Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mewarta Lewat Ketoprak - Hidup Katolik

Mewarta Lewat Ketoprak

Rabu, 25 Juli 2012 10:02 WIB
Mewarta Lewat Ketoprak
[HIDUP/Markus Ivan]
Ignatius Wahono

HIDUPKATOLIK.com - Nama Ignatius Wahono (72) tak asing lagi di telinga para pencinta kesenian tradisional ketoprak di Yogyakarta. Di usia senja, ia memang tak lagi ngetoprak, namun sesekali ia masih menggeluti dunianya.

“Setelah tua sekarang saya jadi konsultan atau pelatih ketoprak, terkadang juga ditunjuk jadi juri ketoprak,” tutur Wahono, saat ditemui di ruang kerjanya Rumah Budaya Tembi, Bantul-DIY, Jumat, akhir Oktober lalu.

Lelaki santun ini berketoprak sejak l966. Ia menapaki karir dengan bergabung dalam grup ketoprak tobong Irama Masa, Bantul. Selama tiga tahun ia bersama grupnya rutin manggung berkeliling. Sebulan pentas di satu tempat, bulan berikutnya pindah di tempat lain. Begitu seterusnya.

Sempat pula selama setahun ia memperkuat Grup Ketoprak Budi Rahayu. Lalu, pada l991 ia menggabungkan diri dalam Grup Ketoprak Sapta Mandala, hingga ketoprak milik Kodam VII/Diponegoro ini bubar.

Mengajarkan Injil
Semasa kanak-kanak, sebenarnya ia lebih tertarik pada kesenian wayang kulit dan karawitan. Baru setelah berketoprak, ia sering diberi peran sebagai orangtua yang bijak. Peran tersebut memberi peluang lebar dalam menyampaikan nilai-nilai kekatolikan. Ia berharap, melalui penyampaian ajaran-ajaran Kitab Suci itu para penonton menjadi lebih bahagia. “Tentunya tiap kali pentas, yang muncul adalah ajaran-ajaran Injil. Tidak bisa tidak,” tutur mantan guru SD yang pernah menjadi prodiakon selama 22 tahun ini.

Pernah sekali waktu, usai pentas di panggung, ia disusul beberapa penonton Katolik di ruang ganti pakaian. Mereka sekadar meyakinkan apakah dugaannya benar bahwa Wahono memang Katolik. “Bapak orang Katolik?” tanya salah seorang penggemarnya di balik panggung. Wahono hanya bisa balik bertanya: “Kok kamu tahu?” ucapnya sambil tersenyum.

Para penonton yang kristiani akan mudah menduga bahwa pria yang sering memerankan diri sebagai tokoh bijak, seperti pangeran sepuh, itu pasti Katolik. Karena, dalam pentasnya ia kerap menyisip kan pewartaan Injil.

Kalimat pewartaan yang biasa ia sampaikan antara lain, kita itu bekerja tidak sekadar untuk mencari nafkah atau menyambung hidup, tapi tujuan utamanya meluhurkan asma Tuhan. Juga dalam mengartikan cinta kasih, Wahono seiring menyebut bahwa cinta itu sabar, tidak pernah marah, dan rendah hati. Saran lainnya, jika kamu memberi dengan tangan kanan, maka tangan kirimu jangan sampai tahu. Kemudian, sewaktu pentas ketoprak dalam perayaan perkawinan, wejangan yang disampaikan, apa yang sudah diikat oleh Tuhan jangan dipisahkan manusia.

“Banyak hal dalam Injil bisa disampaikan lewat ketoprak,” tutur bapak empat anak yang beristrikan Agustina Ponijah ini.

Di bidang budaya
Warga Paroki Pugeran ini memang selalu bergerak di bidang budaya. Sebelum terjun ke dunia ketoprak, ia berprofesi sebagai guru SD Negeri di Bantul (l956). Lalu, ia pindah mengajar di Padokan. Ia sempat menjadi kepala sekolah di Bibis, Bantul (l981-l986). Selanjutnya, ia menjadi penilik kebudayaan. “Saya juga sempat membantu mengajar di SMKI Bantul selama tiga tahun,” tutur pensiunan pegawai Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini.

Menjelang l960-an, ia merasakan sulitnya menjadi pegawai negeri, apalagi guru, yang tak punya keterampilan. Namun, kemudian ia punya perkumpulan karawitan pengiring pertunjukan kesenian di desa-desa di Bantul. Sekali waktu, ketika grup karawitan yang dikelolanya mengiringi pentas ketoprak, salah seorang pemain ketoprak putri mencuri hatinya. Perempuan yang membuat dirinya jatuh cinta, saat itu memerankan sebagai salah satu bidadari dalam lakon ketoprak Klinting Wasiat.

Namun, ketertarikan pada gadis bernama Ponijah itu sempat tidak berlanjut. “Karena saat itu saya sudah bercita-cita menjadi bruder. Bahkan, sudah magang di novisiat FIC, meski hanya sempat beberapa minggu saja,” ungkapnya.

