Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Sengsara Yesus dalam Dua Film Kontroversial - Hidup Katolik

Sengsara Yesus dalam Dua Film Kontroversial

Minggu, 21 Maret 2010 14:12 WIB
Sengsara Yesus dalam Dua Film Kontroversial
[www.spiritlessons.com]
Adegan penyiksaan Yesus dalam The Passion of Christ.

HIDUPKATOLIK.com - Kisah kehidupan Yesus sering menjadi inspirasi sineas-sineas dunia ternama. Mereka mencoba memotret Yesus lewat sebuah film sesuai pemahaman pribadi masing-masing. Kadang pemahaman itu bisa sangat ekstrem dan mengejutkan banyak orang.

Tengoklah The Last Temptation of Christ karya Martin Scorcese atau The Passion of Christ karya Mel Gibson. Kedua film ini mempertontonkan sisi lain dari pribadi Yesus Kristus dan menampilkannya dengan cara berbeda. Hasilnya? Seluruh umat Kristiani di bumi ini gempar. Umat Yahudi pun tersinggung karenanya.

Film The Last Temptation of Christ dibuat berdasarkan novel terbitan tahun 70-an berjudul “The Last Temptation” karangan Nikos Kazantzakis. Novel ini diadaptasi menjadi skenario film oleh Paul Schreder. Tayangan perdana dilaksanakan pada 12 Agustus 1988. Aktor Hollywood Willem Dafoe didapuk menjadi pemeran utamanya.

Dalam film ini, Martin Scorcese mengungkapkan pergulatan Yesus dalam menemukan jatidiri-Nya sebagai manusia biasa atau sebagai Anak Allah. Pergulatan ini dialami Yesus di sepanjang hidup-Nya.

Dikisahkan Yesus lahir dan dibesarkan sebagai seorang tukang kayu pada waktu kekaisaran Roma menguasai Yudea. Di daerah itu, ada Faksi Nasionalis Yahudi yang berencana melakukan revolusi terhadap penguasa Roma. Salah satu anggotanya bernama Yudas Iskariot. Ia ditugasi membunuh Yesus yang dicurigai menentang usaha revolusi dan bergabung dengan pemerintah Roma.

Yesus memang pernah mengatakan, tugas-Nya ke dunia ini untuk menyebarkan cinta kasih sebagai kebijaksanaan tertinggi yang sangat dikehendaki Tuhan. Yudas menganggap Yesus sebagai Mesias. Ia memutuskan bergabung dengan Yesus dan menyertai tugas pelayanan-Nya, dengan catatan akan membunuh-Nya jika Yesus tidak mau memimpin dan ikut serta melakukan revolusi.

Selalu ragu
Yesus mempunyai hubungan pertemanan dengan Maria Magdalena. Maria pernah meminta Yesus tinggal dengannya. Namun, Yesus menolaknya. Yesus pernah menyelamatkan Maria dari amuk massa yang ingin melemparinya dengan batu. Ketika itu Yesus berkata, “Dia yang tidak pernah melakukan dosa, hendaknya menjadi yang pertama melemparkan batu pada wanita ini.”

Mendengar perkataan tersebut, massa yang mengamuk itu tidak jadi melemparinya. Mereka mulai pergi satu per satu.

Yesus masih meragukan tugas dan status-Nya sebagai Mesias, meskipun dua kejadian di atas sudah menunjukkan hal itu. Ia pun melakukan perjalanan menemui Yohanes Pembaptis. Pada malam hari setelah pembaptisan, keduanya berdiskusi tentang keyakinan teologi mereka masing-masing.

Yohanes percaya, harus muncul seorang tokoh yang mampu membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan Roma sebelum kabar gembira Tuhan diwartakan. Tetapi, Yesus percaya bahwa kasih lebih penting di atas segalanya. Diskusi tidak mencapai satu kesepakatan.

Yesus pun pergi ke padang gurun untuk mencari tahu apa yang dikehendaki Tuhan dari-Nya. Selama di padang gurun, Yesus dicobai tiga kali oleh setan. Yesus bertahan dari semua godaan tersebut. Di tempat itu, Ia memperoleh penglihatan diri-Nya sedang menebang pohon apel. Di belakangnya, murid-murid sedang menunggu-Nya. Dalam penglihatan itu, Yesus mengeluarkan hati-Nya sendiri dan berkata kepada murid-murid-Nya untuk mengikuti-Nya.

