Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pacaran yang Sehat - Hidup Katolik

Pacaran yang Sehat

Jumat, 3 Agustus 2012 15:31 WIB
Pacaran yang Sehat
[christinthecity.wordpress.com]

HIDUPKATOLIK.com - Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman diminta mengisi sebuah rekoleksi di sebuah sekolah menengah umum di Surakarta. Rekoleksi tersebut bertemakan pendidikan seksualitas. Topik ini adalah sebuah topik yang pasti diminati semua orang, tidak terkecuali remaja. Tentu saja, masalah seksualitas bagi mereka adalah sebuah dunia imajinasi yang begitu menggoda dan menantang untuk didalami dan dieksplorasi.

Mereka penasaran dan ingin tahu untuk menyentuh bahkan jika mungkin memegangnya dengan erat. Karena begitu imajiner maka hal itu menimbulkan sebuah sensasi yang rasanya tak akan habis direguk kenikmatannya tanpa mempertimbangkan berbagai risiko yang kemungkinan akan muncul.

Bagi orangtua dan guru, ini menjadi sebuah kecemasan tersendiri sehingga berusaha untuk mengatasinya dengan berbagai cara. Dari memberi pengetahuan, mendiskusikan, hingga dengan ancaman dan batasan-batasan yang begitu kaku untuk diterapkan, apalagi sekadar dibahas. Namun, kesadaran bahwa topik ini penting untuk diangkat dan dibahas secara ilmiah, karena itu dilakukanlah seminar, diskusi, talkshow hingga rekoleksi bahkan retret bagi para remaja. Menariknya, bagi para remaja tersebut, pacaran adalah sebuah media yang sangat mengasyikkan untuk mengeksplorasi tentang seks. Bahkan, pacaran dipandang sebagai sebuah study club, yaitu belajar bersama dan bereksperimen bersama. Tentu saja ini sangat menakutkan bagi orangtua.

Begitu mencemaskannya hingga pada satu hari seorang teman bercerita betapa kagetnya ia ketika anak sulungnya, seorang cowok, meminta izin berpacaran. Spontan sang ibu menunjukkan kekagetan dan tentu saja penolakan dengan berbagai alasan. Kekhawatiran dan kecemasan lebih dominan dirasakan sehingga tidak mampu lagi berpikir tentang hal-hal lain. Bisa dibayangkan, bagaimana kejadian selanjutnya. Sang anak marah dan memutuskan pembicaraan serta merasa bahwa orangtuanya tidak memahami dunianya dan kaku dalam memandang keputusannya ini. Padahal, dari sudut pandang anak, pacaran akan memberikan motivasi dan gairah belajar dan semangat bersekolah. Si anak merasa bahwa dari sisi usia sudah cukup untuk berpacaran karena teman-temannya pun banyak yang melakukannya, dan sebentar lagi ia akan masuk Perguruan Tinggi. Jadi, menurut si anak, apa yang salah dari keinginannya tersebut?

Memang perlu diluruskan pemahaman tentang pacaran agar tidak sesat dalam menempuh jalannya. Pacaran adalah sebuah tugas perkembangan yang memang perlu dilalui oleh seorang remaja. Dalam pandangan Erikson, seorang ahli psikologi perkembangan, remaja perlu belajar mengenal lawan jenisnya, yang tentu saja tujuannya untuk memperluas pergaulan dan juga untuk mengembangkan pribadinya guna persiapan memasuki masa dewasa.

Dengan berpacaran, mereka akan belajar bagaimana membentuk komitmen dan juga membangun tanggung jawab pribadi.

Pacaran pada hakikatnya adalah proses untuk saling mengenal. Berpacaran adalah proses seseorang belajar give and take, belajar saling memberi dan menerima, serta memegang tanggung jawab. Tentu saja berbagai proses akan mereka tempuh hingga terbentuklah pemahaman yang berisi ‘saling’. Hal inilah yang tak jarang tidak dipahami banyak remaja.

Bagi mereka, pacaran adalah proses bersenang-senang dan proses untuk bisa diterima sebagai pribadi yang dewasa, untuk masuk dalam dunia orang dewasa termasuk di dalamnya mengenal seks. Inilah yang tidak terkomunikasikan antara remaja itu sendiri dan tentu saja orangtua atau bahkan guru sekalipun.

Bagaimana kemudian kita mendeteksi apakah pacaran kita cukup sehat atau tidak sehat? Berikut ini mari kita coba refleksikan:

• Berpacaran adalah proses yang saling mendewasakan. Tentu saja proses ini tidak akan pernah berjalan mulus, rasa cemburu, rasa ingin memiliki tak jarang membuat seseorang menjadi begitu over protective sehingga terjadi berbagai bentuk pelarangan. Semua ini akan dialami oleh para remaja tersebut hingga mereka menyadari bahwa pacaran bukanlah sesuatu yang mudah dijalani. Jika kemudian arahnya adalah kemampuan mengelola diri, memunculkan rasa tanggung jawab dan kemandirian maka pacaran telah cukup mendewasakan kita. Dalam berpacaran juga akan tumbuh rasa trust, saling ercaya yang memberikan ruang gerak dan kebebasan untuk bereksplorasi dan mendewasakan diri. Jika yang terjadi sebaliknya, sesuatu yang membuat kita merasa terkungkung, terbatasi ruang gerak dan kebebasan bahkan membatasi diri kita sendiri, maka itu bukanlah pacaran yang mendewasakan.

