Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Perempuan dalam Hidup Yesus - Hidup Katolik

Perempuan dalam Hidup Yesus

Kamis, 10 Mei 2012 13:43 WIB
Perempuan dalam Hidup Yesus
[freechristimages.org]
Yesus mengajar dan berdiskusi dengan perempuan Samaria di tepi sumur.

HIDUPKATOLIK.com - Para perempuan hadir dalam situasi yang paling penting dan paling kritis dalam hidup dan karya keselamatan Tuhan Yesus: penderitaan dan wafat (dan kemudian juga di saat kebangkitan-Nya).

Dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dilukiskan hanya perempuan yang memiliki nyali dan keberanian untuk hadir di bawah salib Yesus. Mereka membela-Nya. Mereka juga berpartisipasi dalam pemakaman Yesus. Tahu persis letak makam-Nya, ketika kembali lagi, mereka tidak mengalami kesulitan menemukan makam Tuhan (Mt 27:61). Para perempuan, tidak saja menunggu paling akhir dalam penderitaan dan wafat Yesus, tetapi juga paling pertama datang ke makam Yesus tiga hari kemudian.

Sesudah kejadian di atas, para perempuan kembali memainkan peranan yang sedemikian penting: mewartakan kabar kebangkitan Yesus untuk kaum laki-laki (Mt 28: 1-8). Maria Magadalena, yang dikatakan sebagai perempuan berdosa, adalah perempuan pertama yang mendapat tugas istimewa ini. Dan reaksi laki-laki -sudah bisa diantisipasi- tidak percaya. “Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” (Lk 24:11).

Di sinilah paradoks peranan perempuan dalam sejarah keselamatan manusia oleh Allah. Hawa adalah perempuan pertama yang berdosa (Kej 3:6). Tetapi kemudian dalam Perjanjian Baru muncul perempuan penuh iman dalam diri Bunda Maria yang dipilih Allah menjadi ibu Yesus Sang Penebus. Akhirnya, adalah para perempuan yang mengambil peranan solidaritas di saat-saat paling krusial di sekitar penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus.

Bagaimana Yesus berempati dengan perempuan yang tak terperhatikan?

Injil mencatat perempuan-perempuan yang tidak menonjol dan hadir dalam diam. Yesus menyentuh dan menyapa mereka, dengan masuk ke dalam ruang belakang, serta mengangkat mereka sebagai pemain penting dalam pusat kisah Yesus. Ibu mertua Petrus yang sakit demam, menjadi fenomena unik (Mt 8:14-15; Mk 1:30-31; Lk:4:38-39). Beberapa orang yang disembuhkan Yesus biasanya akan pergi menikmati kesegaran dan kesehatan fisik setelah sembuh. Ibu mertua Petrus lain. Setelah sembuh, dia bangkit dan segera melayani Yesus. Lainnya, juga tanpa nama, misalnya, penyembuhan perempuan yang sakit perdarahan (Mk 5:25-34). Penyakit ini bisa dikategorikan (setara dengan menstruasi) halangan baginya untuk terlibat dalam upacara keagamaan. Dan perempuan ini mengidap penyakit ini sepanjang 12 tahun. Hari itu seketika penyakitnya sembuh ketika ia menjamah jumbai jubah-Nya. Dan Yesus menyapa perempuan ini dengan sebutan, “Anak-Ku”. Masih ada beberapa lagi perempuan dengan kondisi yang mirip kemudian memperlihatkan sikap iman yang kokoh: anak perempuan Yairus (Mk 5:35-43), janda di Nain (Lk 7:11-17), dan perempuan yang dirasuk roh dan bungkuk punggungnya (Lk 13-10-17).

Bagaimana Yesus bersikap terhadap perempuan berdosa?

Terhadap perempuan yang dicemooh para petinggi agama, Yesus justru memberi peneguhan dan harapan. Yesus membela perempuan yang mengurapi kepala-Nya dengan minyak wangi (Mt 26:7; Mk 14:3; Lk 7:37). Cara Yesus menyapa membuat para perempuan pendosa ini bertobat dan mengikuti Yesus.

Kaum Farisi langsung mengasingkan perempuan yang berselingkuh dan bercerai. Cara Yesus menangani perempuan bermasalah ini juga lagi-lagi sangat berbeda (Mt 5:27-28; 19:3-10). Perempuan yang sebenarnya sudah menjadi sampah di tengah-tengah masyarakat ini bangkit kembali dan menemukan spirit baru (Lk 7:37-50).

