Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Posko Penanggulangan Pasca Bencana - Hidup Katolik

Posko Penanggulangan Pasca Bencana

Rabu, 25 Juli 2012 10:55 WIB
Posko Penanggulangan Pasca Bencana
[HIDUP/Angela Rianti]
Umat Stasi St Laurentius Wasior sedang mengirimkan bantuan logistik kepada korban bencana.

HIDUPKATOLIK.com - Stasi Laurentius Wasior adalah stasi terjauh di antara tiga stasi Paroki St Agustinus, Manokwari, Papua. Untuk mencapai lokasi itu, sedikitnya diperlukan 17 jam perjalanan dengan kapal laut dari Manokwari.

Kalau mau menghemat waktu, cukup sejam dengan pesawat terbangkecil. Wasior adalah ibukota Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Wasior merupakan kota kecil di bibir pantai. Panjangnya hanya sekitar 20 km, dan lebar dari bibir pantai ke kaki gunung yang memanjang dari Sobiei sampai dengan Rado, kurang lebih dua km.

Kota inilah yang menjadi pusat pemberitaan nasional di awal Oktober kemarin. Banjir bandang telah meluluhlantakkan daerah itu. Jumlah nyawa yang melayang sekitar 160 orang, dan 150 orang dilaporkan hilang. Musibah itu terjadi Senin, 4/10.

Begitu mendengar kabar itu, Pastor Medardus Harsono Pr selaku Pastor Paroki St Agustinus Manokwari, bersama rekan-rekan imam di wilayah Manokwari, dan Dewan Paroki St Agustinus, langsung mengadakan rapat. Respons pertama mereka adalah menyampaikan rasa solidaritas dan upaya menghimpun bantuan lewat pengumuman di gereja, radio, dan surat kabar harian Cahaya Papua.

Selanjutnya, Pastor Harsono menelpon beberapa umat stasi St Laurentius, meminta agar mereka mau bertahan untuk tidak pergi mengungsi. Mereka diminta untuk merapatkan barisan, melakukan koordinasi untuk bantuan-bantuan yang akan datang, dan mendistribusikannya.

Jumlah mereka yang tersisa bisa dihitung dengan jari. Mereka adalah Bernardus Heri Setiawan, dr Yoce Kurniawan, Linus Mantiri, Priscilla Silibun, Yulianus Pasambu, Markus Yengmen Wambiran, Veronica Karubuy, dan Yulius Danari. Nyawa mereka selamat, walaupun rumah mereka dibanjiri pasir, batu, dan puing-puing lainnya. Dari seluruh umat Stasi Laurentius sebanyak 475 orang, sekitar 98 persen telah bereksodus ke Manokwari, Nabire dan Biak.

Sesuai permintaan pastor paroki, maka rapat dengan suara bulat menunjuk Bernardus Heri Setiawan, mantan ketua dewan stasi beberapa tahun lalu menjadi koordinator lapangan (korlap). Dari sini mulai disusun pembagian tugas dan rencana kerja, dan dua orang staf Karina (Caritas Indonesia - KWI), Vincentia Widyasari dan Dian Lestariningsih, ikut membantu. Bantuan juga datang dari frater dari Manokwari, Mudika yang diajak Pastor Paulus Jauhari Atmoko CM, dan aktivis Komunitas Peduli Papua.

Survei dulu
Dua orang yang selamat, Priscilla Silibun dan Yulianus Pasambu mendapatkan tugas untuk melakukan survei dan verifikasi data, dari Sobiei (sebelah utara Wasior) sampai Rado (sebelah selatan). Mereka mencatat daftar kebutuhan utama, dan kerusakan yang dialami di wilayah tersebut. Setiap nama kepala keluarga (KK) dicatat ketua kelompoknya. Catatan itu terbagi dua kategori, kategori korban langsung dan rumahnya rusak parah, dan korban tidak langsung yang tingkat kerusakan rumahnya tidak terlalu parah.

Bantuan logistik pun mulai dimasukkan dalam kotak-kotak, dipak. Mereka yang berada di posko bertugas membantu memilah dan mengepak bahan makanan, alat-alat kebersihan, pakaian, alat-alat tidur, perlengkapan masak, alat-alat pertukangan, obat-obatan standar. Setiap keluarga mendapat satu dus air mineral.

Setelah survei selesai, pada malam hari, tim relawan mulai membahas untuk tugas besoknya. Ditentukan siapa saja yang pergi untuk mendistribusikan bantuan, dan ke wilayah mana saja. Kerja ini bisa lancar berkat bantuan Bernardus Heri Setiawan yang memiliki dua truk. Termasuk juga menurunkan dan mengangkut bantuan yang baru datang dari pelabuhan ke gereja. Bernard, panggilan akrabnya, juga merangkap sebagai supir truk.

