Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pendidikan: Jalan Keluar dari Kemiskinan - Hidup Katolik

Pendidikan: Jalan Keluar dari Kemiskinan

Kamis, 21 Juni 2012 16:14 WIB
Pendidikan: Jalan Keluar dari Kemiskinan
[HIDUP/Aprianita Ganadi]
Darmaningtyas

HIDUPKATOLIK.com - Pendidikan dapat melepaskan seseorang dari lingkaran kemiskinan. Keyakinan tersebut mendorong Darmaningtyas untuk terjun dalam bidang pendidikan dan membuka akses bagi kaum miskin untuk bersekolah.

Darmaningtyas dikenal sebagai sosok yang peduli pada masalah pendidikan dan kemiskinan. "Isu pendidikan yang saya angkat berkaitan dengan isu kemiskinan. Seperti aksesibilitas kaum miskin untuk memperoleh layanan pendidikan di sekolah negeri," ujar lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta ini.

Darmaningtyas menilai, sekolah saat ini sungguh memberatkan kaum miskin. Mulai dari persoalan seragam sekolah, buku pelajaran, program study tour, dan lain-lain. Maka, tidak mengherankan, pria berusia 49 tahun ini sangat gencar menyuarakan bagaimana caranya agar kaum miskin bisa memperoleh pendidikan.

Kepedulian Darmaningtyas terhadap pendidikan bagi kaum miskin ini disuarakannya melalui beberapa buku karyanya. Misalnya, "Pendidikan pada dan pasca Krisis" terbitan Pustaka Pelajar (1999), "Pendidikan yang Memiskinkan" terbitan Galang Press (2004), "Utang dan Korupsi Racun Pendidikan" terbitan Pustaka Yashiba (2008). Tahun 2012 ini, Darmaningtyas mengeluarkan buku berjudul "Manipulasi Kebijakan Pendidikan, Evaluasi Kebijakan Pendidikan Rezim SBY" yang diterbitkan Resist Book.

Masalah pendidikan

Dunia pendidikan bukan hal baru bagi pria kelahiran Gunungkidul, Yogyakarta, 18 September 1962 ini. Tahun 1982, Darmaningtyas mulai menggeluti pendidikan dengan menjadi guru honorer pada SMP Binamuda dan SMA Muhammadiyah Panggang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat itu, Darmaningtyas membuat eksperimen berupa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Binamuda, Gunungkidul untuk mengembangkan basis potensi lokal. "Mayoritas pekerjaan masyarakat di sana adalah petani dan peternak. Dari situ, saya membuat eksperimen dengan memberi mata pelajaran peternakan, pertanian, kerajinan bambu, menjahit, dan mengembangkan musik gamelan. Kami mengajarkan pengetahuan mengenai cara beternak dan bertani kepada para murid," ungkapnya.

Eksperimen yang dikembangkan Darmaningtyas selanjutnya dipraktikkan juga oleh masyarakat sekitar. Sampai saat ini, SMP Binamuda masih terus mengembangkan program MBS, meski Darmaningtyas tidak terlibat dalam pengelolaan sekolah tersebut. "Saya berharap, eksperimen seperti itu juga dapat dikembangkan di sekolah atau daerah lain," tandasnya.

Saat bekerja menjadi guru, Darmaningtyas memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Filsafat, UGM. Tahun 1984, Darmaningtyas meninggalkan profesinya sebagai guru SMA Muhammadiyah Panggang, Gunung Kidul. Hal ini disebabkan karena ia tidak setuju dengan pungutan uang ujian yang melebihi ketentuan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Walaupun meninggalkan profesi sebagai guru, Darmaningtyas tetap peduli pada permasalahan pendidikan. Ia menulis mengenai pendidikan bagi kaum miskin. Ia mulai aktif menulis di media massa sejak awal kuliah hingga sekarang.

