Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pendidikan Liturgi untuk Orang Muda - Hidup Katolik

Pendidikan Liturgi untuk Orang Muda

Jumat, 25 Mei 2012 14:40 WIB
Pendidikan Liturgi untuk Orang Muda
[Nani Endarwati]
Para siswa SMPK Seraphine Bakti Utama Cengkareng, Jakarta Barat, sedang menerima berkat dari Pastor Peter Kurniawan Subagyo OMI dalam Misa yang diadakan untuk menyambut Ujian Nasional.

HIDUPKATOLIK.com - Suatu hari, usai Misa, beberapa warga di sebuah paroki saling mengeluhkan beberapa remaja yang ngobrol selama Misa berlangsung. Meski beberapa kali diingatkan, mereka tetap saja ngobrol.

Menanggapi fenomena remaja yang 'tidak serius' mengikuti Ekaristi seperti itu, Kepala Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta Utara, Pastor Antonius Gunardi MSF, mengatakan, "Orang muda lebih senang pergi ke tempat-tempat hiburan daripada mengikuti Misa."

Bahkan, Romo Anton mengatakan bahwa di Paroki St Yakobus, ada bahaya sekularisasi. Hal ini mungkin akan terus terjadi, karena letak Gereja Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan dan pusat hiburan, misalnya Mall of Indonesia. Restoran-restoran dan tempat-tempat hiburan lain juga tersebar di sekitar daerah ini. Belum lagi apartemen-apartemen mewah yang terus bermunculan di wilayah Kelapa Gading.

Menurutnya, saat ini paroki sedang membuat gerakan untuk mendorong kaum muda aktif menggereja. "Memang biasanya cukup sulit menyemangati mereka. Namun, hal ini harus terus dilakukan," terangnya.

Sulit konsentrasi

Lain paroki, lain pula sekolah. Tantangan untuk menanamkan kecintaan akan Liturgi Ekaristi terus menghadang. Johnson Riberu, Kepala SMA Santo Andreas Kedoya, Jakarta Barat, mengatakan, saat mengikuti Misa, para muridnya sangat sulit berkonsentrasi menjalani satu demi satu ritus liturgi.

"Sekarang, sikap para siswa kami sudah lumayan. Kami mencoba mengatasinya dengan membuat siswa aktif menjadi petugas Misa. Kebetulan sekolah kami berada dalam satu kompleks dengan Gereja Santo Andreas Kedoya. Tiap kali sekolah kami berkesempatan melayani Misa, murid-murid selalu ambil bagian," jelas Johnson.

Johnson menambahkan, sebaiknya kurikulum pendidikan Agama Katolik lebih mengandung unsur aplikatif. "Mereka harus dipancing untuk mempraktikkan pengetahuan yang dipelajarinya. Salah satunya, ya liturgi Ekaristi," tukasnya.

Keprihatinan tentang kelangsungan pendidikan Agama Katolik di sekolah, terutama tentang liturgi, bertambah dengan adanya desakan pemerintah untuk mengadakan pelajaran religiositas. Dalam pelajaran ini, murid diberi wawasan tentang nilai-nilai kebijaksanaan yang terdapat dalam agama-agama lain dan bagaimana hidup bermasyarakat di tengah kemajemukan budaya dan agama. Tujuannya agar toleransi terhadap pemeluk agama lain tumbuh. Saat ini, semua sekolah dihimbau pemerintah untuk memberikan pelajaran religiositas kepada siswanya.

Beberapa sekolah Katolik, antara lain Sekolah Santa Ursula Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, Banten, menanggapi himbauan ini. Para pendidik di Sekolah Santa Ursula mengadakan pelajaran religiositas, dan khusus untuk siswa beragama Katolik, diadakan pelajaran Bina Iman. Dalam pelajaran Bina Iman inilah, pelajaran agama Katolik dimasukkan. Pelajaran religiositas juga dinilai tepat oleh sekolah ini, lantaran tidak semua siswa beragama Katolik.

Sementara beberapa sekolah lain, seperti Sekolah Tarakanita Pluit 2 Jakarta Utara, dan Sekolah Santa Theresia Menteng, Jakarta Pusat, tetap mengadakan pelajaran agama Katolik tetapi menambahnya dengan pelajaran Bina Iman.

Kelas dua

Menanggapi hal ini, Sekretaris Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia, Pastor F.X. Adi Susanto SJ, menanggapi, "Tentang sekolah yang tidak melaksanakan pelajaran Agama Katolik tetapi menggantinya dengan pelajaran religiositas, saya pikir ada baiknya." Menurutnya, wawasan murid tentang agama lain akan bertambah. Apalagi, jika mereka mengerti bahwa masing-masing agama tidak ada yang mengajarkan kekerasan, tetapi menanamkan nilai-nilai kebijaksanaan.

