Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Renungan Minggu, 8/7/2012: Mgr J Pujasumarta-Uskup Agung Semarang - Hidup Katolik

Renungan Minggu, 8/7/2012: Mgr J Pujasumarta-Uskup Agung Semarang

Jumat, 6 Juli 2012 20:07 WIB
Renungan Minggu, 8/7/2012: Mgr J Pujasumarta-Uskup Agung Semarang
[themythologicon.blogspot.com]

HIDUPKATOLIK.com - Pw St Agustinus Zhao Rong; Yeh 2:2-5; Mzm 123; 2Kor 12:7-10; Mrk 6:1-6

Dengan membaca bacaan Kitab Suci hari Minggu XIV Tahun B/II kita belajar dari pergulatan hidup para nabi: Yehezkiel (Yeh 2:2-5), Paulus (2Kor 12:7-10), dan Tuhan Yesus (Mrk 6:1-6). Para nabi mengalami pergulatan hidup karena panggilan dan perutusan yang mereka terima dari Allah, pokok keselamatan bagi semua orang, yaitu menjadi nabi. Dalam pergulatan itu, nabi melaksanakan peran profetiknya menurut dimensi pribadi, ruang, dan waktu.

Menurut dimensi pribadi, peran profetik terjadi dalam pergulatan untuk mengenali kehendak Allah bagi hidup manusia dan dunia. Ia berperan sebagai penafsir Firman, yang bergulat untuk mengenal kehendak Allah bagi manusia. Pergulatannya terletak dalam tegangan antara kesetiaannya pada Firman Allah atau pada manusia. Nabi sejati berupaya sedapat mungkin mewartakan Firman dengan bahasa yang memadai sesuai Firman.

Menurut dimensi ruang, peran profetik terjadi karena buah pergulatannya dengan Firman diberitakan pada orang lain. Ia berperan sebagai pewarta yang berbicara di hadapan orang lain. Bila nabi setia pada Firman, pewartaannya dapat menjadi kritik keras pada umat. Itulah sebabnya, nabi tidak diterima di kalangan umat sendiri.

Menurut dimensi waktu, karena visi hidup yang telah dicerahkan Firman, peran profetik terjadi bilamana pewartaan mencerahkan orang lain agar tidak terpenjara pada batasan waktu, tetapi terbuka pada pembangunan masa depan yang lebih baik. Dalam diri Kristus, Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di tengah kita (bdk Yoh 1:14), mengalami suka duka kehidupan kita. Ia sedemikian setia pada Firman Allah, setia sampai mati, karena tidak diterima di kalangannya sendiri.

Pengalaman tidak diterima

Renungan tentang peran profetik ini mengantar saya pada peristiwa yang terjadi pada tahun 1992, ketika saya ditugaskan sebagai pendamping para frater, calon imam Diosesan di Seminari Tahun Orientasi Rohani. Saya bermimpi para frater menghayati spiritualitas yang membumi, spiritualitas inkarnatoris, agar mereka menjadi terampil menafsir tanda-tanda zaman dalam terang Firman.

Sebagai upaya akan impian ini, kami ajak para frater dan beberapa orang muda Katolik terlibat dalam kehidupan masyarakat marginal di Kota Semarang. Kami upayakan menjadi sahabat bagi anak-anak dari keluarga marginal dengan menjadi pendamping belajar anak-anak. Selanjutnya, kegiatan pendampingan itu berkembang menjadi upaya pemberdayaan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Sementara itu, mulailah terdengar berita, kegiatan kami dianggap sebagai kristenisasi.

Pejabat masyarakat pun campur tangan menanggapi isu itu dan kami dilarang meneruskan upaya kami menjadi sahabat bagi orang miskin di kota kami sendiri. Mengingat kembali peristiwa tersebut, kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus menjadi nyata, ”Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Mrk 6:4).

Cukuplah kasih karunia-Ku

Hidup kita menjadi lengkap bila ada pengalaman ketidakberdayaan dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Kesadaran Paulus akan pengalaman ketidakberdayaan dalam hidupnya, seperti siksaan, kesukaran, penganiayaan dan kesesakan, semakin meyakinkannya akan kekuatan Allah. Kesatuan dengan Kristus menyadarkan Paulus akan kuasa Kristus yang menjadi sempurna dalam kelemahannya. Paulus sampai pada titik kesadaran akan kuasa Kristus dalam dirinya, yang dinyatakan dalam jawaban Tuhan, ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2Kor 12: 9).

Panggilan dan perutusan menjadi nabi, adalah panggilan dan perutusan Gereja pada zaman kita untuk meneruskan peran Kristus sebagai nabi Perjanjian Baru. Konsekuensi dari panggilan dan perutusan itu memuat risiko kemartiran, karena orang zaman ini tidak menerima kehadiran nabi yang mewartakan kebenaran dan kebaikan yang berasal dari Allah. Kasih karunia Kristus menjadi daya kekuatan yang cukup bagi kita untuk setia menjadikan hidup sebagai saksi. Allah hidup, menuntun umat-Nya dalam peziarahan hidup di dunia ini.

Mgr Johannes Pujasumarta




Kunjungan: 1699
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com