Darmaningtyas berharap, dengan pendidikan yang baik bagi kaum miskin, pengetahuan mereka semakin terbuka dan ada kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Negara bertugas memfasilitasi warganya agar dapat memperoleh layanan pendidikan secara mudah dan baik.

Tolak UN

Darmaningtyas terus berjuang demi pendidikan kaum miskin. Ia menyuarakan agar kaum miskin memperoleh fasilitas sekolah gratis dari pemerintah. Menurutnya, kekayaan alam dan pajak bisa digunakan untuk membiayai sekolah gratis bagi masyarakat, mulai dari jenjang pendidikan SD hingga perguruan tinggi. "Asal semuanya dikelola dengan benar, tidak dikorupsi, dan tidak digunakan secara inefisien," tandasnya.

Banyak daerah menyatakan pendidikan dasar gratis, namun masih membebani dengan pungutan seragam sekolah, program study tour, tabungan, ganti buku pelajaran setiap semester, dan sejenisnya. Darmaningtyas berharap, segala pungutan yang tidak memiliki relevansi langsung dengan peningkatan mutu pendidikan dapat dihapuskan.

Permasalahan lain yang masih terus diperjuangkan Darmaningtyas adalah penolakan Ujian Nasional (UN), yang dirasa merugikan kaum miskin. "Oleh karena kemiskinannya, anak-anak miskin belajar tanpa fasilitas, tanpa pembimbing, tidak dapat ikut les di luar sekolah, dan tanpa asupan gizi yang cukup," cetus Darmaningtyas. Tentang hal itu, Darmaningtyas mengalaminya sendiri. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga miskin dengan tiwul sebagai makanan pokoknya.

Hal-hal tersebut mengakibatkan daya tangkap dan motivasi belajar anak-anak dari kalangan miskin rendah, sehingga nilai UN merekapun tidak maksimal dan banyak yang tidak lulus. Sayangnya, pemerintah tidak memperhatikan kelompok ini. Pemerintah justru lebih memperhatikan kelompok pandai dan kaya yang bersekolah di sekolah negeri favorit dengan label Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) atau Sekolah Standar Nasional (SSN).

Bersama para pakar pendidikan, hal itu juga pernah ia sampaikan kepada Komisi X DPR RI pada 2010. Mereka mendesak pemerintah agar menghapus UN dan SBI.

Darmaningtyas

TTL : Gunungkidul, Yogyakarta, 18 September 1962
Pendidikan : Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, 1990

Pekerjaan :
• Guru SMP Binamuda, Panggang, Gunungkidul, 1982 – 1990
• Guru SMA Muhammadiyah, Panggang, Gunungkidul, 1982 – 1984
• Penulis masalah pendidikan di media massa,1983 – sekarang
• Pengurus Majelis Luhur Tamansiswa Yogyakarta, 2007 – 2011
• Direktur Institut Studi Transportasi (INSTRAN), LSM Transportasi Jakarta, 2000 – sekarang
• Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta, 2010 – 2013
• Ketua Departemen Pendidikan dan Pembinaan Mental, Dewan Harian Nasional 45 Jakarta, 2012 – 2017

Karya:
• Pendidikan pada dan Paska Krisis (Pustaka Pelajar, 1999)
• Pendidikan yang Memiskinkan (Galang Press, 2004)
• Membongkar Ideologi Pendidikan, Jelajah UU Sisdiknas (Resolusi Press, 2004)
• Pendidikan Rusak-rusakan, Kritik terhadap Kebijakan Pendidikan Nasional (LKIS, 2005)
• Utang dan Korupsi Racun Pendidikan (Pustaka Yashiba, 2008)
• Tirani Kapital dalam Pendidikan, Menolak UU BHP (Pustaka Yashiba dan Dhamar Press, 2009)
• Transportasi Jakarta Menjemput Maut (Pustaka Yashiba, 2009)
• Manipulasi Kebijakan Pendidikan, Evaluasi Kebijakan Pendidikan Rezim SBY (Resist Book, 2012)

Aprianita Ganadi




Kunjungan: 1355
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com