Penglihatan tersebut membuat Yesus semakin yakin akan status-Nya sebagai Mesias. Sekembalinya dari padang gurun, Ia membuat banyak mukjizat. Karya pelayanan-Nya membawa Yesus ke Yerusalem. Ketika sampai di Bait Allah dan mendapati tempat itu dipakai sebagai pasar, Yesus marah. Ia melemparkan barang-barang dagangan keluar Bait Allah. Bahkan, Yesus memimpin sekelompok kecil prajurit dan mencoba mengambil alih Bait Allah secara paksa.

Ketika tangan-Nya berdarah, Ia sadar bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar terbaik menghadapi hal ini. Ia harus tetap mengutamakan kasih di atas segalanya.

Pada malam harinya, Yesus bersama murid-murid-Nya mengadakan perjamuan terakhir. Setelah perjamuan, ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani, Yudas datang bersama para prajurit Roma untuk menangkap Yesus.

Yesus menikah
Yesus pun disalibkan di Golgota. Di tempat itu, Yesus bertemu seorang gadis muda yang tampil seperti malaikat. Gadis itu mengatakan, Ia bukanlah Anak Allah dan bukan Mesias. Namun, Tuhan mencintai-Nya dan berkenan kepada-Nya serta ingin membuat-Nya bahagia. Gadis itu melepaskan Yesus dari salib dan membawa-Nya pada Maria Magdalena.

Mereka berdua menikah dan mempunyai anak. Kehidupan mereka sangat harmonis sampai akhirnya Maria meninggal. Yesus yang sedang berduka kembali didatangi seorang gadis muda. Si gadis mengatakan bahwa semua perempuan yang ia jumpai adalah pengganti Maria Magdalena.

Yesus berjumpa Maria dan Martha. Ia memulai kehidupan baru bersama mereka dan hidup sebagai sebuah keluarga. Satu saat, ia berjumpa dengan Paulus yang sedang berkhotbah tentang Mesias. Ia mencoba meyakinkan Paulus bahwa Dialah orang yang sedang dikhotbahkan Paulus. Namun, Paulus menolaknya. Paulus merasa lebih baik pura-pura berkhotbah tentang Yesus yang mati kemudian bangkit.

Ketika Yesus sudah berusia lanjut, murid-murid-Nya datang pada-Nya. Yudas datang paling terakhir dan menganggap-Nya pengkhianat. Akhirnya, Yesus sadar, gadis muda yang membebaskannya dari salib bukanlah malaikat melainkan setan yang berusaha mengubah hidup-Nya sebagai manusia biasa.

Yesus semakin memahami, Ia harus mati disalib untuk membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Yesus yang sudah renta berjalan tertatih-tatih menyusuri reruntuhan Kota Yerusalem dan memohon kepada Tuhan agar membantu-Nya melakukan tugas perutusan-Nya.

Tiba-tiba, Yesus telah kembali disalib. Kejadian Yesus menikahi Maria Magdalena ternyata hanya fantasi yang terjadi saat Yesus berada di salib. Akhirnya, Yesus berteriak di atas kayu salib,”Sudah dilaksanakan, sudah dilaksanakan!” Ia pun meninggal.

Adegan bercinta
Film ini mengandung banyak hal yang tidak terdapat di dalam Kitab Suci. Sejak awal, sutradara membubuhkan keterangan: tayangan ini tidak berdasarkan Kitab Suci dan sepenuhnya bersifat fiksi. Kontroversi yang paling tajam muncul karena dalam film ini Yesus dikisahkan sempat menikah dengan Maria Magdalena.

Ada adegan percintaan Yesus dengan Maria Magdalena. Adegan inilah yang menyebabkan banyak umat Kristiani marah. Sebenarnya ide rasional film ini adalah mencoba menghadirkan godaan setan pada Yesus saat Ia berada di salib. Ia dibujuk menjalani hidup-Nya bukan sebagai Mesias tetapi sebagai manusia biasa, bebas dari penyaliban dan tugas penebusan umat manusia.

Protes sudah terjadi sebelum film ini selesai diproduksi. Pada 22 Oktober 1988, Kelompok Fundamentalis Kristiani Perancis melemparkan bom molotov ke dalam gedung Bioskop Saint Michael sebagai wujud protes terhadap penayangan film tersebut. Peristiwa ini menyebabkan 13 orang terluka dan empat orang mengalami luka bakar serius.

