Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Ignasius Jonan: Kereta Api Jadikan Saya Lebih Baik - Hidup Katolik

Ignasius Jonan: Kereta Api Jadikan Saya Lebih Baik

Rabu, 1 Agustus 2012 10:42 WIB
Ignasius Jonan: Kereta Api Jadikan Saya Lebih Baik
[pudjilestasri.wordpress.com]
Ignasius Jonan

HIDUPKATOLIK.com - ”Tiga tahun pekerjaan saya di Kereta Api menjadikan saya manusia yang lebih baik untuk orang lain. Saya melihat beraneka rupa kehidupan di kereta api, yang membuat rasa syukur pada Tuhan begitu besar,” ungkap Ignasius Jonan.

Sejak Februari 2009, Ignasius Jonan mengemban tugas sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Awalnya Jonan menolak tugas tersebut. ”Ketika mendapat tugas itu, saya merasa itu di luar kemampuan saya. Bidang transportasi bukan keahlian saya, apalagi kereta api. Tapi setelah dibujuk sana sini saya tidak bisa menolak dan berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugas ini,” ujarnya.

Jonan mengawali langkahnya dengan membenahi pelayanan dasar yang ada di PT KAI. Ia mengubah orientasi perusahaan, dari orientasi produk ke orientasi pelanggan. Ia berusaha mengubah bagaimana organisasi ini dapat memenuhi keinginan para pelanggannya.

”Sebelumnya ada ungkapan tak acuh, perubahan itu tidak diperlukan, toh orang tetap naik kereta. Terserah mau naik kereta api silakan, tidak ya tinggalkan. Sekarang, mentalitas semacam ini sudah tidak bisa dipakai lagi. Kita coba melakukan semaksimal yang kita bisa. Pelayanan kereta api limitnya langit,” ujar ayah dua orang putri ini.

Perbaikan demi perbaikan

Jonan adalah sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, Jusuf Jonan, seorang pengusaha asal Surabaya yang mengawali harinya dengan mengikuti Misa harian. Ibunya, putri seorang pejabat tinggi Singapura. Jonan melewati masa kecilnya hingga usia 10 tahun di Singapura. Kemudian ia pindah ke Surabaya hingga menyelesaikan studinya di Universitas Airlangga.

Selepas itu, Jonan melanjutkan sekolah di Amerika. Finance dan International Law adalah bidang yang digelutinya. Posisi direktur beberapa perusahaan dijabatnya hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Direktur Utama PT KAI.

Sejak bersekolah di Amerika, Jonan memiliki keyakinan, jika seseorang mau mengubah sesuatu, ia harus yakin bisa melakukannya. Keyakinan itu terus dipegangnya hingga sekarang. Jonan perlahan-lahan membenahi permasalahan yang muncul dalam organisasi yang dipimpinnya. Berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar, ia coba atasi.

Bersama jajarannya, Jonan berusaha meyakinkan parlemen, pemerintah, dan para stakeholder untuk mengembalikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi, khususnya di pulau padat penduduk seperti Jawa dan Sumatra. Selain itu, Jonan juga berjuang untuk meyakinkan masyarakat untuk menggunakan sarana kereta api sebagai transportasi yang terjangkau. Menurut laki-laki kelahiran Singapura, 21 Juni 1963 ini, persepsi masyarakat mengenai kereta api pun perlu diperbaiki.

Alumni SMA St Louis Surabaya ini melakukan berbagai terobosan dan perbaikan dalam PT KAI. Peningkatan kesejahteraan karyawan menjadi salah satu perhatiannya. ”Saya tidak mau menjadi orang yang egois. Saya ingin menyejahterakan pegawai agar hati dan sikap mereka berubah. Dan, semangat pelayanan juga berubah karena terperhatikan. Perbaikan kompensasi perlu, sehingga orang ’terjerat’ untuk terlibat dalam memperbaiki pelayanan,” ungkapnya.

Selain itu, dari segi keamanan perjalanan, Jonan mengerahkan para petugas keamanan dalam setiap perjalanan kereta api. Jaminan keamanan dan kenyamanan penumpang selama perjalanan dengan kereta api adalah prioritas tinggi.

