Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Gagasan "Edan" pada Tahun Emas - Hidup Katolik

Gagasan "Edan" pada Tahun Emas

Minggu, 23 Januari 2011 14:17 WIB
Gagasan
[HIDUP/Y. Prayogo]
Pastor Lucas Paliling Pr dengan drum-drum anggur Misa di Gedung KWI Cut Meutia, Jakarta Pusat.

HIDUPKATOLIK.com - Selama ini, anggur untuk Misa di Gereja Katolik Indonesia masih hibah dari umat dan para Uskup Australia. Untuk mendatangkan anggur Misa ke bumi Nusantara membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Tentu juga dana yang nilainya mencapai angka miliaran.

Sebuah gagasan untuk mandiri atau berswasembada anggur Misa pun terlontar. Momentum 50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia yang diperingati tahun ini, menjadi titik tolak untuk merenung, berpikir, dan mengusahakan kemandirian dalam pengadaan anggur Misa.

Gagasan ini mulai dilontarkan Kepala Departemen Pelayanan Umum-Pengembangan Sumber Daya Manusia-Tenaga Gerejawi (PU-PSDM-TG) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Pastor Lucas Paliling Pr pada Sidang Tahunan KWI tahun 2007. "Saya bicara kepada para Uskup agar mulai memikirkan secara serius kemandirian anggur Misa di Indonesia," kisahnya saat ditemui di Kantor KWI Cut Meutia, Jakarta Pusat, Selasa, 11/1.

Maka, ia pun mencari informasi tentang keberadaan buah anggur di Indonesia. Selang tiga tahun, Pastor Lucas menemukan bahwa di Bali ada beberapa pabrik anggur (winery), salah satunya adalah Hatten. Lalu, ia pun berkunjung ke winery itu. Dan, pada Sidang Tahunan KWI tahun 2010 lalu, ia kembali melontarkan gagasannya itu. Sambutan antusias datang dari Uskup Purwokerto, Mgr Julianus Sunarka SJ.

Anggur hibah

Menurut Pastor Lucas, kebutuhan anggur Misa di Indonesia sangat besar. Setiap dua atau tiga tahun sekali, para Uskup di Australia memberi bantuan anggur Misa untuk Gereja Katolik Indonesia. Sekali kirim mencapai 400 drum anggur Misa. Satu drum berisi 220 liter. Jika dikalikan akan mendapat angka 88.000 liter anggur Misa. Angka itu memang terlihat banyak. Namun, ketika harus dibagi untuk 38 keuskupan, angka itu pun menjadi amat sedikit. Ada keuskupan yang memesan tiga atau empat drum. Tapi, ada juga yang memesan hingga 40 drum. Semua tergantung pada jumlah umat. Misal, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang pernah memesan hingga 50 drum atau 11.000 liter untuk kebutuhan dua atau tiga tahun atau lebih.

Hibah para Uskup Australia berupa anggur Misa itu datang dalam kemasan drum-drum berwarna biru. Diangkut dengan kontainer. Setiap kontainer berisi 80 drum. Artinya, jika mendatangkan 400 drum, membutuhkan lima kontainer. Ketika sudah sampai di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, drum-drum itu langsung didistribusikan ke keuskupan-keuskupan sesuai pesanan. "Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang selama ini telah membantu mendatangkan anggur Misa itu. Kami berharap agar pemerintah akan terus membantu Gereja Katolik Indonesia," harap Pastor Lucas.

Sebelum ada hibah dari Australia, Gereja Katolik Indonesia menggunakan anggur Misa dari Eropa. Lantaran saat itu masih banyak misionaris dari Belanda di Indonesia. "Mungkin anggur Misa dari Perancis. Tapi, data-data detilnya saya tidak punya," ucap Pastor Lucas.

Gagasan edan

Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ menyambut dengan antusias gagasan swasembada anggur Misa ini. Usai Sidang Tahunan KWI pada November 2010, Uskup kelahiran Sleman, Yogyakarta, 25 Desember 1941 ini segera membuka internet. Lewat jejaring dunia maya, ia menggulirkan gagasan ini ke beberapa milis.