• Berpacaran adalah proses belajar untuk menghormati dan menghargai pasangan. Inilah yang menjadi kunci jawaban terhadap eksplorasi tentang seks. Bagi sebagian besar remaja, memberikan keperawanan dan keperjakaan kepada pasangan adalah sebuah bentuk pengorbanan dan perwujudan cinta. Namun, ini adalah sebuah bentuk nafsu yang dibalut dengan keinginan bawah sadar atau justru yang disadari untuk memanipulasi pasangan. Kenyataan inilah yang membungkamkan para orangtua dan para guru bahwa penelitian menunjukkan berapa banyak remaja dari SMP hingga SMA yang telah kehilangan keperawanan dan keperjakaan mereka. Pacaran menjadi media untuk bersama-sama belajar tentang seks dalam arti yang sesungguhnya sehingga yang muncul adalah kebanggaan karena telah selangkah lebih maju dibanding teman sebayanya. Tentu saja ini adalah pandangan yang salah. Pacaran yang menuntut hubungan badan atau sexual intercourse adalah sebuah kesalahan besar. Jika pasangan kita menuntut hal seperti ini maka ia hanya ingin memanfaatkan kita dan di dalamnya tidak ada penghormatan apalagi penghargaan.

• Berpacaran adalah proses yang membebaskan. Tak jarang rasa cinta yang begitu dalam justru membuat seseorang merasa begitu tercekam oleh rasa itu. Rasa ini kemudian dimaknai sebagai sebuah cinta yang mendalam dan tidak ada duanya. Namun, yang terjadi tak jarang justru terhambatnya rasionalitas dan objektivitas dalam berpikir dan bertindak. Rasa cinta yang begitu mecekam pada akhirnya hanya akan membuat diri sendiri tidak bisa berkutik dan bebas bereksplorasi. Rasa takut kehilangan, rasa ingin diperhatikan, dan rasa ingin selalu bertemu menjadi sebuah obsesi yang tiada ujung. Inilah yang membuat kita menjadi tidak terbebaskan karena terus-menerus dicekam oleh rasa ini. Kebebasan untuk mencintai dan mewujudkan cinta, yang bisa kita maknai sebagai cinta yang membebaskan. Pada dasarnya mencintai seseorang berarti juga memberi kesempatan bagi diri sendiri dan orang yang kita cintai untuk bebas, baik dalam bergaul maupun beraktivitas tanpa banyak kekhawatiran akan kekangan dan batasan untuk bertemu, untuk selalu merespons segala bentuk perhatian sekecil apa pun. Berpacaran adalah proses yang memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk lebih mengeksplorasi semua kemampuan yang dimiliki yang didasari oleh kebutuhan untuk mengembangkan diri dan membebaskan diri untuk mencari jatidiri.

• Berpacaran adalah proses untuk saling mengenal. Pacaran adalah proses bagi seseorang untuk mendalami bibit, bebet, dan bobot orang yang bersangkutan, menyamakan sikap dan pandangan, mencari titik temu dari berbagai perbedaan yang ada, serta kesediaan untuk menerima segala kekurangan yang dimiliki. Dalam berpacaran juga ada makna bahwa ada penerimaan tanpa banyak syarat dan tuntutan terhadap pasangan untuk mengubah dirinya sendiri dan menjadi orang lain. Tentu saja ini tidak sehat karena mengubah diri sendiri hanya untuk menyenangkan pihak lain, bukanlah sebuah proses yang sehat. Yang terjadi adalah proses pembungkaman terhadap identitas diri dan pertumbuhan diri. Jika dalam masa tersebut ada ketidakcocokan yang mengakibatkan perpisahan, maka baiknya ini dimaknai sebagai sebuah proses yang tidak perlu disesali. Yang terpenting adalah perpisahan tersebut diputuskan bersama, dengan tanpa banyak meninggalkan luka atau bahkan trauma. Namun, yang sering terjadi adalah luka yang menimbulkan kebencian karena tidak dilakukan secara elegan dan fair.

• Pada akhirnya, jodoh ada di tangan Tuhan. Pacaran adalah sebuah proses, bukanlah tujuan akhir dari sebuah relasi. Memberi dan menerima, belajar dan melatih diri untuk menjadi lebih dewasa adalah esensi dari hubungan itu sendiri. Menunjukkan kepercayaan dan tanggung jawab kepada orangtua akan memberikan keyakinan kepada orangtua kita sendiri bahwa kita sudah siap untuk dipercaya dan pasangan kita juga bisa dipercaya. Namun, jika kita tidak mampu membuktikan kepercayaan tersebut, jangan pernah menyesal bahwa sampai kapan pun akan sulit buat orangtua kita memberikan kepercayaan kepada diri kita. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga.

Th. Dewi Setyorini




Kunjungan: 3417
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com