Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Melayani Napi, Menghijaukan Nusakambangan - Hidup Katolik

Melayani Napi, Menghijaukan Nusakambangan

Rabu, 13 Juni 2012 15:04 WIB
Melayani Napi, Menghijaukan Nusakambangan
[Stephanus Mulyadi]
Romo Carolus OMI bersama masyarakat sedang menanam pohon di pulau Nusakambangan.

HIDUPKATOLIK.com - Pastor Charles Patrick Edward Burrows OMI, akrab disapa Romo Carolus, menjalankan tugas perutusannya sebagai misionaris Oblate Maria Immaculata (OMI) di Paroki St Stephanus Cilacap, Jawa Tengah.

Sejak tinggal di paroki yang berada di wilayah Keuskupan Purwokerto, pada 1973, Romo Carolus merintis berbagai karya pastoral baik secara formal maupun informal. Salah satunya adalah penghijauan di Pulau Nusakambangan.

Rabu minggu ketiga setiap bulan, Romo Carolus mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan. Di sana, ia mempersembahkan Ekaristi di Lapas Super Ma­ximun Security (SMS) Pasir Putih. Sebagian besar penghuni Lapas adalah narapidana kasus narkoba yang divonis mati. “Terakhir, saya mempersembahkan Misa, ada 40 orang. Di antara mereka ada yang Katolik, ada yang Kristen. Mungkin tujuh sampai delapan orang divonis hukuman mati,” ungkap Romo Carolus.

Romo Carolus tidak setuju pada vonis mati. Karena, menurutnya, eksekusi mati dengan ditembak adalah penyiksaan. “Saya menyaksikan dua orang yang dieksekusi. Selama delapan menit mereka belum mati,” katanya. Ia menilai, tidak sedikit terpidana mati yang menderita. “Orang menunggu hukuman mati bertahun-tahun adalah siksaan,” ujarnya prihatin.

Reboisasi

Selain melayani Misa, Romo Carolus juga menghijaukan pulau yang terletak di sebelah selatan Kota Cilacap itu. Meski akses masuk ke tempat penampungan pa­ra penjahat kelas kakap dibatasi, kenyataannya hutan Nusakambangan rusak karena dijarah.

Mulanya, Romo Carolus mendengar pemerintah daerah setempat mempersilakan masyarakat menanam pohon albisia. Tetapi, Romo Carolus melihat, hanya mereka yang memiliki uang yang bisa membeli dan menanam pohon albisia. Karena itu, Romo Carolus memberikan bantuan dana untuk pena­naman albisia kepada 50 keluarga miskin.

Sempat juga muncul rencana dari Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM untuk menutup total Nusakambangan. Pendatang yang mereka sebut sebagai penghuni liar dilarang masuk. Romo Carolus berangkat ke Semarang, bertemu Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM, dan minta agar program penghijauan di pulau seluas 22.000 hektar, panjang 14 km dan lebar 6 km itu, tetap memberdayakan masyarakat setempat. “Fokus saya pada kemiskinan. Hutan akan aman kalau melibatkan masyarakat untuk memeliharanya. Mereka harus mendapatkan sesuatu,” kata Romo Carolus mengulang argumen yang disampaikannya kepada Kakanwil Hukum dan HAM Provinsi Jawa Tengah saat itu. Dari pertemuan itu, Romo Ca­rolus dipercaya menghijaukan kembali la­han Nusakambangan yang gundul.

Tindak lanjut MOU Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM dengan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) Cilacap No WUM.01.10-323, 7 April 2010 adalah proyek reboisasi Kawasan Solok Jero, Nusakambangan. Tujuannya, mengembalikan hutan Nusakambangan pada ekosistem asli, hingga mampu memberi kontribusi pada pencegahan global warming.

Prioritas yang ditanam adalah pohon-pohon asli Nusakambangan. Strategi yang dipakai adalah pengorganisasian dan pemberdayaan warga pendatang hingga mereka mampu berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan program.

Sebanyak 150 petani penggarap, masing-masing bertanggung jawab menanam pohon-pohon asli Pulau Nusakambangan seluas satu hektar. Bila satu hektar lahan telah ditanami, mereka mendapatkan Rp 1 juta. Selama penanaman dan pemeliharaan, mereka mendapatkan bibit palawija untuk tumpang sari. Apabila lahan itu sudah hijau, para petani diberi lahan lain yang masih gundul. Proyek ini diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Dra Hj. Rustriningsih MSi pada 1 Maret 2011.

Menyambut baik

Beberapa orang menilai positif karya-karya Romo Carolus. Anggota DPRD Ka­bupaten Cilacap, Yohanes Parsiyan, menyebut bahwa Romo Carolus telah mengembangkan nilai pluralisme dalam karya sosialnya. “Dalam karyanya, Romo Carolus telah mewujudkan pluralitas di tengah masyarakat. Di sekolah yang dikelolanya, Romo Carolus menyediakan guru agama sesuai masing-masing siswa. Itu yang ditanggapi masyarakat secara antusias,” kata Parsiyan.

Aktivis WKRI Cilacap, Yuliana Evi Indriani Cahyawati (43), ikut bangga atas karya romo parokinya ini. “Saya bersyukur karena romo paroki saya betul-betul meneladani Yesus, yang terjun ke masyarakat miskin. Ia berjalan dari desa ke desa,” katanya.

Selain itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beriman (FKUB) Kabupaten Cilacap, Moh. Taufick Hidayatulloh SAg, menilai apa yang dilakukan Romo Carolus menghijaukan Nusa­kambangan merupakan kritik terhadap pemerintah. “Ini menjadi kritik ha­lus seorang tokoh agama terha­dap negara. Negara memandang penghuni liar Nusakambangan sebagai ancaman. Padahal, tidak. Kalau mereka diberda­ya­kan bersama membangun negeri, mereka bisa berperanserta. Kuncinya ada pada ketulusan, persahabatan, dan komunikasi yang dibangun,” tegasnya.

Stefanus P. Elu,
Laporan : Sutriyono





Kunjungan: 675
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com