Majalah-majalah Milik Keuskupan

HIDUPKATOLIK.com - Tahun 1980, Almarhum Mgr Petrus Marinus Arnzt OSC
menerbitkan majalah Komunikasi. Selama lebih dari tiga dasawarsa,
majalah milik Keuskupan Bandung ini terbit secara rutin setiap bulan.
Menurut Ketua Komsos Keuskupan Bandung sekaligus Pemimpin Redaksi
Majalah Komunikasi saat ini, Pastor Yustinus Nana Sujana OSC, kendala
yang kerap dihadapi dalam setiap periode pengelolaan adalah sumber daya
manusia yang tidak konstan. Hal ini bisa jadi diakibatkan karena
kesibukan umat di paroki masing-masing. Selain itu, dewasa ini sulit
mencari sumber daya manusia yang berkomitmen.
"Namun, ada yang menggembirakan," ungkap Pastor Nana. Komunikasi kerap
dijadikan lahan pembelajaran bagi para mahasiswa yang ingin bergelut di
media cetak. "Sekarang, beberapa dari mereka sudah menjadi wartawan
profesional di berbagai media cetak ternama di Tanah Air." Selain itu,
Pastor Nana melihat adanya ikatan kekeluargaan di antara awak
Komunikasi. Padahal, menurut mantan Pemimpin Redaksi Komunikasi, Pastor
Heri Kartono OSC, "Kekompakan personil dalam sebuah tim adalah kunci
keberhasilan yang amat menentukan bagi Komunikasi."
Pastor Nana menjelaskan, pendanaan Komunikasi diperoleh dari swadaya
iklan, ditambah subsidi rutin dari Keuskupan Bandung. Setiap tema
penerbitan biasanya disesuaikan dengan perpaduan antara kalender
liturgi, event tertentu maupun fokus pastoral di Keuskupan Bandung.
Setiap bulan Komunikasi dicetak 1.000 eksemplar dengan harga jual Rp
10.000 per majalah. Jaringan distribusi penjualan melalui paroki dan
agen. "Dari jumlah tersebut, sebagian dibagikan gratis ke berbagai
paroki, biara, seminari, dan sebagian keuskupan di Indonesia," urai imam
kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini.
Kesepakatan redaksi
Majalah Berkat milik Keuskupan Atambua juga hampir berusia tiga
dasawarsa. Media ini terbit perdana pada 1984 dalam bentuk buletin.
Seiring waktu, Berkat mengalami peningkatan dalam isi dan tampilan
hingga menjadi majalah setebal 46 halaman.
Majalah yang terbit dua bulan sekali ini memilih tema berdasarkan
kesepakatan redaksi, yakni kegiatan-kegiatan khusus yang ditetapkan KWI
seperti Bulan Kitab Suci, Hari Pangan, dan Aksi Puasa Pembangunan. Ada
pula tema-tema yang diangkat sesuai konteks aktual Keuskupan Atambua
yang disampaikan dalam kolom Sorotan Utama.
Menurut Ketua Komisi Komsos Keuskupan Atambua sekaligus Pemimpin Redaksi
Berkat, Pastor Gerrard Herry Fernandes Pr, kendala yang dialami adalah
soal deadline. Berkat kerap terbit tidak sesuai jadwal. Hal ini
disebabkan karena staf redaksi merupakan staf Komsos Keuskupan Atambua
sehingga memiliki tugas rangkap. "Sementara kontributor di setiap paroki
juga kerap terlambat mengirimkan berita-berita dari parokinya," tutur
Praeses Seminari Tinggi Loo Damian Emaus ini.
Tiras Berkat mencapai 1.500 eksemplar setiap edisi, dibagikan kepada
para pelanggan di paroki-paroki, komunitas-komunitas biara, sekolah, dan
kelompok kategorial di wilayah Keuskupan Atambua. Berkat juga memiliki
pelanggan dari luar Keuskupan Atambua, terutama para imam, biarawan,
biarawati, dan awam yang pernah berkarya di Keuskupan Atambua dan saat
ini berada di Italia, Jerman, Filipina, Australia, dan Amerika.