Upaya perbaikan yang lain adalah memperbanyak jalur kereta dan menambah jumlah kereta. Misalnya untuk Jabodetabek: kereta pagi dan sore hanya berselang 10 menit sehingga penumpang tak terlalu lama menunggu. Perawatan rel dan sinyal dibenahi. Permasalahan penumpang yang naik di atap kereta coba diatasi. Kebersihan stasiun dan kereta api pun tak luput dari perhatian Jonan.

Dalam kepemimpinan Jonan di PT KAI, sistem piket pun diberlakukan bagi semua karyawan, termasuk dirinya dan para direktur PT KAI. Sebulan sekali Jonan semalaman ’berjaga’ di stasiun kecil di luar Bandung. Bulan April lalu, ia piket di stasiun Tanjungkarang, Lampung. Pada Mei, ia terlihat piket di stasiun Madiun, Jawa Timur.

Jonan memaparkan bahwa gebrakan-gebrakan yang dilakukannya bermuara pada peningkatan pelayanan kepada para pelanggan atau penumpang kereta api. Diharapkan pelanggan atau penumpang senang dan di lain kesempatan akan memilih kereta api sebagai alat transportasi.

Hal ini tentu mendatangkan keuntungan bagi kereta api. Gebrakan yang dilakukan Jonan membuahkan hasil. Terbukti, sejak 2000 sampai 2002, total pendapatan PT KAI mencapai Rp 5,73 triliun. Pada 2011, dalam setahun angka Rp 6,3 triliun dapat ditembus.

Sumber keberanian

Dalam setahun, penumpang kereta api mencapai 200 juta jiwa. Untuk Jawa dan Sumatra, setiap harinya tercatat 1386 perjalanan kereta api. Berbagai keluhan penumpang menjadi hal yang ’biasa’ didengar telinga Jonan setiap hari. Bahkan kritik, demo, caci-maki dari penumpang dan pihak-pihak lain tak jarang harus dihadapinya.

Jonan menghadapi situasi yang tidak mudah itu. Ketika ditanya ”Dari mana keberanian itu muncul, bukankah Anda berasal dari keluarga yang serba aman dan nyaman?”, ia mengeluarkan Rosario dan medali dengan gambar suci dari kantong bajunya. ”Saya selalu membawa ini. Saya kalau berdoa itu: Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Tapi, ya praktiknya susah. Saya sebagai manusia tidak bisa pasrah 100 persen,” tuturnya.

Jonan mengaku lebih dari sepuluh tahun selalu membawa Rosario dan medali pemberian ayahnya, kemanapun ia pergi. Ketika sedang melakukan perjalanan dengan kereta api, ia selalu menyediakan waktu untuk menggulirkan doa dengan biji-biji Rosarionya.

Ketika ditanya mengapa ’berani’ melakukan perubahan dan gebrakan yang (mungkin) menuai banyak kritikan, Jonan berkata, ”Kalau dikatakan berani, sesungguhnya tidak. Tapi, ya karena saya tidak punya interest pribadi. Saya taat pada aturan yang sudah ada,” demikian Jonan, yang juga membawa lembaran doa Novena Tiga Kali Salam Maria dan doa-doa lain di tasnya.

Jonan menandaskan, ”Kalau saya tidak punya iman, saya mungkin tidak akan berani. Saya ini manusia kok, bukan robot. Kalau ditanya mengapa masih di sini (kereta api, Red), saya tidak tahu. Karena Gusti Allah, saya berada di kereta api. Saya percaya kalau yang Maha Kuasa menghendaki saya di sini, saya tetap di sini”.

”Oh ya, nanti kalau saya ditulis beri saja judul tulisannya: Seorang Pendosa yang Dipakai Tuhan,” katanya menutup pembicaraan.

Ignasius Jonan

TTL: Singapura, 21 Juni 1963

Pendidikan:
• Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya, 1986
• International Relations and Affairs, Fletcher School of Law and Diplomacy, Amerika Serikat, 2005
• Harvard Law School, Amerika Serikat & Columbia University

Karier:
• Direktur Utama PT (Persero) Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia, 2001-2006
• Direktur Citi Grup, 2006-2008
• Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, 2009-sekarang

Maria Pertiwi




Kunjungan: 18901
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com