Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Gereja Timor Leste Dulu dan Sekarang - Hidup Katolik

Gereja Timor Leste Dulu dan Sekarang

Senin, 14 Mei 2012 10:21 WIB
Gereja Timor Leste Dulu dan Sekarang
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Gereja St Imaculada Conceição Dili, Timor Leste.

HIDUPKATOLIK.com - Di Repùblica Democràtica de Timor Leste terdapat tiga keuskupan, yakni Keuskupan Dili, Keuskupan Baucau, dan Keuskupan Maliana.

Wilayah Keuskupan Dili mencakup enam distrik, yakni Dili, Ermera, Aileu, Ainaro, Same, dan Oeccusi; Keuskupan Baucau mencakup empat distrik, yakni Baucau, Manatuto, Viqueque, dan Lospalos; dan Keuskupan Maliana mencakup tiga distrik, yakni Bobonaro, Liquisa, dan Covalima.

Pada 1596-1975, Timor Leste berada di bawah jajahan Portugis yang dikenal dengan sebutan Timor Portugis. Pada 1653 belum terdapat stasi misi tetap di Pulau Timor. Akan tetapi terdapat 21 stasi yang dikunjungi oleh misionaris keliling sampai dijadikannya Lifao sebagai misi pada 1650. Beberapa imam Dominikan (1641), imam Yesuit (1874), suster Kanossian (1877), dan imam Salesian Don Bosco (1927) secara bergantian juga menjalankan misi di Timor Portugis.

Pada 1975, Portugis mundur dari Timor dan Indonesia masuk untuk mengambil alih. Pada 1976, Timor Portugis berintegrasi dengan Indonesia dan berganti nama menjadi Timor Timur. Masyarakat diharuskan memilih salah satu agama yang diakui di Indonesia. Maka, banyak masyarakat yang memilih menjadi Katolik. Jika pada masa kolonial Portugis umat Katolik hanya sekitar 29%, sejak masa integrasi jumlah umat Katolik meningkat hingga 97%.

Pada 1999, rakyat Timor Timur kembali dihadapkan pada opsi yang dikeluarkan Presiden Indonesia waktu itu, Bacharuddin Jusuf Habibie: integrasi atau menjadi negara sendiri. Tragedi berdarah yang mengakibatkan jutaan orang kehilangan nyawa kembali bergulir hingga Timor Timur mendapat pengakuan PBB dan resmi berdiri sendiri sebagai sebuah negara, bernama Timor Leste pada Mei 2002.

Gereja dan pemerintah

Saat ini, Gereja Timor Leste sedang berada dalam masa transisi. Gereja masih mencari bentuk penggembalaan dan kerasulan yang cocok untuk menjawab kebutuhan iman umat. Bersamaan dengan itu, Gereja Timor Leste juga masih harus menghadapi berbagai situasi sosialpolitik yang belum stabil.

Sejauh ini, Gereja dan pemerintah Timor Leste bahu-membahu membangun warga dan masa depan negara ini. Tetapi, bukan berarti bahwa Gereja mengikuti saja apa yang dicanangkan oleh pemerintah, ataupun sebaliknya. Gereja tetap kritis terhadap keputusan-keputusan pemerintah yang dirasa merugikan masa depan bangsa dan masyarakat. Misalnya, pada 2005, umat, imam, dan biarawan-biarawati di bawah pimpinan Uskup Dili dan Baucau melakukan doa dan orasi selama 20 hari di depan gedung Perdana Menteri karena keputusan Perdana Menteri waktu itu, Mari Alkatiri, melarang pelajaran agama diajarkan di sekolah.

Setiap tahun pemerintah Timor Leste memberi bantuan dana sebesar satu juta lima ratus dolar Amerika kepada Gereja. ”Gereja menerima bantuan itu dan dipakai untuk pengembangan pendidikan dan Gereja,” jelas Ekonom Keuskupan Dili, Pastor Graciano Santos Barros. Ia menambahkan, Gereja bertugas menyampaikan suara kenabian. Di tengah situasi sosial-politik yang belum stabil, Gereja hadir sebagai pembela dan pemerhati masyarakat miskin.

