Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Perayaan Syukur 25 Tahun Gedono - Hidup Katolik

Perayaan Syukur 25 Tahun Gedono

Senin, 16 Juli 2012 11:02 WIB
Perayaan Syukur 25 Tahun Gedono
[HIDUP/Benidiktus W.]
Santap siang bersama di sebelah selatan Kapel Bunda Pemersatu, area dalam klausura Biara Trapistin Gedono.

HIDUPKATOLIK.com - Pukul 04.00, Sabtu, 12 Mei 2012, di Terminal Bus Tingkir Salatiga, puluhan tukang ojek, menyilangkan tangan di dada, menahan hawa dingin. Tujuh kilometer dari Tingkir, di ketinggian 1.000 meter, para rubiah OCSO sedang berdoa.

Salah seorang tukang ojek menghampiriku dan menawarkan jasa. "Ke Yayasan, Mas," kataku. "Ayo Pak, dua puluh lima ribu. Pertapaan Gedono 'kan?" Delapan tahun yang lalu, April 2002, "Pertapaan Gedono" bukan sebutan yang familier bagi orang-orang di sekitar Terminal Tingkir. Kata "Yayasan" lebih dikenal, sebagai sebutan kebanyakan orang atas Biara Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO/Trapis) Bunda Pemersatu Gedono. Karena, kata "Gedono" sendiri juga bukan kata yang familier bagi mereka. Biara para rubiah OCSO ini terletak di lereng timur laut Merbabu. Tepatnya di Dukuh Weru, Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Konon kata "Gedono" berasal dari kata Nggone Mbah Dono (tempat tinggal Mbah Dono).

Jalan menuju Gedono beraspal. Pagi itu, jalan lengang, sepeda motor melaju leluasa. Melaju dengan kecepatan 40 km per jam menembus udara pagi membuat tubuh menggigil. Dalam perjalanan di antara rumah-rumah penduduk, sesekali bau asap dapur tercium.

Pagi itu, seperti biasanya Gedono sepi. Hanya seorang penjaga malam berdiri di dekat pos jaga, menyambut tamu yang datang. Dan seperti hari-hari sebelumnya, sejak Januari 1987, lantunan Mazmur mengalun di Kapel Bunda Pemersatu. Ibadat Pagi pukul 05.45, dilanjutkan dengan pembacaan Peraturan Benediktus. Setiap hari, para Rubiah OCSO ini menjalani cara hidup St Benediktus pada abad ke-6. Pada Januari itu, empat suster mulai menempati satusatunya rumah yang siap huni meskipun tanpa listrik, dengan dapur di luar. Sebuah kamar dijadikan kapel.

Setelah tujuh suster lainnya bergabung, dimulailah hidup regular kerahiban Cistersiensi-Trapis pada Minggu Palma, 12 April 1987. Pembangunan rumah biara ini baru selesai pada 1992. Setiap hari mereka bangun pada pukul 02.55 dini hari, untuk Ibadat Malam di kapel pada 03.15. Dan lantunan doa membuka hari: "Ya, Tuhan, sudilah membuka bibirku dan mulutku akan mewartakan kemuliaan-Mu." Keheningan dijaga sampai sesudah Ekaristi yang seringkali disatukan dengan Ibadat Pagi supaya jam-jam pertama harinya dapat diarahkan pada doa, bacaan, dan renungan.

Sehari-hari para suster pertapa ini menjalani aktivitas selang seling antara ibadat harian yang dirayakan tujuh kali sehari di kapel, bacaan Ilahi (lectio Divina), dan bekerja. Mereka membuat dan menjual hosti, selai, sirup, kue, kefir dan kartu-kartu rohani, untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka juga berkebun sayur, serta mengurus rumah tangga. Semua dikerjakan sendiri dengan dibantu beberapa warga setempat. Biara ini adalah satu-satunya Biara OCSO perempuan di Indonesia. Di dunia, ada 178 Biara OCSO: 102 biara laki-laki dan 76 biara perempuan. Sedangkan di Indonesia, ada tiga biara OCSO. Dua lainnya adalah Biara OCSO untuk laki-laki, yaitu Pertapaan Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah, dan Biara Trapis Lamanabi, Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Pesta kesetiaan

