Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pastoral dan Manajemen - Hidup Katolik

Pastoral dan Manajemen

Jumat, 10 Agustus 2012 10:59 WIB
Pastoral dan Manajemen
[Ilustrasi/HIDUP]

HIDUPKATOLIK.com - Bisakah pastoral menggunakan manajemen? Cocokkah manajemen dalam kegiatan pastoral? Ilmu manajemen adalah pengetahuan mengenai bagaimana mencapai suatu tujuan organisasi melalui banyak orang. Pengetahuan manajemen dapat diartikan sebagai kumpulan konsep, strategi, metode, dan teknik bagaimana menggerakkan banyak orang untuk mencapai suatu tujuan.

Manajemen, dengan demikian, mengasumsikan bahwa ada suatu tujuan tertentu. Juga terkandung pengertian, ada orang-orang yang perlu digerakkan untuk bertindak sehingga tujuan tersebut tercapai. Caranya? Langkah-langkah utama proses manajemen yang terkenal adalah yang disebut siklus manajemen: Perencanaan-Pengorganisasian-Pembangkitan/Pemberdayaan-Pengendalian.

Perencanaan adalah proses merencanakan tujuan itu akan dicapai dalam berapa tahap, membutuhkan waktu berapa lama, dengan cara seperti apa, dengan mengerahkan sumber daya sebesar apa, dsb. Pengorganisasian adalah mengenai pengaturan orang-orang, pembagian tugas dan tanggung jawab. Agar tugas dan tanggung jawab tersebut jelas mekanisme pelaksanaannya, disusunlah struktur organisasi. Dengan pengorganisasian yang baik, setiap orang mengetahui peranan dan kontribusinya untuk ikut mencapai tujuan bersama. Pemberdayaan adalah mengenai bagaimana menyosialisasikan tujuan dan rencana mencapai tujuan, bagaimana menggerakkan orang-orang sehingga memiliki pengertian yang sama mengenai tujuan. Juga agar mereka mempunyai gairah yang serupa dalam berjalan bersama mencapai tujuan. Jika terjadi penyimpangan, di­butuhkan langkah pengendalian. Pengendalian juga dapat menghasilkan kesimpulan bahwa rencana perlu di­modifikasi. Dan untuk itu, kembali lagi pada langkah perencanaan, namun untuk dimensi dan sektor yang berbeda. Demikian seterusnya siklus pengelolaan/manajemen tersebut berjalan.

Karena berkembang dan seakan melekat dalam konteks organisasi bisnis, orientasi manajemen cenderung mengikuti orientasi dasar bisnis: efisiensi, efektifitas, mengutamakan hasil ketimbang proses. Kalaupun memperhatikan proses, itu juga demi membuahkan kuali­tas hasil seperti yang direncanakan. Tidak heran ji­ka dalam perencanaan diutamakan kejelasan. Sasaran mesti terukur. Dalam pengorganisasian diutamakan tanggung jawab yang jelas dan jalur komando yang tegas. Timbul yang disebut hirarki organisasi. Dikenal pula yang banyak disebut sebagai uraian pekerjaan/“job description”. Dalam pemberdayaan, bisa jadi perintah lebih berperan daripada kesadaran diri sendiri. Kecepatan orang untuk bergerak ikut berkontribusi dalam pencapaian tujuan dijadikan tolok ukur untuk menilai seberapa “baik”(berguna) orang tersebut bagi perusahaan. Dalam pengendalian, cukup sering jalur komando yang dijadikan pegangan. Terasa sekali di si­tu adanya hirarki, ada yang memegang kewenangan atau kekuasaan yang posisinya lebih tinggi dan mengatur orang lain yang berada di bawahnya.

Bagaimana mengenai kegiatan pastoral di lingkungan gereja? Kegiatan pastoral timbul bukan pertama-tama demi mencapai suatu target tertentu. Pada dasarnya ia merupakan pengejawantahan iman dari banyak orang yang tergabung dalam sebuah “organisasi” yang di­sebut Gereja. Apakah tidak berarti bahwa sebuah Gereja (dalam arti sebuah keuskupan atau paroki atau bahkan komunitas kategorial tertentu) tidak mempunyai tujuan? Untuk zaman sekarang, agak susah membayangkan jika sebuah unit Gereja tidak mempunyai sedikit banyak kegiatan untuk mencapai sasaran tertentu. Mungkinkah melakukan perencanaan tujuan sebuah Gereja? Dalam istilah perencanaan manajemen yang strategis, istilah customer menduduki peranan penting. Begitu juga “bidang usaha” perusahaan, atau menurut guru manajemen Peter F. Drucker “what business are we in?”. Bisakah Gereja merumuskan siapa “customer”-nya? Perlukah Gereja mendefini­si­kan bidang usahanya?

Dalam soal pengorganisasian, yang langsung tergambar di benak kita adalah sebuah struktur organisasi yang berbentuk hirarki, dari atas ke bawah. Yang di atas lebih kecil sehingga umumnya berbentuk mirip piramida. Pertanyaan yang relevan: apakah Gereja memang sebuah organisasi? Jika ia sebuah organisasi, apakah berbentuk hirarki yang menonjol garis komandonya? Apakah gambaran struktur seperti itu tepat untuk mendeskripsikan semangat pastoral? Bagaimana mendorong dan memotivasi para karyawan “organisasi” Gereja, yaitu para pengurus Dewan Paroki, lingkungan yang pada dasarnya adalah para sukarelawan? Bagaimana mengendalikan para sukarelawan itu dengan segala kiat dan metode yang dikenal di dalam manajemen?

Kiat-kiat perencanaan dalam siklus manajemen tampaknya dapat membantu sebuah Gereja menentukan apa yang akan diperbuatnya dalam kurun waktu tertentu. Ilmu organisasi dalam manajemen pastilah dapat membantu merumuskan bagaimana gambaran struktur yang pas untuk sebuah kumpulan orang yang disebut Gereja. Konsep pengorganisasian manajemen perlu di­beri warna semangat pastoral untuk merumuskan pembagian tugas dan tanggung jawab yang pas antara uskup, komisi, pastor paroki, unit-unit kerja yang lain, dan seterusnya.

Yang diperlukan, penggabungan konsep pastoral dengan konsep manajemen. Atau, meminjam istilah yang sempat terkenal dalam era Orde Baru, bagaimana “mempastoralkan manajemen dan memanajemeni pastoral”.

Sunar Wibowo
Komisaris PT IISA Visi Waskita dan konsultan SDM




Kunjungan: 1153
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com