Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kisah di Balik Layar "Soegija" - Hidup Katolik

Kisah di Balik Layar "Soegija"

Selasa, 5 Juni 2012 14:17 WIB
Kisah di Balik Layar
[Dok Puskat]
Nirwan Dewanto berperan sebagai Mgr Alb. Soegijaprata SJ ketika mengunjungi para korban perang di rumah sakit.

HIDUPKATOLIK.com - Tahun 1942, serdadu Jepang hendak merampas Gereja Katedral Randusari, Semarang; untuk dijadikan markas. Mgr Albertus Soegijapranata SJ menolak dengan tegas. "Ini tempat yang disucikan, langkahi dulu mayat saya," tantangnya.

Namun, tentara Jepang itu tetap memaksa para pastor dan suster keluar dari gereja, dan membawa mereka pergi dengan truk besar. "Apa yang bisa kita perbuat, Romo Kanjeng?" tanya koster Tugimin kepada Mgr Soegija. Spontan Soegija meneteskan air mata sembari berkata, "Ada saat di mana kita tidak bisa berbuat apa-apa."

Itulah salah-satu adegan film Soegija, yang disutradarai Garin Nugroho. Dengan metode kerja Garin yang penuh improvisasi, skenario tidak mutlak menjadi acuan. Pola kerja seperti ini, di satu pihak, bisa menyiksa para pemain untuk benar-benar menghayati peran mereka. Menurut pemeran Soegija, Nirwan Dewanto, "Saya sampai ikut meneteskan air mata karena merasa larut dalam adegan itu."

Para kru film juga ikut terhanyut. "Improvisasi Garin memang canggih dalam mempengaruhi emosi pemain," puji Nirwan.

Nirwan memerankan tokoh Mgr Soegijapranata, dalam periode tahun 1940-1949. Soegija adalah uskup pribumi pertama, diangkat oleh Paus Pius XII pada 1940. Menurut Nirwan, posisi sebagai uskup pribumi pertama ini penting sekali, karena sebelumnya di Hindia Belanda, hanya ada empat uskup berkebangsaan Eropa. Mereka adalah Mgr Peter Johannes Willekens SJ sebagai Vikaris Apostolik Batavia; Mgr Mattia Leonardo Trudone Brans OFMCap, Vikaris Apostolik Padang; Mgr Tarcisius Henricus Josephus van Valenberg OFMCap, Vikaris Apostolik Pontianak; dan Mgr Heinrich Leven SVD, Vikaris Apostolik Isole della Piccola Sonda (Ende).

Pada waktu itu juga sedang terjadi Perang Dunia II. Posisi Belanda sebagai penguasa Hindia Belanda terancam, karena pada waktu itu mereka sudah dikuasai Jerman. "Saya kira ada unsur politik yang membuat Paus mengangkat seorang uskup pribumi pertama," kata Nirwan.

Selanjutnya, Nirwan menjelaskan, Soegija berusaha mengambil sikap tegas terhadap peristiwa sosial politik pada saat itu. Misalnya, ketika Jepang hendak mengambil harta Gereja, sikap Soegija tegas, yaitu melawan. Dengan segala daya upaya, ia mempertahankan otoritas dan hak milik Gereja.

Secara cerdik Soegija mengatakan kepada penguasa Jepang: "Gereja Katolik bukan bagian dari Pemerintah Hindia Belanda, melainkan berada di bawah Pemerintah Vatikan, yang juga punya hubungan diplomatik dengan Pemerintah Jepang."

Soegija, kata Nirwan, tetap tegas setelah Proklamasi Kemerdekaan, yang kemudian dilanjutkan dengan revolusi fisik. "Sikapnya tetap pro Republik." Misalnya, ia memindahkan Keuskupan Semarang ke Yogyakarta, untuk mendukung pemerintahan Republik, yang waktu itu berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Sikap itu kelihatan dalam tulisan dan ucapannya. "Seratus persen Katolik itu ya seratus persen Republik," demikian Nirwan menyitir jargon Soegija kala itu.

Ketika Nirwan disodori peran ini, ia sebenarnya ragu. Namun, setelah dibujuk sang sutradara, akhirnya ia bersedia. "Garin meyakinkan saya bahwa saya mampu, dan mengatakan, tidak ada calon lain yang lebih cocok," seloroh Nirwan. Lalu, Nirwan mulai membaca biografi Mgr Soegijapranata. "Saya juga berdiskusi dengan Romo Murti Hadi Wijayanto SJ, sahabat saya," katanya. Bahkan, Romo Murti mendampingi Nirwan tinggal di Girisonta, Semarang, tempat para novis Yesuit. Setelah memerankan sosok Soegija, Nirwan mengapresiasi bahwa Katolik itu inklusif, dan bisa menjawab masalah kebangsaan.