Pendanaan diperoleh dari para pelanggan tetap dan pelanggan eceran.
Harga per eksemplar dibandrol Rp 10.000. Selain itu, mereka juga
memperoleh dana dari iklan. Namun, belum ada patokan harga iklan. "Berapa pun akan kami terima," ungkap Pastor Gerrard.
Edisi online
Tahun 2005, Keuskupan Agung Makassar (KAMS) mulai menerbitkan majalah
Koinonia. Media yang terbit tiga bulan sekali ini memiliki tiras 1.000
eksemplar per edisi, dan saat ini sudah memiliki edisi online. Menurut
Penanggung Jawab Koinonia, Pastor Frans Nipa Pr, kesulitan yang dihadapi
adalah kurangnya tenaga pengelola majalah dan sedikitnya kontribusi
tulisan dari setiap kevikepan.

Pastor Yustinus Nana Sujana OSC, Pemimpin Redaksi Komunikasi [HIDUP/Rosiany T. Chandra]
Penentuan tema per edisi, jelas Pastor Frans, dilakukan dalam rapat
antara uskup dengan staf kuria. "Yang mengisi majalah adalah uskup, staf
kuria, komisi tingkat keuskupan, serta kontribusi dari kevikepan dan
kelompok kategorial." Koinonia didistribusikan kepada pengurus dewan
pastoral paroki-paroki, lembaga gerejani, dan Keuskupan Ambon dan
Manado, serta ke luar negeri untuk para mantan misionaris yang pernah
berkarya di KAMS.
Demi peningkatan kualitas, Pastor Frans melihat perlunya diadakan
pelatihan jurnalistik. "Untuk menumbuhkan semangat menulis dan
mendokumentasikan peristiwa secara rapi agar kelak berguna bagi generasi
mendatang," harapnya.
Kevikepan Semarang, Keuskupan Agung Semarang, mulai menerbitkan majalah
bulanan Salam Damai pada 2008. Menurut Ketua Komsos Kevikepan Semarang
sekaligus Pemimpin Redaksi Salam Damai, Pastor Dominicus Donny Widyarso
Pr, nama Salam Damai dipilih karena khas Katolik. "Diharapkan, dengan
membaca Salam Damai, umat bisa berinteraksi dengan umat lainnya di
Keuskupan Agung Semarang."
Pastor Donny memaparkan, ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan tema
di setiap edisi. Salah satunya, dengan mengikuti gerak dinamika umat
Keuskupan Agung Semarang. Misalnya, menyongsong Kongres Ekaristi di
Keuskupan Agung Semarang. Penulis Salam Damai adalah para wartawan dan
para pastor yang berkompeten di bidangnya. Misalnya, dari Komisi
Pendampingan Keluarga. "Dalam edisi tertentu, ada tulisan yang berupa
sapaan uskup," lanjut Pastor Donny.
Penerbitan Salam Damai sempat terhenti sewaktu ada pergantian 'status'
dari majalah kevikepan menjadi majalah keuskupan. Kini, sebagai majalah
resmi milik Keuskupan Agung Semarang, Salam Damai mendapat suntikan dana
dari keuskupan. Sedangkan sumber dana lainnya diperoleh dari hasil
penjualan majalah dan iklan.
Menurut Pastor Donny, Salam Damai berupaya konsisten terbit setiap
bulan. Setiap edisi dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Penyebarannya
melalui distributor, agen, dan sub agen di setiap kevikepan. "Kami masih
perlu berusaha keras untuk branding dan membangun jaringan agar Salam
Damai benar-benar bisa menjadi majalah komunikasi umat Keuskupan Agung
Semarang," harap Pastor Donny.
Komunikasi, Berkat, Koinonia, dan Salam Damai merupakan contoh media
cetak milik keuskupan yang terbit secara konsisten. Dengan demikian,
Kabar Gembira Kristus kian menjangkau banyak umat.
Maria Etty,
Laporan: Rosiany T. Chandra, Fransiskus Pongky Seran, Ivonne Suryanto