Tahun 1989, guru SMA Albuquerque, Joyce Briscoe memperlihatkan film tersebut kepada murid-muridnya. Hal ini menimbulkan reaksi keras di kalangan orangtua murid dan umat Kristen setempat. Di beberapa negara seperti Meksiko dan Chili, film ini dilarang ditayangkan selama beberapa tahun. Tak lama berselang, negara lain seperti Filipina, Singapura, dan Afrika Selatan melakukan hal serupa.

Di tengah derasnya arus penentangan, beberapa kritikus film, pemimpin religius, dan mahasiswa justru menunjukkan sikap positif. Kritikus film terkenal dari Amerika Serikat, Roger Ebert berpendapat, Martin Scorcese telah membawa gambaran Kristus yang lain.

Di sini, Scorcese mencoba melepaskan sisi yang sangat religius dari Yesus. Ia mencoba melihat Yesus sebagai seorang manusia yang terus-menerus mempertanyakan jatidiri-Nya, berjuang mengatasi godaan-godaan duniawi, dan tak pernah berhenti mohon petunjuk Bapa-Nya.

Puncak dari semua pergulatan itu terjadi ketika Yesus berteriak di kayu salib, “Sudah dilaksanakan, sudah dilaksanakan!”

Beberapa kritikus lain mengatakan, The Last Temptation of Christ adalah potret paling jujur dari pribadi Yesus Kristus yang pernah ditayangkan. Setelah beberapa tahun berlalu, film ini membuat pencerahan baru dalam kehidupan komunitas Kristiani dalam memahami dan mengimani Yesus Kristus.

Meski demikian, beberapa orang Kristen tetap mempertahankan keyakinannya tentang dampak negatif film tersebut. Seorang kritikus film konservatif berdarah Yahudi, Michael Medved mengatakan, film ini banyak menunjukkan ketidaktepatan pemahaman biblis. Salah satu hal pokok yang ia soroti adalah penggambaran diri Yudas Iskariot yang bertentangan dengan Kitab Suci. Yudas digambarkan sebagai sosok yang lebih dewasa dan berani dibanding Yesus.

Dari Injil
Film lainnya, The Passion of Christ, mengambil inspirasi dari kisah empat Injil Perjanjian Baru (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes) dan Kitab Wahyu. Selain itu, film yang disutradarai Mel Gibson ini juga mengambil beberapa sumber dari Perjanjian Lama. Skenario ditulis Benedict Fitzgerald dan Mel Gibson. Ditayangkan perdana di Indonesia pada 21 Juli 2004.

Yesus dalam film ini diperankan aktor Katolik James Patrick Caviezel. Adegan awal memperlihatkan Yesus berdoa di Taman Getsemani. Di situ, setan tak pernah henti menggoda-Nya. Murid-murid-Nya, Petrus, Yohanes, dan Yakobus terlelap tidur.

Di adegan lain, dikisahkan Yudas baru saja menerima 30 buah mata uang perak dari imam-imam kepala. Ia datang bersama para prajurit penjaga sinagoga menangkap Yesus.

Spontan Petrus memotong telinga salah satu prajurit bernama Malkus. Namun, Yesus mengembalikan telinga tersebut dan menyembuhkan luka di telinga Malkus. Prajurit-prajurit menangkap Yesus, sedangkan para murid melarikan diri.

Salah satu murid yang melarikan diri, yaitu Yohanes, pergi ke kediaman Maria dan Maria Magdalena. Sedangkan Petrus diam-diam mengikuti Yesus. Kayafas Imam Agung Israel menyelenggarakan sidang untuk mengadili Yesus. Ketika Yesus ditanya Kayafas, apakah diri-Nya benar-benar Anak Allah, Yesus menjawab, “Ya aku adalah Anak Allah.”

Kayafas marah dan merobek jubah Yesus. Kayafas menuntut hukuman mati atas diri-Nya karena Yesus telah melecehkan agama Yahudi dengan menyebut diri-Nya Anak Allah.

Saat sidang berlangsung, salah seorang prajurit mulai mengenali Petrus sebagai murid Yesus. Namun, Petrus menyangkalnya hingga tiga kali. Setelah melakukan hal ini, Petrus melarikan diri menjauh dari sinagoga tempat Yesus diadili.