Tantangan utama

Menurut Pastor Graciano, tantangan utama yang dihadapi Gereja Timor Leste saat ini adalah sekularisme. Masyarakat lebih menyukai budaya dari luar daripada mempertahankan budaya yang diwariskan nenek moyang Timor Leste. Banyak orang muda yang setiap hari Minggu lebih memilih berekreasi di pantai daripada aktif di gereja.

Karena itu, Gereja berusaha dengan berbagai cara untuk menarik sebanyak mungkin orang muda agar kembali ke Gereja. Dewan Pastoral Paroki St Antonius Padua Motael, Dili, Jose Mestre menuturkan, ”Kita berusaha sedapat mungkin membuat anak muda tertarik pada kehidupan menggereja.” Selama ini masyarakat pada umumnya mulai meninggalkan Gereja. Mereka malah lebih tertarik pada dunia hiburan. ”Berbagai kegiatan kita adakan di paroki dengan tujuan menarik perhatian mereka untuk terlibat aktif dalam kegiatan kegerejaan,” tutur Jose.

Pastor Kapelan Militer Falintil-Forças da Defesa de Timor Leste (F-FDTL) dan Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Dili, Angelo Salsinha Pr, seusai Jalan Salib pada Jumat Agung di Patung Cristo Rei mengungkapkan, ”Kita sengaja melibatkan anak-anak muda di sekitar Kota Dili dalam Jalan Salib ini supaya mereka melihat tempat ini tidak hanya sebagai sarana rekreasi, tetapi sebagai lokasi untuk berdoa.”

Tantangan lain adalah korupsi. ”Ini menjadi tugas kami bersama untuk segera ditindaklanjuti,” tegas Pastor Graciano. Saat ini, pemerintah Timor Leste sudah mendirikan Komisi Anti Korupsi untuk menangani isu tersebut.

Rencana ke depan

Pada Januari 2012, Gereja Timor Leste menyelenggarakan sinode yang melibatkan tiga keuskupan. Sinode ini melahirkan tiga resolusi kerja pastoral yang akan dilaksanakan selama 2012-2015. Secara ringkas hasil sinode itu ialah:

Pertama, Bidang Liturgi: disepakati beberapa hal penting seperti menerjemahkan tata liturgi Sakramen Pernikahan dan Sakramen pembaptisan dari Tata Cara Liturgi Roma versi Portugis 1993 dan 1994 ke dalam bahasa setempat; meningkatkan kualitas kor di setiap paroki sehingga dapat membantu umat untuk memuji dan memuliakan Tuhan dalam Perayaan Ekaristi; meningkatkan kualitas para katekis yang dapat menunjang karya kerasulan dan pelayanan di Gereja.

Kedua, Bidang Pendidikan: memberi mandat kepada Comissão Nacional da Educaçao Católica de Timor Leste (CONECTIL) untuk menyusun sebuah kurikulum khusus Katolik yang dapat dipakai di sekolah Katolik. Di lingkungan sekolah Katolik, guru berperan sebagai pendidik yang bertugas mewariskan ilmu dan nilai-nilai kristiani kepada peserta didik. Misi sekolah-sekolah Katolik adalah mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan evangelisasi, menjamin kualitas pendidikan Katolik dalam beberapa aspek, menyediakan kualitas formasi integral, dan berkontribusi untuk transformasi masyarakat.

Ketiga, Pelayanan Pastoral Paroki; paroki adalah komunitas kecil tempat dialog antara pastor paroki dan umat untuk menjalin kehidupan sebagai satu komunitas; kerjasama pastor paroki dan tarekat religius demi mencapai sebuah pelayanan pastoral yang lebih efektif; komitmen pastor paroki untuk membantu katekis di parokinya dalam meningkatkan metode dan kreativitas pewartaan, sehingga membantu umat mengerti Injil dan Kerajaan Allah.

Stefanus P. Elu, Laporan: F. Pongky Seran




Kunjungan: 3495
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com