Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mempersembahkan Roti dan Anggur - Hidup Katolik

Mempersembahkan Roti dan Anggur

Kamis, 31 Mei 2012 14:58 WIB
Mempersembahkan Roti dan Anggur
[HIDUP/Y.Prayogo]
Beberapa anggota Mia Patria membawakan tarian mengiringi persembahan dalam Misa Ultah HIDUP ke-66.

HIDUPKATOLIK.com - Ketika roti dan anggur diantar menuju altar, sering tampak ada lilin bernyala dibawa serta. Mungkin pelayan altar atau petugas perarakan yang membawa lilin itu di bagian depan. Praktik ini mengundang pertanyaan. Apakah dalam perarakan itu bahan-bahan persembahan perlu didampingi lilin?

Sebenarnya tidak perlu memakai lilin seperti itu. Mereka yang menganggap ”perlu” mungkin tidak menyadari makna lilin bernyala yang mendampingi hosti. Lilin bernyala biasanya diperlukan untuk mendampingi dan menunjukkan kehadiran sakramental Tubuh Kristus dalam rupa hosti. Misalnya, digunakan ketika hosti suci dibawakan untuk orang sakit atau untuk mendampingi pembagi komuni.

Nah, pada waktu perarakan persembahan itu roti dan anggur belumlah dikonsekrasi, sehingga belum bermakna Tubuh-Darah Kristus atau Sakramen Mahakudus. Jika ada lilin bernyala mendampingi, maka bisa menimbulkan kerancuan simbolis dan salah pemahaman. Jangan sampai ada umat yang membayangkan: roti akan dibakar dengan lilin! Lezat...

Bahan pilihan Yesus

Amanat Yesus kepada para rasul untuk melakukan perjamuan dipatuhi bukan hanya dengan meniru ritus/tradisi Guru mereka, tetapi juga memakai materi seperti yang digunakan-Nya dalam ritus itu.

Dikisahkan bahwa dalam Perjamuan Malam Terakhir, roti dan anggur adalah dua bahan yang dipilih Yesus untuk melambangkan pengorbanan Diri-Nya. Gereja pun masih setia mewariskan ritus dan materi itu dalam Perayaan Ekaristi hingga sekarang.

Yesus menggunakan roti tak beragi seperti dalam praktik perjamuan Paskah Yahudi. Demikian juga anggur sebagai minuman khas dalam ritual yang dianut Yesus dan para leluhur-Nya itu. Roti terwujud dari bulir-bulir gandum yang dikumpulkan dan dilebur dalam satu adonan dengan dicampur air. Dipersatukan, dibentuk, dan dipanggang menjadi makanan yang bermakna bagi penyantapnya. Minuman anggur pun dibuat dari buah-buah anggur yang diperas, hancur menyatu, menjadi minuman yang diwadahi dalam sebuah piala untuk direguk. Bahan-bahan pilihan Yesus merupakan simbol-simbol yang kuat, berdaya, dan kaya makna.

Proses penyatuan dan pembentukan itu melambangkan pengalaman kesengsaraan dan kematian Yesus sendiri, atau peristiwa pengorbanan dan pemberian diri Yesus yang total. Proses ini juga menggambarkan persatuan Gereja yang terdiri dari aneka unsur manusia dan bangsa ke dalam diri Yesus. Pengorbanan Yesus itu berguna bagi kesatuan dan keutuhan Gereja. Maka, Gereja pun menyantap Tubuh dan Darah Kristus agar dapat menikmati kehidupan abadi, sebagaimana dijanjikan sendiri oleh Yesus.

Persembahan umat

Umatlah yang sebaiknya membawa roti dan anggur ke depan altar. Imam atau diakon menerimanya, lalu meletakkannya di atas altar. Meskipun sekarang, roti dan anggur tidak disediakan sendiri oleh umat seperti pada zaman dulu, namun ritus ini tetap mengandung arti dan nilai rohani yang sama (PUMR 73).

Roti dan anggur adalah juga bentuk persembahan diri umat, yang akan dipersatukan dengan atau menjadi kurban Kristus sendiri. Umat membawakan kehidupan, kehendak, dan karya mereka ke tangan Kristus. Maka, perarakan ini merupakan kesempatan bagi umat untuk bisa memahami kaitan antara kurban umat dengan kurban Kristus.

Pada ritus ini diterima juga uang (kolekte) atau bahan persembahan lain (hasil bumi atau jerih payah pribadi) yang akan diberikan bagi orang miskin atau kebutuhan Gereja. Lilin dan bunga kiranya tidak dimaksudkan untuk itu, karena fungsinya hanya sebagai unsur dekoratif. Bahan-bahan lain ini tidak seperti roti dan anggur tidak diletakkan di atas altar, tapi di suatu tempat lain yang layak. Apa pilihan bahannya dan bagaimana cara mengantarnya dalam perarakan dapat disesuaikan dengan budaya umat setempat. Bahan itu dipilih sebagai simbol yang otentik, jujur, dan tulus. Tidak diminta lagi seusai Misa.


Christophorus H. Suryanugraha OSC

Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia




Kunjungan: 1858
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com