung mulus. Sebagian besar masyarakat memang mendukung draft konstitusi tersebut. Tetapi, di tempat lain secara sporadis hampir di seluruh negeri berlangsung protes karena undang-undang itu tidak menyebut sama sekali agama resmi negara. Mereka ingin agar Katolik menjadi agama negara. Justru dua uskup yang ada waktu itu menentang aspirasi ini. Para pemimpin Gereja menganggap bahwa ajaran Gereja yang baru tidak mendukung agama negara dan negara agama.

Timor Leste dengan demikian adalah negara sekular. Artinya, ada pemisahan antara negara dan agama; negara melampaui kepentingan agama-agama. Dalam kasus ini, di depan hukum, negara tidak memperlakukan istimewa Gereja meski ia mayoritas. Dia masuk ke dalam daftar negara-negara yang diatur secara modern di seluruh dunia. Ketika ia masuk ke ranah praktis, konsep di atas tentu bukan perkara yang mudah dijalankan. Tetapi, dengan memperlakukan semua agama sama dalam hak dan kewajibannya secara konstitusional, ini sudah mencerminkan kematangan sebuah negeri dengan penduduk mayoritas Katolik, meski kecil dan miskin.


Redaksi




Kunjungan: 3394
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com