Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Komunitas Doa Hening: Penyembuhan Luka Batin - Hidup Katolik

Komunitas Doa Hening: Penyembuhan Luka Batin

Selasa, 17 Juli 2012 11:57 WIB
Komunitas Doa Hening: Penyembuhan Luka Batin
[HIDUP/Sutriyono]
Anggota Komunitas Doa Hening sedang melakukan penyembuhan luka batin.

HIDUPKATOLIK.com - Rabu sore, ketika matahari mulai meredup, 18 orang duduk melingkar di Ruang St Thomas Aquinas, Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Jawa Tengah. Tepat pukul 18.00, mereka mendaraskan doa Malaikat Tuhan.

Selanjutnya, mereka mulai melakukan meditasi di bawah bimbingan Pastor Xaverius Raymond Kawalo MSC. Mereka dituntun masuk ke dalam suasana meditasi dengan melatih konsentrasi. Pastor Raymond mengajak para peserta melakukan penyadaran diri; menyadari berbagai suara yang terdengar di sekitar mereka. Pastor Raymond juga mengajak peserta merasakan irama denyut nadi dalam tubuh mereka masing-masing.

Lampu yang menyala perlahan diredupkan. ”Ketika kita bermeditasi, kita belajar menguasai badan kita sendiri,” kata Pastor Raymond dalam pengantar penjelasan meditasi. Menurut pastor rekan Paroki Katedral ini, badan dapat dikuasai dengan melatih konsentrasi.

Manfaat meditasi
Meski terlihat sederhana, muncul berbagai efek positif dari doa dan meditasi jika terus-menerus dilakukan. G. Margono adalah salah seorang yang merasakannya. ”Saya menjadi lebih sabar. Dulu, kalau tersinggung sedikit, saya langsung marah. Sekarang, tidak,” ujarnya.

Selain itu, Margono bisa berhenti merokok. ”Waktu saya bertugas di Timor Leste, satu hari bisa habis empat sampai lima bungkus rokok. Ketika berlatih doa hening, perlahan-lahan saya bisa mengurangi merokok dan bahkan berhenti sama sekali,” jelasnya.

Selama bermeditasi, pensiunan Brimob ini memilih tekun mempelajari doa Yesus. Doa ini ia daraskan setiap saat dalam berbagai aktivitas. Perlahan-lahan, kalimat pendek yang menurutnya tidak bisa diberitahu kepada orang lain itu muncul dengan sendirinya setiap kali mau beraktivitas. ”Lama-lama doa itu muncul sendiri. Mau tidur, mau pergi, saya mengucapkan doa itu,” ungkapnya.

Pastor Raymond menambahkan berbagai manfaat meditasi. Ia mengatakan, sebagian anggota kelompok ini adalah guru. Beberapa di antaranya adalah dosen. Menurutnya, meditasi penting bagi para guru. ”Apa yang akan kita sampaikan kepada para murid akan lebih fokus. Meditasi memperkuat daya perhatian dan konsentrasi kita,” jelasnya.

Menurutnya, meditasi akan melatih daya ingat otak menjadi lebih baik. Semakin tua, fungsi otak menurun. Tetapi, dengan tetap berlatih meditasi, daya ingat berjalan dengan baik. ”Manfaat terbesar meditasi dalam hidup rohani adalah hidup kita menjadi lebih ilahi. Apa yang kita lakukan menjadi semakin lebih bernilai di mata Tuhan,” ujarnya.

Tumbuh dari awam
Komunitas tersebut bernama Doa Hening, dibentuk di Paroki Katedral Kristus Raja delapan tahun lalu. Empat orang terlibat dalam proses berdirinya komunitas latihan doa ini. Mereka adalah Th. J. Soesilo Santoso, Ag. Hantoro Djoko Rahardjo, G. Margono, dan A.Y. Himawan Mardiko.

Kelompok Doa Hening tumbuh dari kalangan awam. Meskipun demikian, komunitas ini didampingi imam. Sesekali juga menghadirkan biarawan dan biarawati dalam pertemuan. Kegiatan kelompok berpusat pada latihan doa.

Sejak delapan tahun lalu, setidaknya ada 200 orang yang pernah tercatat mengikuti kegiatan kelompok ini. ”Tidak ada semacam kartu anggota. Kami hanya mengenalkan metode doa. Kalau sudah mengenal, mereka bisa melakukannya di rumah,” kata Soesilo.

Soesilo, salah satu penggagas kelompok doa tersebut, adalah pensiunan karyawan perbankan. Saat masih aktif bekerja dan tinggal di Jakarta, ia menyempatkan diri untuk mengikuti bimbingan doa meditasi dengan seorang Yesuit. Pengalaman itulah yang kemudian ia tularkan ketika kembali ke kampung halaman.

Sekali waktu kelompok ini mengundang narasumber secara khusus. Biasanya ini dilakukan pada saat merayakan ulang tahun kelompok. Pada ulang tahun ketiga, Kelompok Doa Hening mengadakan sarasehan yang menghadirkan Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ dan Pastor Agustinus Handoko MSC sebagai pembicara. Pastor Handoko mengenalkan metode yoga.

Pelayanan keluar
Kelompok ini tak hanya sibuk dengan urusan doa. Mereka juga melakukan pelayanan keluar dengan menjenguk para narapidana dan para lansia di Panti Jompo Catur Nugraha yang dikelola suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) di Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah.

Para anggota kelompok ini juga melayani penyembuhan luka batin bagi mereka yang membutuhkan. Saat mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto, mereka mengajak para narapidana belajar berdoa dalam keheningan, sekaligus menyembuhkan luka-luka batin.

Menurut Soesilo, luka batin adalah keadaan jiwa seseorang yang tidak sehat sehubungan dengan penderitaan yang terjadi dalam hidupnya. Luka batin yang dibiarkan berlarut-larut akan berakibat pada perilaku dan pola pikir seseorang. Ia akan menjadi minder, sangat agresif, atau tidak peduli pada orang lain dan lingkungannya.

”Jika dibiarkan berlama-lama, luka batin menimbulkan sakit fisik, seperti meningkatnya tekanan darah dan kepala pusing,” imbuhnya. Soesilo mengungkapkan, metode inner healing atau penyembuhan luka batin merupakan penyembuhan dengan meneliti ke dalam diri untuk mengurai berbagai beban batin yang tidak disadari penderita. Dengan bimbingan seorang terapis, beban tersebut dibuang dari alam bawah sadar.


R. Sutriyono







Kunjungan: 3334
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com