Adegan lain, Yudas menyesali perbuatannya. Ia bermaksud mengembalikan uang yang telah diterimanya agar Yesus dibebaskan. Tetapi, imam-imam agung menolaknya. Akhirnya, Yudas pergi ke luar kota dan menggantung dirinya dengan tali yang ia dapat dari seekor keledai yang telah mati.

Kayafas membawa Yesus ke hadapan Ponsius Pilatus untuk dihukum mati. Namun, setelah menanyai Yesus, Pilatus mengirim-Nya ke pengadilan milik Herodes Antipas.Yesus berasal dari Nazaret tempat Herodes memerintah. Herodes tidak mau menerima kiriman ini dan mengembalikan Yesus ke tempat Pilatus. Menghadapi hal tersebut, Pilatus menawarkan kepada semua rakyat Yahudi, ia hanya akan menyiksa Yesus dan setelah itu baru dibebaskan.

Timbul kontroversi
Rakyat tetap menuntut Yesus dihukum mati. Kemudian, Pilatus yang bermaksud membebaskan Yesus memberi tawaran lain, membebaskan Yesus atau seorang penjahat besar bernama Barabas. Rakyat memintanya membebaskan Barabas dan menghukum mati Yesus.

Pilatus tetap ingin membebaskan Yesus. Dia menyiksa Yesus dan memberi mahkota duri. Setelah itu, menunjukkan-Nya kepada rakyat agar mereka tidak menuntut hukuman mati lagi. Namun, rakyat terus bersikeras meminta Yesus dihukum mati. Pilatus tidak punya pilihan lain selain menyalibkan Yesus.

Yesus harus membawa salib-Nya menuju Golgota. Di tengah perjalanan, Ia bertemu Veronica yang mengusap wajah-Nya. Karena Yesus berulangkali terjatuh kelelahan, para prajurit memaksa Simon dari Kirene memanggul salib Yesus. Sesampainya di Golgota, Yesus disalibkan.

Ketika disalib, Yesus memohon pengampunan atas mereka yang telah melakukan semua ini pada-Nya dan mengampuni seorang penjahat yang disalibkan bersama-Nya. Setelah Ia menyerahkan nyawa-Nya dan wafat, hujan mendadak turun, gempa bumi terjadi, dan tirai pelindung Bait Allah robek. Hal ini membuat Kayafas dan imam-imam Yahudi lain ketakutan.

Yesus diturunkan dari salib dan berada di pangkuan Maria, ibu-Nya. Maria memegang Yesus dengan sikap seperti yang terlukis dalam Pieta (patung yang menggambarkan Maria yang berduka melihat Yesus yang telah wafat di salib). Film ini diakhiri dengan kebangkitan Yesus yang keluar dari makam-Nya dengan bekas luka di tangan-Nya.

Mel Gibson dikenal sebagai orang Katolik yang sangat taat. Ini tercermin dari komentarnya terhadap film yang ia buat. “Film ini bercerita tentang cinta, harapan, iman, dan pengampunan. Yesus rela mengalami sengsara dan wafat demi kita.” Lebih lanjut dia berujar, “Lewat film ini, saya ingin mengajak semua orang kembali pada pesan dasar karya penyelamatan Allah. Saat ini, dunia makin menggila. Kita butuh cinta, harapan, iman, dan pengampunan untuk menghadapinya,” ujarnya.

The Passion of Christ menimbulkan kontroversi karena film ini dianggap berpotensi menyulut benih kebencian pada etnis Yahudi. Misalnya, perkataan Imam Agung Kayafas terkait perkataan “Darah-Nya ditumpahkan bagi kita dan anak-anak kita.” Perkataan ini dipahami beberapa kelompok Yahudi sebagai kutukan yang harus ditanggung orang Yahudi dan dapat memprovokasi orang membenci mereka.

Terkait hal ini, Gibson berkata, “Tidak ada maksud sedikit pun saya melakukan hal tersebut. Adegan ini sama sekali tidak mengarah pada orang Yahudi. Perkataan tersebut diarahkan bagi kita semua. Darah-Nya ditumpahkan bagi kita semua dan itulah yang Yesus inginkan.”

Selain itu, dirinya harus bisa bebas berekspresi menumpahkan sebuah kreativitas ke dalam sebuah film. “Dalam film ini, saya tidak mau seorang pun mendikte apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan,” tegasnya.