Perempuan yang tertangkap basah berselingkuh diterima Yesus tanpa prasangka negatif sama sekali (Yoh 7:53-8:11). Dia melakukan ini hampir tanpa beban sama sekali dihadapan para penghujat perempuan ini. Para laki-laki yang membawa perempuan segera menentukan hukuman mati untuknya. Yesus yang tahu tentang hukum Yahudi melihat ketidakadilan ini: Di mana laki-laki yang berselingkuh dengan perempuan ini? Bukankah ia juga harus diadili? Mengapa hanya perempuan yang dihukum? Yesus mengampuni dosa perempuan ini dengan berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11).

Sikap Yesus yang penuh dengan belarasa dan sensitif membuat-Nya sangat diterima kaum perempuan. Para pengikut yang setia dan melayani dengan para rasul adalah kaum perempuan (Lk 8:1-3). Demi mengikuti Yesus, mereka tidak jarang mengambil segala risiko dan menghadapi bahaya.

Bagaimana cara Yesus mendidik pengetahuan dan intelektualitas perempuan?

Para rabi dan guru Taurat menganggap kaum perempuan inferior dan tidak akan cakap menguasai Taurat. Maka, kisah di Betani memberikan pelajaran penting untuk kaum perempuan (Lk 10:38-42). Yesus sedang menguraikan isi ajaran-Nya, Maria duduk mendengarkan, sementara Marta memasak dan sibuk dengan berbagai urusan kerumahtanggaan. Tentu Yesus mengapresiasi apa yang sedang dikerjakan Marta. Tetapi, Dia tidak setuju ketika Marta menginginkan Maria juga seperti dia. Sangat mungkin Marta menganggap Maria dengan duduk manis seperti itu sebagai perempuan yang malas dan tidak produktif. Sebaliknya, Yesus menganggap bahwa kehausan akan Sabda -pendidikan intelektual- sebagaimana ada dalam diri Maria harus didukung.

Cara dan format Yesus mendidik pengetahuan para perempuan juga diwarnai dengan ‘kegilaan’. Yesus mengajar dan berdiskusi berduaan dengan seorang perempuan Samaria di tepi sumur jauh dari hilir mudik publik (Yoh 4:1-42). Bahkan murid-murid-Nya pun terhentak dan shocked dengan pemandangan ini. Peristiwa ini pada masa itu memberikan pesan liberalisasi dan pembebasan. Yang semula tabu kini dibuka sekat-sekatnya dan dicoba untuk dialami. Tindak lanjut dari peristiwa di bibir sumur itu melampaui dugaan banyak orang. Sesudah Yesus menyingkapkan bahwa diri-Nya adalah Sang Mesias, perempuan ini percaya dan menjadi pewarta dengan menceritakan ajaran Yesus itu kepada kaum kerabatnya.

Pertanyaan yang sering muncul: mengapa dua belas murid tidak ada satu pun yang perempuan?

Nama-nama sedikit bervariasi dalam sinoptik dan Kisah Para Rasul (Mk 3:13–19; Mt 10:1–4; Lk 6:12–16; Kis 1:13). Tetapi, mereka jelas laki-laki. Dan semuanya Yahudi. Mengapa tidak ada murid, misalnya, berasal dari Samaria? Semua ini membutuhkan keterangan tersendiri. Sebuah realita yang membuat agak sulit untuk menjawab pertanyaan ’mengapa’.

Mengingat Yesus tidak pernah membuat diskriminasi laki-laki dan perempuan dalam penghayatan iman, persoalan di atas menjadi lebih sulit. “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mk 3:35). Semua penjelasan berakhir dengan kemungkinan.

Dengan memilih dua belas laki-laki, Yesus hendak mengingatkan kita pada dua belas suku Israel yang masing-masing dikepalai anak laki-laki Yakob. Rabi di zaman itu senantiasa dikelilingi sejumlah murid. Adat Yahudi (dan juga di banyak tempat hingga sekarang) tentu akan menyulitkan perempuan untuk terus hadir bersama Yesus dan murid laki-laki lain siang dan malam. Reputasi baik tentu juga harus diperhatikan, bukan saja untuk Yesus tetapi juga untuk perempuan itu sendiri.

Bagaimanapun juga, keikutsertaan begitu ‘banyak’ perempuan di sekitar karya dan hidup Yesus, adalah sebuah pembaruan terbentuknya sebuah komunitas yang juga memiliki kebaruan. Santo Paulus menulis, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal 3:28).

Greg Soetomo SJ,
dari berbagai sumber





Kunjungan: 1628
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com