"Saya memimpin rapat dengan banyak orang melalui internet," katanya saat ditemui dalam perjalanan dari Brebes ke Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu, 9/1. "Nah itu, ada yang dari Thailand!" kata Mgr Sunarka sembari menyerahkan kertas-kertas risalah "rapat online" sebanyak dua puluh halaman. Yang dimaksud dari Thailand adalah Pastor Maharsono Probo SJ. Menurut Mgr Sunarka, di Thailand, tempat Pastor Maharsono bertugas, petani sudah menanam dan memproduksi minuman anggur (wine). Sementara Indonesia yang memiliki lahan pertanian amat luas pasti juga bisa memproduksi wine.

Lewat jaringan internet itu, Mgr Sunarka terus mengawal guliran gagasan penanaman dan pengadaan anggur Misa dalam negeri. Ia "memprovokasi" berbagai pihak yang terkait dengan masalah tersebut. Menurut Mgr Sunarka, para Uskup sudah setuju dengan gagasan itu. Ia memastikan produksi akan terserap pasar. "Modal bisa dibicarakan, secara manajerial dan operasional sudah ada gambaran," kata Mgr Sunarka.


Mgr Julianus Sunarka SJ [HIDUP/R. Sutriyono]

Selain itu, ia mengkonfirmasi kemungkinan Akademi Teknik Menengah dan Industri (ATMI) Solo untuk membuat rancangan alat pengolahannya. Mgr Sunarka juga mengajak Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta untuk meneliti tanaman anggur yang cocok untuk Indonesia. Termasuk meneliti teknik proses pengolahan anggur untuk Perayaan Ekaristi. Ia juga mendorong keterlibatan Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga, Jawa Tengah.

Berbagai pihak memberikan dukungan positif. Dalam risalah "rapat online" yang dimoderatori Mgr Sunarka, bisa ditemukan nama-nama seperti Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, Uskup Pangkalpinang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD, Rektor USD Pastor P. Wiryono Priyotamtama SJ, Pastor Lucas Paliling Pr, Direktur KPTT Salatiga Pastor Wartaya Winangun SJ, juga beberapa nama pastor, suster, serta awam turut dalam diskusi. "Sebaiknya kita terus melangkah. Dalam diskusi lewat email, beberapa pihak telah menyatakan kesediaannya mendukung gagasan ini," tandasnya.

Mgr Sunarka berharap, gagasan ini bergulir menjadi nyata pada tahun ini. "Saya bercita-cita menggulirkan implementasi gagasan "edan" (gila) ini mulai tahun 2011, Pesta Emas 50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia," kata Mgr Sunarka bersemangat.

Sebagai Yesuit, Mgr Sunarka tampaknya tidak risau bila Gereja Katolik Indonesia memproduksi anggur Misa secara mandiri. Ia pernah mengungkapkan dengan gembira ketika seorang suster memberi informasi ada pihak yang telah memproduksi anggur. "Puji Tuhan, Puji Tuhan… Apa di tempat Suster sudah ada persediaan anggur untuk Misa produksi lokal yang sudah teruji? Saya lebih berhasrat memesan anggur ke gudang Jawa Timur itu, daripada Australia. Walaupun saya mengurangi penghasilan saudaraku Yesuit di Australia," tulisnya dalam satu kesempatan.

Namun, Pastor Lucas Paliling mengusulkan, jika gagasan ini terwujud, winery yang akan memproduksi anggur Misa harus mendapat sertifikat dari otoritas Gereja, entah itu uskup setempat atau dari KWI. "Kalau nanti, anggur Misa dapat diproduksi di Indonesia, tujuan yang utama dan pertama bukanlah profit tapi untuk Gereja Indonesia," tegasnya.

Gereja Katolik Indonesia terus bertumbuh. Umat pun makin bertambah. Dan, frekuensi Perayaan Ekaristi akan terus meningkat. Namun, anggur untuk keperluan Ekaristi itu masih tergantung pada pihak lain. Gagasan swasembada anggur Misa ini masih akan terus bergulir, dan pada akhirnya akan mewujud, sehingga Gereja Katolik Indonesia sungguh mandiri dan Darah Kristus pun sungguh-sungguh mengalir di bumi Nusantara ini.

Y. Prayogo,
Laporan: R. Sutriyono





Kunjungan: 749
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com