Figur simpatik
Dalam Surat Kabar The Nation, komentator film Katha Pollit mengatakan, “Gibson telah melanggar sejumlah kriteria yang ditetapkan Konferensi Para Uskup Amerika tahun 1988.” Kriteria ini mengatakan, dramatisasi kisah Yesus dalam sebuah pertunjukan seni maupun non seni tidak boleh mengikutsertakan unsur-unsur yang dapat memancing kebencian pada orang Yahudi.

Konferensi Para Uskup Amerika tidak mengizinkan penggambaran orang Yahudi yang seakan-akan haus darah, tidak memakai perkataan Kitab Suci yang menimbulkan stereotipe negatif pada orang Yahudi, dan lainnya.

Kolumnis Surat Kabar New Republic, Leon Wieseltier mengatakan, film ini jelas-jelas bersifat anti semit Yahudi.

Selain itu, The Passion of Christ dianggap terlalu menonjolkan brutalisme kisah penyiksaan Yesus. Film ini dipandang terlalu sadis sehingga tidak cocok menjadi tontonan remaja dan anak-anak.

Sementara Pastor William Fulco SJ dari Loyola Marymount University – penerjemah bahasa Aram The Passion of Christ – tidak setuju dengan pernyataan ini. Ia tidak sependapat jika film ini dianggap mendiskreditkan kaum Yahudi.

Kolumnis konservatif, Cal Thomas mendukung pendapat Pastor William Fulco. “Kepada seluruh orang Yahudi, yang cemas terhadap film ini karena dianggap bermuatan anti semit Yahudi atau mendorong orang membenci dan dendam pada Yahudi, saya sampaikan padamu, tidak usah takut,” tegasnya.

Menurutnya, film ini tidak akan membuat penontonnya berkesimpulan bahwa orang Yahudi yang pantas dipersalahkan dan membawa tanggung jawab utama atas sengsara dan wafat Yesus. Dua orang Yahudi Orthodox, Rabbi Daniel Lapin dan pengarang buku Michael Medved menolak klaim film ini bersifat anti semit. Mereka berpendapat, film ini memotret beberapa figur Yahudi yang cukup simpatik. Mereka adalah Simon dari Kirene, Maria Magdalena, Santa Perawan Maria, Santo Petrus, Santo Yohanes, Veronika, dan beberapa imam Yahudi yang memprotes putusan Imam Agung Kayafas untuk menangkap Yesus.

Martin Scorcese
Dilahirkan di New York, Amerika Serikat, dengan nama lengkap Martin Marcantonio Luciano Scorsese pada 17 November 1942. Ia adalah seorang sutradara, produser, aktor, dan penulis skenario kenamaan Amerika.

Ia mendirikan World Cinema Foundation dan menjabat sebagai Presiden Film Foundation, sebuah LSM yang berkarya di bidang pelestarian dan apresiasi film-film dunia.

Di masa mudanya, ia pernah berkeinginan menjadi pastor. Keinginan ini lantas terpendam ketika Scorcese mulai tertarik dengan dunia perfilman. Kesuksesannya berkarir ternyata tak menjamin kebahagiaan rumah tangganya. Ia bercerai hingga empat kali.

Istrinya yang pertama bernama Laraine Brennan. Ia menikah untuk terakhir kalinya pada tahun 1999 dengan Helen Morris.

Mel Gibson
Dilahirkan di Peekskill, New York, Amerika Serikat dengan nama lengkap Mel Colm-Cille Gerard Gibson pada 3 Januari 1956. Nama depannya, Mel diambil dari nama orang suci asal Irlandia pada abad ke-15, Santo Mel.

Gibson adalah aktor, sutradara, produser, dan penulis skenario film berdarah campuran Amerika-Australia. Ia mempelajari film untuk pertama kalinya di National Institute of Dramatic Art, Sydney, Australia.

Selama masa remaja, Gibson bersekolah di Sekolah Katolik St Leo, Wahroonga, New South Wales, Britania Raya. Di tempat ini, ia memperdalam iman Katoliknya lewat didikan Kongregasi Persaudaraan Kristiani. Sebelum menjadi sutradara, Gibson dikenal sebagai aktor.

RB Yoga Kuswandono




Kunjungan: 2033
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com