Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Tenun Boro: Jejak Karya Para Misionaris - Hidup Katolik

Tenun Boro: Jejak Karya Para Misionaris

Minggu, 14 Maret 2010 09:52 WIB
Tenun Boro: Jejak Karya Para Misionaris
[HIDUP/Anton Sumarjana]
ATBM dan para pekerja laki-laki meramaikan desa Boro yang sepi.

HIDUPKATOLIK.com - ‘Alon-alon waton kelakon’ (biar lambat, yang penting terpenuhi). Pepatah Jawa ini sepertinya pas untuk menggambarkan kondisi pertenunan St Maria Boro, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertenunan yang mulai dirintis sejak 1938 oleh bruder-bruder Santa Perawan Maria yang dikandung Nirmala dari Maastricht (FIC) ini, mampu memproduksi kain tenun berkualitas tinggi, tetapi belum bisa memenuhi pesanan secara cepat dan dalam jumlah besar. Itu karena proses produksi masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), bukan mesin tenun yang canggih seperti pabrik-pabrik tekstil modern di Majalaya, Bandung dan tempat-tempat lain.

Pemimpin Pertenunan St Maria Boro, Kalibawang, Kulonprogo, Bruder Petrus Sutimin FIC menyadari kondisi lembaga yang mempekerjakan 63 karyawan ini. Produksinya terbatas. Harga produknya pun lebih tinggi dibanding produk tekstil pada umumnya.

Harga jual yang tinggi disebabkan biaya produksi dan bahan baku yang juga tinggi. Bahan bakunya benang katun murni. Proses produksi secara manual membuat biaya produksi juga tinggi.

“Kami mengambil untung kecil saja. Dengan untung kecil ini harga jual sudah tinggi. Maunya kami pasang harga rendah supaya laris dan produksi jalan terus. Tapi kalau harga dibuat murah, dua bulan tutup,” terang Br Petrus.

Meski demikian pria kelahiran Sleman, 28 Mei 1962 ini menjamin, produk tenun Boro berupa kain (bahan pakaian/seragam, pel, selimut, handuk, serbet, dan waslap) mampu bertahan tiga-empat tahun. “Halus dan wantek!” tegasnya.

Katun 100%
Menurut Br Petrus, masyarakat sekitar benar-benar membutuhkan pertenunan St Maria Boro yang “alon-alon waton kelakon”, tapi ‘halus dan wantek’ itu. Mereka bekerja dan memperoleh penghasilan tetap per bulannya. Memenuhi harapan ini, Br Petrus mencoba mengembangkannya agar produktivitasnya meningkat, mampu memenuhi permintaan pelanggan dalam waktu yang lebih cepat. Dengan demikian kesejahteraan pekerja juga meningkat. Saat ini pertenunan baru sedikit membantu kehidupan mereka.

“Yang penting mereka mempunyai pekerjaan. Memang di sini gaji kecil, tapi tiap bulan ada penghasilan. Mereka mempunyai tanah dan pekarangan. Mau nyayur tinggal petik. Tapi problem muncul kalau mau menyekolahkan anak,” jelas Br Petrus.

Pekerja yang berjumlah 63 orang berasal dari Boro dan sekitarnya. Mereka berangkat ke tempat kerja dengan naik sepeda, sepeda motor atau jalan kaki. Pukul 07.00, kegiatan di pertenunan mulai hidup.

Tiga puluh unit ATBM yang terpisah di ruang-ruang produksi dihentakkan pekerja secara bersama-sama membuat suasana ramai. Suara teropong yang melesat kencang dari sisi kiri ke kanan (bolak-balik), berirama dengan suara injakan kaki pekerja, di pijakan untuk menaikkan karoh, lalu bertimpalan dengan hentakan sabetan untuk menggerakkan skoci. Semua itu menciptakan bunyi-bunyian ritmis yang menggairahkan hari.

Sungguh menarik menyaksikan para penenun menggerakkan alat tenun yang terbuat dari kayu. Terbersit kekaguman pada mereka, karena butuh tenaga kuat, keterampilan penuh dan konsentrasi tinggi untuk mengoperasikan ATBM. Itulah sebabnya, semua pekerja di bagian ini adalah laki-laki. Sebelum benang katun ditenun, tentu ada tahap-tahap yang perlu dilewati. Subakir, seorang pekerja menjelaskan, benang katun (dibeli di Medari, Solo, dan Bandung) diambil dari gudang untuk diwarnai sesuai motif yang mau dibuat. Pewarnaan benang dilakukan di dapur khusus dengan cara direbus di sebuah dandang berbahan bakar kayu. Di bagian ini tampak para pekerja berotot bertelanjang dada dengan keringat menetes. Setelah diwarnai, benang dikanji supaya kuat, lalu dijemur.

Tibalah para pekerja perempuan berperan. Mereka menggulung benang yang sudah kering itu ke gulungan kecil-kecil (klos). Ada juga yang bertugas menggulung benang yang lebih halus ke gulungan kecil-kecil untuk pakan atau isi teropong (malet). Sementara itu, Subakir membuat skeren (rancangan ragam kain yang mau ditenun). Selanjutnya benang siap ditenun dengan cara yang rumit. Semakin bervariasi ragam/motifnya, semakin rumit dan jlimet pengerjaannya.

Pukul 14.30 WIB, bel berbunyi. Para pekerja yang beberapa menit sebelumnya sudah menghentikan kegiatannya, mulai menghambur ke tempat parkir atau halaman depan pertenunan. Mereka tinggalkan semua ATBM yang tak lagi bersuara. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk sampai di rumah masing-masing.