Untungnya, selama mengikuti pendidikan calon bruder, status dirinya sebagai guru SD belum dicoret. Sehingga, ketika Wahono keluar dari pendidikan bruder, ia masih bisa melanjutkan mengajar SD. “Saya lalu melanjutkan hubungan dengan perempuan itu,” tuturnya.

Hubungan keduanya berakhir di pelaminan setelah Ponijah mau mengikuti agama yang dianut Wahono. “Dulu, jadi guru SD itu masih sulit cari istri. Tidak sembarang perempuan mau dengan guru,” ucap Wahono yang menikahi Ponijah secara Katolik pada l966. “Jadi, saya ngepek bojo (memperistri) pemain ketoprak,” jelasnya.

Pasangan yang baru menikah ini kemudian mencoba berkomitmen, apakah selanjutnya istrinya akan tetap berketoprak atau tidak. Sebelum mengambil sikap, Wahono sempat berkonsultasi pada pastor parokinya. “Romo bilang lanjutkan saja, asal istri selalu saya kawal,” katanya.

Saat menikahi Ponijah, Wahono belum terjun ke dunia ketoprak. Namun, karena sering menunggui istri berlatih dan main ketoprak, akhirnya ia tertarik ketika ditawari ikut serta berlatih ketoprak. “Dapukan (peran) saya kalau berketoprak sebagai tokoh bijaksana yang memberi wejangan,” terangnya.

Sekali waktu, Wahono diminta memerankan tokoh Sunan Kudus dalam lakon Arya Penangsang. Padahal, ia tidak hafal dan kurang bisa menghayati tokoh Islam tersebut. Karena itu, yang bisa ia sampaikan hanya memberi wejangan sesuai ajaran Katolik. Namun, usai pentas justru teman-teman mainnya menganggap baik apa yang disampaikan tadi. “Malah dianggap sebagai hal baru dalam berketoprak,” katanya.

Ia merasa, hal yang paling tidak mengenakkan saat berketoprak, yaitu ketika harus manggung di saat situasi rumah tangga sedang kacau. Karena di atas panggung, pemain harus mampu menunjukkan sikap sabar dan penuh kedamaian. Pernah salah seorang anaknya di rumah sedang stuip, panas badannya meningkat luar biasa. Tapi, saat itu ia harus berangkat ngetoprak untuk menghibur penonton. “Dalam kondisi seperti itu, saya harus bisa tertawa di panggung, meski hati ini rasanya hancur,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengisahkan, “Saya di rumah sedang breng dengan istri saya. Padahal, hari itu harus main bersamaan di panggung. Itu sangat berat,” aku tokoh ketoprak seangkatan pemain primadona Marsidah dan Widayat ini.

Ia juga melatih ketoprak di sejumlah lokasi transmigrasi yang ditinggali orang Jawa, antara lain Lampung. Namun kini, diakuinya, nasib ketoprak mulai terpinggirkan. Beruntung, belakangan pemerintah Kota Yogyakarta tampak mulai menggalakkan kembali kesenian ketoprak. Pemainnya, termasuk para pejabat pemerintah itu sendiri. Bahkan, sejumlah gereja di Kevikepan DIY, saat memperingati ultah parokinya terkadang menggelar kesenian ketoprak. Pemainnya, selain pengurus paroki juga para pastor dan suster.

Menggerakkan biarawan-wati
Wahono-lah yang pertama kali menggerakkan biarawan dan biarawati untuk main ketoprak, bersama sutradara ketoprak Bondan Nusantara. “Pertama kali pastor, suster, ikut main ketoprak, ketika pentas di Paroki Pugeran, sekitar l5 tahun lalu. Di Gereja Pugeran, ultah paroki ke-60, 65, dan 70 menggelar tontonan ketoprak,” katanya. Baru kemudian, pentas ketoprak melibatkan pastor dan suster, diikuti paroki lain seperti Gereja Ganjuran, Wonosari, Pakem, dan lainnya. “Pernah terjadi, suster berkerudung dirias oleh perempuan Muslim berkerudung,” tuturnya.

Setelah tidak berketoprak lagi, kini Wahono menekuni dunia MC berbahasa Jawa. Mulanya memang hanya dipraktikkan di lingkungan desanya saat ada hajatan supitan (sunatan), manten, atau pemberangkatan kematian jenazah. “Dulu, guru di kampung kan dianggap sebagai orangtua kedua. Jadi, kalau ada hajatan supitan, saya diundang dan disuruh mejang (memberi wejangan). Apalagi, saya punya label guru yang ketoprak,” ucapnya.

Wahono menuturkan, yang “mempromosikan” dirinya sebagai MC adalah Almarhum Bagong Kussudiarjo, ketika seniman tari itu mantu anak pertamanya, Ida. “Saat itu saya dipaksa. Padahal, saya bukan MC yang bagus. Style saya sederhana, tapi justru gaya Yogya inilah yang saya ajarkan kepada para peserta kursus MC,” tuturnya.

Belakangan, Wahono mudah dijumpai di Rumah Budaya Tembi, Bantul. Ia ditugaskan menjaga museum. Tapi, ia tetap memberi kursus MC bahasa Jawa. Dan ia tetap menyelipkan petikan Injil dalam wejangannya …

Markus Ivan




Kunjungan: 924
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com