Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


SBG Fransiskus: Komunitas Guru Katolik dari Sekolah non-Katolik - Hidup Katolik

SBG Fransiskus: Komunitas Guru Katolik dari Sekolah non-Katolik

Selasa, 15 Mei 2012 13:40 WIB
SBG Fransiskus: Komunitas Guru Katolik dari Sekolah non-Katolik
[HIDUP/R.B. Yoga Kuswandono]
Para anggota SBG Fransiskus mengikuti rekoleksi di Ruang SBG Fransiskus Strada Budi Luhur, Bekasi, Jawa Barat.

HIDUPKATOLIK.com - Walau sudah tiba saatnya berakhir pekan, Sabtu, 23/3, lebih dari 50 guru masih berkumpul di Ruang Sentra Belajar Guru (SBG) Fransiskus di Kompleks Persekolahan Strada Budi Luhur Bekasi, Jawa Barat.

Mereka merelakan waktu berlibur bersama keluarga untuk menggali kembali semangat kekatolikan dan identitas profesi mereka sebagai pendidik yang mempunyai iman kepercayaan pada Yesus Kristus. Terlebih, para guru ini tidak bekerja di lembaga pendidikan Katolik. Mereka bekerja di sekolah negeri dan sekolah swasta non-Katolik
.
“Hal ini merupakan perwujudan salah satu misi SBG, yaitu meningkatkan iman para guru,” jelas Koordinator SBG, Albertus Hartono. Di ruang ini, seluruh anggota SBG mengadakan rekoleksi. Pastor Yohanes Driyanto Pr sebagai pembicara mencoba meneguhkan para guru dan mengatakan bahwa tugas mereka sangat mulia. “Kita semua dipanggil Kristus untuk dipecah dan dibagi kepada masyarakat agar dapat memberikan sesuatu yang berguna dan menjadi sarana karya cinta Allah,” tuturnya.

Walau suhu saat itu mencapai sekitar 36 derajat Celsius, hiruk pikuk suasana pasar, dan bisingnya lalu lalang transportasi umum di Terminal Bekasi yang terletak di sebelah gedung, tak menghalangi semangat mereka mengikuti rekoleksi.

Salah satu peserta kegiatan ini, Florentina Suratni, merasa sangat didukung dengan adanya acara-acara rekoleksi yang diadakan SBG Fransiskus. “Saya bekerja di sekolah negeri. Tiap hari, saya selalu bekerja dan bergaul dengan orang-orang beragama lain. Tak jarang berbagai kesibukan mengajar membuat saya agak jauh dari Gereja,” aku Suratni. Namun, sejak mengikuti organisasi ini, ia merasa kehidupan rohaninya makin terpelihara.

“Tak sebatas mendalami iman saja. Lewat kegiatan seperti ini, kami selalu didorong untuk memberikan diri secara utuh kepada masyarakat. Saya sendiri makin termotivasi untuk mengajar tanpa pamrih. Tak peduli seberapa besar imbalan yang saya terima, karena saya terpanggil sebagai pendidik. Kepentingan murid lebih saya utamakan,” tukas Suratni yang telah tujuh tahun mengajar di salah satu sekolah negeri ini.

Agustinus Sudiyono juga merasakan hal serupa. Bahkan, guru di salah satu sekolah negeri ini pernah terinspirasi untuk berbuat lebih bagi sesama. “Ketika ada siswa yang tidak punya uang untuk membeli Lembar Kerja Siswa (LKS), saya berinisiatif membelikannya untuk mendukung kegiatan belajar mengajarnya,” ungkap Agustinus.

Mereka berharap, SBG Fransiskus tidak hanya sekadar membekali para guru dengan hal-hal yang bersifat rohani. “Kami juga ingin diberi bimbingan dan pelatihan teknologi informasi agar kompetensi para guru meningkat, sehingga kelak kami tidak hanya mantap secara rohani tetapi juga makin mantap mendalami segala pengetahuan dan tanggap terhadap laju perkembangan zaman,” ujar Agustinus.

Awal mula

Keberadaan SBG Fransiskus berawal dari keinginan Panitia Tetap Dwi Abad Keuskupan Agung Jakarta (Pantap Dwi Abad KAJ) menyapa para guru Katolik di sekolah-sekolah Katolik wilayah Bekasi. “Karena itulah, dibentuk SBG Bekasi sebagai sentra pengembangan diri guru-guru di sekolah Katolik seluruh Bekasi,” jelas Koordinator SBG Bekasi, Ignatius Budi Santoso.