Garin Nugroho sebagai sutradara film Soegija sedang mengarahkan aktor yang memerankan sebagai Pak Besut, penyiar radio. [Dok Puskat]

Shooting film Soegija dilaksanakan pada 7 November sampai 9 Desember 2011, dengan lokasi antara lain di Kota Lama Semarang, Museum Kereta Api Ambarawa, dan Gereja Bintaran Yogyakarta. Sebagai sebuah film kolosal, Soegija melibatkan pemain cukup besar, yaitu 2.775 orang. Saat ini Dewan Pertimbangan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sudah menyetujui usulan Rekor MURI atas film Soegija dengan nama "Film dengan Jumlah Pemain Terbanyak, 2.775 Orang". Selain itu, film Soegija juga didaftarkan ke dalam catatan MURI sebagai film dengan jumlah bahasa terbanyak, yaitu Indonesia, Jawa, Inggris, Belanda, Jepang, dan Latin.

Sang sutradara Garin Nugroho mengungkapkan, ia bertemu dengan Paus Benekdiktus VI di Vatikan, bersama para seniman dari seluruh dunia pada 2010. Setelah pulang ke Indonesia, ia membuat pameran instalasi bertajuk Maria. "Rasanya seperti ada dorongan alamiah dari dalam jiwa saya," tutur Garin.

Mengapa Garin mengangkat sosok Soegija, bahkan ini merupakan film termahal Garin? Garin mengungkapkan, Soegija adalah sosok pemimpin pribumi pertama yang menjadi uskup di tengah perubahan-perubahan dunia. Selanjutnya, Mgr Soegija adalah seorang penulis, pemikir, pengelola majalah Katolik pada saat itu. Bagi Garin, Soegija adalah seorang yang memiliki nilai politik dalam dirinya, yaitu politik kenegarawanan. Dan, tentu saja kemampuan Soegija meletakkan kepemimpinan di tengah beragam krisis.

Pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961 ini mengaku tersentuh dengan perkataan-perkataan Soegija. Misalnya, "Apa artinya merdeka jika kita tidak bisa mendidik diri sendiri?"; "Cinta kasih saja tidak cukup tapi memerlukan ketegaran yang lembut".

"Kata-kata ini memiliki makna bagi zaman ini," tegas Garin saat ditemui HIDUP di Epicentrum Walk, Jakarta Pusat, Kamis, 26/4. Ia juga tidak memiliki jarak dalam proses pembuatan film ini. "Saya merasa bahagia bisa menjadi sutradara film Soegija," kata Garin sembari tersenyum.


Olga Lydia memerankan Mama Ling Ling saat “diciduk” tentara Jepang. [Dok Puskat]

Artis Olga Lydia sebagai pemeran Ibu Ling Ling mengisahkan, film Soegija sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam film ini, ia diculik Jepang. Kala itu memang banyak perempuan diculik, lalu dijadikan jogun ianfu. "Kebetulan pada saat take hujan ya…, jadi rasanya sangat mencekam," tuturnya. "Sebenarnya, awalnya di-set tanpa ada hujan, tapi ketika mau take pas hujan, dan Mas Garin bilang jalan terus, jadi tidak bisa nolak," lanjut Olga.

Olga mengatakan, tidak bisa mengerti jika saat ini ada orang, apa pun alasannya, menyetujui perang. Olga berargumen, korbannya adalah anak-anak dan perempuan. Dalam setiap perang, pasti merekalah yang selalu menjadi korban. Apabila ada perang, pemerkosaan itu menjadi hal yang cukup umum terjadi. Meski ini hanya dalam film, Olga merasa ada efek yang begitu traumatik bagi dirinya.

Judul film : Soegija
Sutradara : Garin Nugroho
Produser Eksekutif : Y.I. Iswarahadi SJ
Produser : Djaduk Ferianto, F.X. Murti Hadi Wijayanto SJ, Tri Geovanni
Produksi : Studio Audio Visual Puskat
Pemain : Nirwan Dewanto, Annisa Hertami Kusumastuti, Butet Kertaradjasa, Olga Lydia, Wouter Braff, Wouter Zweers

Sinopsis:

Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan bangsa Indonesia (1940-1949). Tokoh utama dalam film ini adalah Mgr Alb. Soegijapranata SJ (diperankan Nirwan Dewanto). Baginya, kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya. Dan, perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia.

Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia). Keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Buddhist, tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu pada ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.

A. Benny Sabdo




Kunjungan: 4084
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com