"Namun, jika dalam penerapannya malah membuat siswa Katolik mengesampingkan kekhasan agamanya sendiri, itu yang harus diwaspadai. Apalagi, jika sekolah menempatkan pendidikan Agama Katolik secara mendalam pada pelajaran Bina Iman dan menempatkannya sebagai ekstrakurikuler," tegasnya.

Kemungkinan siswa akan menganggap Bina Iman sebagai pelajaran "kelas dua" sehingga mereka jadi terkesan menyepelekan. Pastor Adi Susanto menyampaikan, "Sebaiknya, sekolah-sekolah Katolik tetap mengajarkan pelajaran Agama Katolik dengan mendalam kepada para siswanya. Karena, mereka termasuk lembaga pendidikan Katolik."

Pastor Adi Susanto menambahkan, jangan sampai nanti akan semakin banyak terjadi kasus perkawinan beda agama, hanya karena mereka menganggap bahwa semua agama itu tidak ada bedanya. Terkait penempatan pelajaran liturgi dalam silabus kurikulum pendidikan Agama Katolik, Pastor Adi Susanto mengatakan, "Memang belum ada pelajaran tentang liturgi dalam silabus pendidikan Agama Katolik untuk SMP dan SMA."

Namun, bukan berarti silabus ini bersifat mengikat atau kaku. Susunan kurikulum pendidikan agama ini terbuka bagi hal-hal lain terkait ajaran Gereja, termasuk liturgi. Ada empat hal yang diperhatikan saat menyusun silabus. Pertama, membuat siswa mengenal dirinya sendiri. Setelah itu, siswa diarahkan untuk mengetahui Allah yang menciptakan mereka. "Sebagai orang Katolik, kita bisa berhubungan dengan Allah melalui Putra-Nya, Yesus Kristus, sehingga Yesus Kristus adalah poin kedua," ungkap Pastor Adi Susanto.

Selanjutnya, Kristus adalah kepala dari seluruh jemaat-Nya, yaitu Gereja. Maka, Gereja menjadi hal ketiga. Kemudian, sebagai anggota Gereja, mereka adalah bagian dari masyarakat karena Gereja sendiri hidup dan berada dalam masyarakat. Karena itu, masyarakat adalah hal terakhir yang diajarkan dalam silabus.

Menurutnya, pendidikan liturgi dapat dimasukkan dalam poin ketiga, yaitu Gereja. "Saat ini kami masih menanti evaluasi dari silabus yang kami tetapkan. Hal ini kami lakukan karena pemberlakuan silabus baru 10 tahun," tukas Pastor Adi Susanto.

Baginya, liturgi sangat penting untuk diajarkan. Namun, jangan hanya menuntut peran guru. Peran orangtua justru sangat penting, karena merekalah katekis dan guru pertama bagi anak-anak: kesadaran akan pentingnya mengikuti Misa, pemahaman akan segala simbol dan tindakan liturgis saat Perayaan Ekaristi.

Lewat nyanyian

Sebagai imam yang berkarya di paroki, Pastor Antonius Soetanta SJ punya cara lain untuk menanamkan kecintaan liturgi. Ia mendirikan kelompok paduan suara anak Ascencio yang kini ada di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok, Jakarta Utara dan Paroki Santo Servatius Kampung Sawah, Bekasi, Jawa Barat.

Baginya, liturgi bukan hanya sekadar tata urutan Misa. Liturgi dan Ekaristi merupakan satu kesatuan peristiwa pengenangan karya kasih Kristus. Ini merupakan inti iman setiap umat Katolik.

Terbukti, lagu-lagu liturgis disukai anak-anak. Pada satu kesempatan latihan, anak-anak Ascencio terlihat sibuk belajar organ dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Latin. Tak ada raut kelelahan dari wajah mereka meski latihan biasanya diadakan pada jam pulang sekolah, sekitar pukul 11.00 WIB.

Romo Tanto mengatakan, sedari anak-anak, kecintaan akan liturgi harus ditumbuhkan. "Saya sendiri membuat anak-anak mencintai liturgi lewat nyanyian. Gereja Katolik begitu kaya akan khazanah lagu-lagu rohani. Ternyata, anak-anak yang saya ajar menyukai lagu-lagu ini. Dari kesukaan akan nyanyian Gereja, saya ajarkan mereka tentang liturgi," ungkapnya.

Pengajaran tentang liturgi ini antara lain lewat pendalaman Kitab Suci. "Liturgi Ekaristi terkait erat dengan Kitab Suci, sehingga anak-anak mengetahui akar dan makna dari hal ini," tegasnya.

Hasilnya, saat ini di Paroki Kampung Sawah dan Paroki Tanjung Priok, kelompok paduan suara terus berkembang. Di Paroki Servatius, misalnya, ada lebih dari lima kelompok paduan suara yang rata-rata beranggotakan orang muda.

R.B. Yoga Kuswandono




Kunjungan: 1370
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com