Setelah organisasi ini berjalan lama, muncul kebutuhan lain yang lebih luas. Ada keprihatinan di kalangan para guru tentang minimnya tenaga pendidik Katolik di sekolah-sekolah negeri dan swasta non-Katolik. Selain itu, sapaan terhadap guru-guru Katolik yang bekerja di sekolah negeri dan sekolah swasta non-Katolik dirasa kurang.

Maka, dibentuklah SBG Fransiskus untuk mewadahi kebutuhan ini. Organisasi ini tidak bergerak sendiri. Ikatan Insan Pendidikan Katolik (IIPK) yang beranggotakan para guru, murid, dan seluruh warga Katolik yang peduli terhadap kelangsungan pendidikan pun digandeng untuk bekerjasama.

Menurut Fransiskus Hartono, usaha mengumpulkan dan menyapa para guru Katolik gampang-gampang susah. “Kami harus mencari data nama-nama guru Katolik. Untunglah, saya bekerja di Dinas Pendidikan Kota Bekasi sehingga saya mempunyai akses untuk mengetahui nama guru di seluruh Kota Bekasi,” jelasnya.


Paduan Suara SBG Fransiskus saat bertugas sebagai pelayan Misa dalam Peresmian Ruangan SBG Fransiskus. [Dok.SBG Fransiskus]

Dengan tekun, ia mencari nama yang dianggapnya berbau Katolik. “Setelah ketemu, saya coba menghubungi mereka satu per satu. Saya tidak sendirian melakukan hal ini. Kawan-kawan dari SBG Bekasi banyak membantu,” ungkap Hartono. Usaha menghubungi tidak hanya sebatas telepon. Hartono beserta teman-temannya mendatangi rumah para guru satu per satu dan langsung menyapa mereka. Hasilnya, tak hanya guru-guru dari Kota Bekasi saja yang tersapa.

Agustinus Sudiyono dan Florentina Suyatni, misalnya. Mereka adalah guru yang berasal dari Tambun dan bukan merupakan bagian dari Kotamadya Bekasi, tetapi tersapa untuk ikut bergabung.

Kemudian, guru-guru yang sudah dihubungi dikelompokkan dalam wilayah-wilayah tertentu sehingga memudahkan koordinasi. Setiap wilayah mempunyai koordinator yang bertugas sebagai penyambung lidah para guru dan pemberi informasi seputar kegiatan SBG Fransiskus. Itulah cara mereka membangun jaringan komunikasi di antara mereka, dan masih berjalan hingga sekarang.

Melaksanakan misi

Seiring anggota yang terus berdatangan, kebutuhan tempat berkumpul dirasa makin mendesak. Sekolah Strada Budi Mulia memfasilitasi hal ini. Salah satu ruangan di sekolah ini yang terletak di lantai paling atas dapat dipakai untuk melakukan beberapa kegiatan. Ruangan ini telah diresmikan Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo, beberapa waktu lalu.

SBG Fransiskus dibentuk untuk memenuhi tiga misi bagi pengembangan dan peningkatan kualitas pribadi para tenaga pendidikan. Yaitu, pendidikan bagi para guru, pendalaman iman, dan pengolahan tenaga pendidik profesional. Saat ini, yang menjadi titik konsentrasi SBG adalah pendalaman iman. “Karena itulah, kami mengadakan rekoleksi untuk makin meningkatkan kualitas iman para guru. Hal ini yang dilakukan pertama kali, karena menurut kami, sangat penting,” ujar Hartono.

Ke depan, usaha untuk memenuhi dua misi lainnya akan segera dilaksanakan. Hartono mengemukakan, SBG Fransiskus tidak akan terburu-buru. Organisasi ini masih baru sehingga masih memerlukan waktu untuk menata dan memantapkan gerak bersama. “Setelah itu, pelan-pelan kami akan mengadakan kursus-kursus non-rohani seperti kursus komputer dan kursus keterampilan yang lain. Lalu, seminar-seminar bertema pendidikan.”

SBG Fransiskus juga tidak hanya menyapa para guru. Organisasi ini juga akan menyapa para murid di sekolah negeri dan sekolah swasta non-Katolik. “Kami berencana mengumpulkan para siswa tersebut dan memberikan rekoleksi, seminar motivasi, dan hal lain yang berguna bagi pembinaan dan pengembangan identitas kekatolikan dalam diri mereka,” tukas Hartono.

R.B. Yoga Kuswandono




Kunjungan: 955
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com