Bantuan terus berdatangan. Mula-mula, stasi mendapat kiriman 400 nasi bungkus dari wilayah Transmigrasi, kampung yang bertetangga dengan stasi Laurentius. Kemudian Paroki Nabire mengirimkan 2,7 ton bantuan berupa bahan makanan dan pakaian. Barang-barang ini dibawa langsung oleh Bruder Norbertus Mujiyono SJ dengan perahu kecil, menempuh enam jam perjalanan.

Bantuan berikut datang dari sebuah perusahaan swasta. Bantuan seberat 40 ton ini dibawa Mudika Paroki Katedral Sorong dengan menyewa kapal kayu. Belasan Mudika ini bergabung di pastoran, dan selama beberapa hari ikut mendistribusikan ke wilayah selatan sampai ke Rado. Karina sejak awal berkoordinasi dengan Paroki St Agustinus di Manokwari. Dan pengungsi terbesar memang berada di Manokwari. Berdasarkan data lapangan dari Wasior, Karina mencatat kebutuhan barang yang akan dibeli. Barang-barang ini kemudian dibeli di Manokwari.

Setelah mendapat laporan bahwa ada sebagian warga yang mengungsi ke pulau yang letaknya satu jam perjalanan dengan perahu, maka disewa dua buah perahu kecil. Satu perahu digunakan Pastor Jauhari beserta dua orang Mudika untuk ke Dusner dan Sandei. Dan satu lagi digunakan Priscilla Silibun untuk membawa bantuan menuju Ambumi.

Tidak terdata
Tidak semua korban bisa didata melalui survei, karena ada saja orang yang datang langsung ke Posko St Laurentius meminta bantuan. Sebab pada saat tim melakukan survei ke lapangan, mereka memang tidak berada di pos-pos pengungsian yang disediakan. Jika tidak ikut mengantarkan bantuan, Pastor Harsono selalu siap menerima tamu. Salah seorang tamu adalah Kapolres Teluk Wondama, Agustinus Supriyanto S.IK, yang datang untuk melihat dan berbincang-bincang.

Ada juga warga masyarakat yang melaporkan bahwa mereka mengungsi di pulau-pulau yang tidak jauh dari Wasior, seperti Dusner, Sandei dan Ambumi. Ketika datang ke posko, mereka diminta menuliskan nama-nama kepala keluarga yang mengungsi di situ. Tujuannya, agar tim bisa tahu jumlah bantuan yang akan dikirim.

Tapi dalam keadaan demikian, ada hal yang sebelumnya memang tidak terpikirkan dalam rencana distribusi. Misalnya ada 30 KK warga yang tinggal di Dusner. Mereka mendapat bantuan. Warga Sandei memprotes karena tidak mendapat bantuan. Alasan mereka, meskipun mereka bukan korban langsung bencana, tetapi mereka ikut terkena dampaknya. Mereka tidak bisa lagi melakukan aktivitas sebagai nelayan pencari ikan dan menjualnya di pasar Wasior.

Menanggapi hal ini Pastor Jauhari CM, yang mengantarkan bantuan ke Dusner menyerahkan pada penduduk untuk mengatasi hal itu. Ia mengatakan, ”Bisa saja mereka berinisiatif membagi bantuan yang sudah kita diberikan, terhadap penduduk yang sudah menampung mereka.”

Hampir seluruh warga stasi menolak makan ikan dalam beberapa bulan. Mereka khawatir karena sebagian korban pasti ada yang terhanyut ke Teluk Wondama. Di antara para korban itu, bukan tidak mungkin terdapat sanak kerabat mereka. Kesedihan mereka diungkapkan dengan tidak mau memakan ikan dalam beberapa bulan.

Tepat sasaran
Wilayah yang terkena bencana, biasanya akan dipenuhi bantuan dari berbagai pihak. Dan bantuan-bantuan ini dialokasikan pada beberapa posko, yang dikelola LSM, lembaga pemerintah, Gereja, dan sebagainya.

Setelah belasan hari kerja, Gereja Katolik mendapat pujian dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Daerah setempat. Mungkin pujian ini datang karena melihat proses kerja pihak Gereja, dan bagaimana mengatasi situasi di lapangan. Pernah ada orang yang datang ke Posko Stasi St Laurentius. Orang ini marah besar karena merasa dilangkahi. Ia mengaku dirinya adalah ketua distrik, jadi kalau mau mengirim bantuan harus melalui dia.

Menghadapi hal demikian, Pastor Harsono menjawab, ”Bapak, kami yang berada di posko ini akan pulang ke tempat masing-masing tanpa membawa apa pun kecuali barang pribadi milik kami. Dan seluruh bantuan ini akan dibagikan kepada mereka yang berhak, sehingga tepat sasaran.”

Meski ada kasus demikian, secara umum pendistribusian berjalan dengan baik, karena umat stasi adalah umat yang sudah mandiri. Sebagian dari mereka adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dan, meskipun mayoritas adalah pendatang, mereka bukan orang yang baru datang ke bumi Cendrawasih. Mereka siap melayani tamu yang ingin membantu dengan satu tekad: membangun Wasior kembali …

Sylvia Marsidi,
laporan Angela Rianti





Kunjungan: 524
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com