Diurus baik
Pertenunan St Maria Boro, meski berada di sebuah desa yang sepi, mampu bertahan puluhan tahun. Selama itu pula, perusahaan ini memberikan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya. Ke depan, apakah pertenunan ini mampu bertahan, di tengah serbuan tekstil murah dari Cina?

Br Petrus sudah mencemaskan hal ini. Jangankan perusahaan tekstil yang masih menggunakan ATBM, yang bermesin modernpun kebat-kebit.

Bagi Br Petrus, perusahaan akan maju jika manajemen, akuntansi dan pemasarannya diurus dengan baik. Untuk itulah dia mempersiapkan program ke depan, baik jangka panjang maupun jangka pendek dalam tiga hal ini.

Dalam bidang manajemen, Br Petrus telah merancang Draf Perjanjian Kerja Bersama, yang akan menjadi pedoman bertindak bagi karyawan dan manajemen. Draf itu sedang dicermati Dewan Pengurus Kongregasi. Diharapkan tahun ini bisa disosialisasikan kepada para pekerja.

Di bidang akuntansi, Br Petrus sedang mencari orang dari dalam kongregasi yang mempunyai kompetensi di bidang ini. Untuk mempekerjakan akuntan yang profesional, ia mengaku belum kuat membayar sesuai standar gaji akuntan yang profesional. Tetapi di bidang pemasaran, kongregasi sudah menugaskan Br Ignatius Rudi Irawan Kambey FIC sejak beberapa bulan lalu. Pria kelahiran Jakarta, 20 Mei 1976 ini telah berpengalaman sebagai tenaga marketing di sebuah perusahaan di Bandung sebelum masuk biara.

Langkah jangka pendek yang telah dibuatnya antara lain memasang spanduk di tempat-tempat yang banyak didatangi umat Katolik. Misalnya Sendangsono, gua Maria Kerep Ambarawa, makam Romo Sanjoyo di Muntilan, dan paroki-paroki KAS. Spanduk ini memuat pertenunan St Maria Boro dengan ragam produknya.

Sejak Oktober 2009, telah dibuka show room yang memajang berbagai produk pertenunan Boro. Show Room ini terletak di sebuah ruangan dalam lingkungan pertenunan. Menurut Br Petrus, banyak orang yang berkunjung untuk membeli, terutama serbet piring, handuk, kain pel, dan kain sarung.

Dijual juga kerajinan tas, tempat Madah Bakti dan rupa-rupa souvenir produk pertenunan yang disajikan dalam keranjang seperti bingkisan buah. Pembeli biasanya para perantau yang tengah berlibur di kampungnya, atau masyarakat lain yang datang orang per orang.

Pada bulan ziarah seperti Oktober dan libur Natal, kemarin jumlah pembelian mencapai Rp 15 juta, sebulan. Br Petrus berharap, para pencinta ziarah yang berziarah ke Sendangsono sudi mampir ke show room ini. “Di sini ada lembaga Gereja yang mampu membuat kain berkualitas,” katanya berpromosi.

Pengembangan Pasar
Program jangka panjang untuk pengembangan pasar, Br Petrus merencanakan membuka show room di berbagai kota, seperti Semarang, Solo, Yogyakarta dan Jakarta. Ia berencana membeli atau menyewa ruko untuk show room itu. Bahkan ia akan sangat gembira, jika ada pihak lain, baik orang per orang atau lembaga, yang mau bekerjasama memasarkan produk pertenunan Boro ini. “Produk silakan ambil dari sini, nanti bisa diatur pembagian hasilnya,” jelasnya.

Program pengembangan pertenunan ini sudah ia sampaikan ke kongregasi. Kongregasi yang menugaskannya mengelola pertenunan warisan bruder-bruder misionaris telah mendukungnya, termasuk jika ia bermaksud menambah investasi. “Tetapi kami dituntut mandiri. Kalau mau investasi, kongregasi mendukung asal jelas investasinya,” ungkapnya.

Belum lama ini, Br Petrus mendapat bantuan dua mesin tenun dari seorang pengusaha tekstil di Bandung. Dua mesin ini tengah diujicoba. Jika berhasil ia akan membeli mesin baru, terutama untuk mesin printing yang bisa menghasilkan produk dengan motif yang lebih variatif. “Selama ini kan lurik dan kotak-kotak saja,” katanya sambil tersenyum.

Keikutsertaan awam atau pihak lain dalam investasi masih dihindari. Ia kuatir, penyertaan modal itu akan mengikis visi-misi pertenunan yang telah digariskan para pendahulunya. “Saya tidak membuat visi baru, tapi melanjutkan visi lama, yaitu, mengembangkan masyarakat lingkungan sekitar sebagai umat kristiani dan mengenalkan ajaran Kristus melalui pertenunan ini.”

Perusahaan ini mempunyai misi mengembangkan potensi yang ada dan memberi pekerjaan kepada masyarakat sekitar untuk bersama-sama mengembangkan pertenunan. “Syukur menghasilkan keuntungan. Kalau tidak, kita bersama-sama mengembangkan karya Gereja, di tempat ini.”

Saat ini, secara finansial karya ini belum menguntungkan (kongregasi). Namun, Kongregsi FIC, menurut Br Petrus, melihat ke depan karya pertenunan ini menjadi investasi yang akan membiayai karya kongregasi lainnya. Jadi karya mereka tidak hanya dalam bidang pendidikan tetapi juga bidang pertenunan. “Kami harus mengubah paradigma, dari paradigma sosial menjadi profit!” tegasnya.

Nah, yang berkenan mendukung karya bruder FIC ini, silahkan mengunjungi show room pertenunan St Maria Boro. Usai berbelanja kain yang ‘halus dan wantek’, Anda bisa menelusuri jejak karya para misionaris di Boro yang tetap dipertahankan hingga saat ini.

Anton Sumarjana




Kunjungan: 769
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com