Tahun ini Gedono memasuki usia ke-25 tahun. Seperti pada umumnya, usia perak ini dirayakan. Para suster Gedono pun mengundang sahabat, saudara, kenalan, untuk mengucap syukur pada Sabtu, 12/5. Para tamu berdatangan sejak pukul 08.00. Kecuali warga di sekitar biara yang datang berjalan kaki, sebagian besar tamu datang dengan sekurang-kurangnya 132 mobil, dan satu minibus yang ditumpangi para rahib dari Pertapaan Rawaseneng. Lebih dari 400 orang menghadiri Ekaristi Syukur hari itu. Mereka adalah awam, biarawan-biarawati, imam, uskup, abbas, dan rahib dari Pertapaan OCSO Rawaseneng, Temanggung.


Mgr Pujasumarta, selebran utama perayaan Ekaristi Syukur 25 Tahun Gedono. [HIDUP/Benidiktus W.]

Usia 25 tahun, demikian Abdis Gedono, Ibu (Mother) Martha Elisabeth Driscoll OCSO, adalah syukur atas rahmat dan kasih Tuhan selama itu. Gedono adalah "bagian" dari sejarah keselamatan, komunitas yang menghidupi tradisi monastik. Gedono berada di wilayah Keuskupan Agung Semarang sebagai keuskupan metropolit Provinsi Gerejawi Semarang dengan tiga keuskupan sufragan: Purwokerto, Surabaya, dan Malang. Biara Gedono adalah biara kedua OCSO di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Sebelumnya, telah berdiri Biara OCSO St Maria Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah, yang mendirikan Biara Gedono.

Abdis Martha mengatakan, "Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, karena kalian mau datang hari ini, untuk bersyukur kepada Tuhan bersama kami atas kasih setia-Nya yang justru kami alami melalui Anda sekalian. Tanpa persahabatan, dukungan, pelayanan, dan bantuan kalian, Pertapaan Gedono tak mungkin berkembang. Inilah Pesta Perak kesetiaan Anda sekalian."

Abdis Martha juga menyampaikan terima kasih kepada semua sahabat yang sudah berada dalam keabadian. Ia menyebut Pastor Y.B. Mangunwijaya yang menjadi arsitek bangunan biara ini dan Pastor Suitbertus Ari Sunardi OCSO yang menjadi "mandor" pembangunannya. Hari itu, bertepatan dengan 100 hari wafatnya Pastor Suitbertus OCSO, kakak Mgr I. Suharyo.

Ekaristi Syukur

Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr J. Pujasumarta sebagai selebran utama, bersama Uskup Agung Jakarta Mgr I. Suharyo, Uskup Emeritus Banjarmasin Mgr F.X. Prajasuta MSF, Abbas Emeritus Rawaseneng Dom Frans Harjawijata OCSO, Abbas Biara Tilburg Belanda Dom Bernardus Peeters OCSO, dan 21 imam biarawan maupun Diosesan, di antaranya adalah Provinsial Serikat Yesus Romo R.B. Riyo Mursanto SJ, Rektor Seminari Tinggi St Paulus Kentungan Yogyakarta Romo J. Kristanto Suratman Pr, mantan Pater Jenderal Misionaris Keluarga Kudus Romo Wim van der Weiden MSF. Selebran utama Mgr Pujasumarta mengenakan tongkat gembala dan mitra, tetapi polos tanpa lambang tahbisannya.

Hadir juga dalam perayaan ini, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan Abbas Rawaseneng Dom Gonzaga Rudiyat OCSO. Berdua, mereka duduk berdampingan bersama umat di deret paling depan, di depan keluarga Frans Seda.

