Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Putraku Tidak Naik Kelas - Hidup Katolik

Putraku Tidak Naik Kelas

Rabu, 1 Agustus 2012 10:07 WIB
Putraku Tidak Naik Kelas
[inatanaya.wordpress.com]

HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh yang baik, saya ibu dari seorang remaja yang saat ini kelas VII. Sejak masuk ke SMP ia sangat bersemangat menikmati suasana sekolahnya bersama teman-temannya. Namun, untuk urusan pelajaran sekolah boleh dikata mengabaikan. Dua kali kami diundang sekolah membicarakan prestasi yang kurang memuaskan. Saya dan suami pernah membahas bersama dan saat itu ia berjanji akan memperbaiki prestasinya. Tetapi apa daya, saat ini ia tidak naik kelas. Terus terang kami sangat kecewa dan marah. Apa yang harus kami lakukan kepadanya?

Reni, Semarang

Ibu Reni yang terkasih, bagaimana kabar saat ini? Kami memahami mungkin suasana hati Ibu sedang kurang nyaman dengan persoalan yang terjadi. Tentu saja rasa marah, kecewa, sedih campur aduk menjadi satu. Segala jerih payah yang sudah dilakukan nampak sia-sia. Setahun berlalu begitu saja, seakan pupus dalam satu malam.

Masalah sekolah memang bukanlah masalah ringan, terlebih jika putra kita tidak naik kelas. Siapa yang hendak disalahkan? Tentu saja semua memegang peran, terutama kita sebagai orangtua. Bagaimanapun anak adalah tanggung jawab kita. Namun, bukan berarti bahwa kita harus menyalahkan diri sendiri terus menerus. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menangkap makna dari persoalan ini. Menyalahkan diri atau putra kita hanyalah membuang energi yang tidak perlu, dan justru akan memperparah keadaan. Akan lebih baik, jika kita mencoba bersikap tenang meski saya yakin sangat sulit.

Mari kita mencoba sejenak merenung sebelum kita timpakan segala salah kepada putra kita. Sejauh mana kita sudah mencoba melibatkan diri dalam setiap saat perkembangan putra kita, baik dari sisi perkembangan sosial dan sekolahnya? Apakah kita sudah mencoba terlibat dalam arti memang sungguh-sungguh mencoba memahami dunianya yang merdeka khas remaja, atau kita sebatas menjadi penonton yang mencoba melibatkan diri dengan berbagai komentar kita yang mungkin membuatnya tidak nyaman. Mari kita coba pisahkan dua hal ini.

Sudahkah kita memahami betul siapa putra kita, kemampuannya, talentanya, kelebihan dan kekuatannya, kecemasannya. Sudahkah kita mencoba menjadi teman di saat bahagia atau di saat kesedihan yang dialaminya. Atau, justru kita tetap menjadi penonton yang mencoba menjadi temannya, namun ragu untuk menceburkan diri dalam dunianya.

Di saat ia bahagia, di mana kita? Demikian juga, di saat ia sedih, gagal, di mana kita? Apakah kita selama ini lebih banyak menudingkan jari telunjuk ke arahnya, dan bukan ke arah kita sendiri. Apakah selama ini kita hanya menuntut dan menuntut demi kepuasan kita, demi ego kita, demi kewibawaan dan martabat kita. Kadang kita lebih senang, jika ia berhasil. Karena, dengan demikian kita dapat menepuk dada sebagai orangtua yang berhasil, namun akan mengertakkan gigi saat ia gagal karena berarti kita juga gagal sebagai orangtua.

Adilkah kita dengan menuntut banyak hal yang mungkin tidak dapat ditanggungnya, sementara ia tidak dapat berkelit, dan harus patuh karena ia hanyalah seorang anak? Mungkin, jika diberi kesempatan untuk berteriak, ia akan meneriakkan kesedihan dan kesendiriannya di saat menemui kegagalan ini.

Alangkah lebih baik, kita tutup buku kemarahan dan kesedihan, bersama-sama merangkulnya untuk menunjukkan bahwa di saat kegagalannya, ia tetap putra terkasih kita. Di saat seperti ini, itulah yang dibutuhkannya. Karena, pasti kegagalannya memberikan beban kesedihan yang luar biasa. Ia akan belajar bahwa ini adalah proses belajar yang sangat mahal, belajar bertanggung jawab dan menerima konsekuensi hidup. Penerimaan kita sebagai orangtua akan menunjukkan bahwa ia disayang dan diterima. Lalu, bersama-sama mendiskusikan rencana ke depan, bagaimana mengelola waktu dan relasi sosial, dan menambah jam belajar.

Paling akhir, semua ini tentu saja berpulang kepada kita sebagai orangtua. Kedewasaan, kematangan diri, kasih sayang kita diuji untuk dapat menerima putra kita dalam suka duka, mempererat tali kasih untuk bersama-sama menjalani tanggung jawab bersama. Selamat mencoba.

Th. Dewi Setyorini MSi




Kunjungan: 1017
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com