Kapel Bunda Pemersatu, pada bagian yang diperuntukkan umat dan dibatasi pagar klausura, hanya menampung sekitar 80 orang. Sementara para rahib dari Rawaseneng diizinkan menempati tempat duduk bersama para rubiah, para tamu lain duduk di kursi beratapkan tenda di sebelah selatan kapel dan sebuah rumah di sebelah selatan kapel. Area di selatan kapel ini, pada hari-hari biasa merupakan bagian yang tidak diperkenankan untuk dimasuki, kecuali dengan izin Abdis.

Mereka yang mengikuti Ekaristi di tenda dan ruang sebelah selatan kapel tidak bisa memandang langsung ke altar. Untuk itu, tiga kamera dipasang di dalam kapel, sehingga mereka dapat melihat dari layar. Selama Misa berlangsung, Komunitas Gedono tidak mengizinkan penggunaan flash untuk pemotretan, termasuk dua fotografer yang telah diizinkan memotret dari tempat-tempat yang telah ditentukan.

Hari itu, panti imam dan altar tampak seperti hari-hari sebelumnya, kecuali jumlah kursi untuk para imam, dan semarak bunga warna-warni di kaki altar bagian depan. Di bagian belakang panti imam, di dekat pagar klausura, patung Bunda Maria Pemersatu tak berubah posisi sejak ditahtakan. Patung Bunda Maria ini digambarkan dalam sosok perempuan Jawa yang memakai kain dan kebaya dengan rambut disanggul, menggendong bayi Yesus. "Selain untuk mempercantik, aneka bunga itu juga melambangkan aneka keindahan yang disatukan dalam pelukan Bunda Pemersatu," demikian Abdis Martha, dalam perbincangan di ruang tamu dengan HIDUP, Minggu pagi keesokan harinya.

Bunga-bunga sebagai simbol persatuan, melengkapi simbol utama yang diletakkan di atas altar: roti dan anggur, hasil bumi dan kerja manusia. Roti dibuat dari biji-biji gandum yang dihaluskan kemudian disatukan kembali. Anggur dibuat dari buah anggur yang dihancurkan dan difermentasikan sehingga manjadi minuman baru. Dengan Doa Syukur Agung, keduanya berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

Dalam khotbahnya, Mgr Pujasumarta mengatakan bahwa bagi para rubiah, Ekaristi adalah pusat. Ekaristi adalah sumber dan puncak yang dirayakan dan direnungkan melalui adorasi. "Tinggal dalam Kristus, bukan barang baru untuk Gedono. Kita adalah ranting-ranting yang akan berbuah. Hadir di sini kita menjadi rileks, berada di dunia yang meyakinkan bahwa Allah beserta kita. Terima kasih, karena telah menginspirasi semangat persaudaraan sejati. Tidak cukup dengan toleransi, tetapi kesediaan untuk saling mengasihi. Terima kasih, karena Gereja semakin lengkap di sini."

Mgr Pujasumarta juga menceritakan kisah C.B. Nurjati, dengan limbah pembuatan hosti dari Gedono yang dibuatnya kue dan dijual ke Gua Maria Kerep Ambarawa. Warung Nurjati, ia beri nama "Rumah Lima Roti dan Dua Ikan", yang bermakna: ketulusan hati, disempurnakan Kristus, akan menjadi cukup.

Usai Ekaristi, para tamu bersama rubiah Gedono menyantap hidangan di taman sebelah selatan kapel. Diterima sebagai saudara, lebih dari sekadar di "ruang tamu".

Julius Kardinal Darmaatmadja SJ:

"Tujuh kali sehari, para rubiah Gedono memuji, mencari misterinya, mengagumi, mohon ampun, mendoakan semua: seluruh dunia, seluruh Gereja. Para rubiah hidup dalam keheningan hati dan budi, betapa pun singkatnya, untuk mampu memahami kehendak Tuhan. Para rubiah hidup dalam kasih, memuji, dalam kesederhanaan dan karya. Semua dipersembahkan kepada Tuhan. Terima kasih para rubiah, profisiat, terima kasih."




Kunjungan: 1038
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com